Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kian memicu kekhawatiran global, terutama terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Di Filipina, lonjakan harga BBM memicu aksi mogok massal oleh koalisi transportasi dan angkutan umum.
Dampaknya, ribuan pekerja dan pelajar terpaksa berjalan kaki karena layanan transportasi lumpuh.
Kemudian Vietnam menghadapi tekanan ekonomi akibat kelangkaan energi, yang kini merembet ke sektor transportasi dan pariwisata.
Keterbatasan pasokan bahan bakar yang sebagian masih bergantung pada impor telah memaksa Vietnam Airlines membatalkan puluhan penerbangan domestik sejak April.
Otoritas penerbangan nasional Vietnam mengatakan bahwa maskapai penerbangan nasional akan menangguhkan hampir dua lusin penerbangan domestik setiap minggu mulai bulan depan karena keterbatasan pasokan bahan bakar.
Maskapai penerbangan di Vietnam sedang mempertimbangkan untuk menambahkan biaya tambahan bahan bakar pada rute internasional yang mungkin akan diterapkan pada April 2026.
Gangguan jalur penerbangan internasional, terutama yang transit di Timur Tengah, turut memicu pembatalan massal wisatawan Eropa.
Dampaknya meluas ke sektor perhotelan dan jasa, dengan tingkat hunian hotel menurun tajam, khususnya di kawasan wisata seperti Hanoi.
Meski demikian, Vietnam masih memiliki tingkat ketahanan relatif berkat pasokan listrik domestik dari tenaga air dan gas alam, serta jaringan mitra energi seperti Rusia, Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan.
Menghadapi tekanan kenaikan harga minyak global, pemerintah Vietnam secara fleksibel menggunakan berbagai instrumen seperti Dana Stabilisasi Harga Bahan Bakar, penyesuaian pajak dan biaya, serta pengendalian siklus penyesuaian harga untuk membatasi "guncangan" terhadap pasar domestik.
Bersamaan dengan itu, pasokan dipastikan melalui koordinasi antara impor dan produksi kilang domestik.
Dari sisi permintaan, Vietnam mempromosikan solusi hemat energi dan meningkatkan efisiensi di sektor industri dan perumahan.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengatakan Jepang akan memanfaatkan cadangan minyak gabungan yang dimiliki oleh negara-negara penghasil minyak di negara tersebut pada akhir Maret 2026, seiring Tokyo meningkatkan langkah-langkah darurat untuk mengimbangi kehilangan pasokan dari Timur Tengah.
Kontribusi Jepang terhadap pelepasan cadangan minyak dalam jumlah rekor yang dikoordinasikan oleh Badan Energi Internasional (IEA) akan mencapai hampir 80 juta barel, yang sebagian besar terdiri dari minyak mentah.
Selain itu, sekitar 13 juta barel, atau total pasokan selama tujuh hari, dipegang bersama di Jepang oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.
Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan kebijakan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) imbas ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian menyatakan, kebijakan WFH satu hari dalam sepekan bagi ASN dan pekerja swasta kini tinggal menunggu arahan Presiden Prabowo Subianto.
Tito pun memberikan jaminan bahwa penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik di daerah tidak akan terganggu oleh rencana kebijakan tersebut.
Kebijakan yang bertujuan untuk efisiensi konsumsi BBM ini dipastikan tetap mengedepankan operasional layanan esensial yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Meski WFH akan diterapkan secara luas, Tito mengingatkan bahwa sektor-sektor vital tidak diperbolehkan menghentikan layanan tatap muka demi keselamatan dan kebutuhan publik.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto memerintahkannya untuk mencari pasokan minyak ke berbagai negara.
Ia menyebut, pemerintah akan menjaga harga, cadangan, dan pasokan energi untuk masyarakat dalam kondisi yang hampir semua dunia terdampak imbas perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel vs Iran.
Bahlil bersyukur bahwa di tengah kondisi geopolitik yang bergejolak seperti saat ini, pasokan BBM di Indonesia masih terpenuhi dengan baik.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan berpotensi memperburuk kondisi pasokan energi global dan memicu krisis ekonomi yang lebih luas.
Ia menambahkan, saat energi mulai langka dan harganya akan semakin sulit dikendalikan hingga pada akhirnya inflasi global yang baik tajam tidak bisa dibendung.
Menurut Nailul, kondisi ini akan memberikan tekanan besar bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi, termasuk Indonesia yang saat ini berstatus sebagai net importir minyak mentah.
Ia menyatakan, pemerintah harusnya khawatir terkait dengan cadangan energi nasional dan dampak dari perang di Timur Tengah tersebut.
Ia menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik, terutama dalam mengantisipasi lonjakan harga energi dan dampaknya terhadap inflasi.
Nailul menerangkan, tanpa langkah mitigasi yang cepat dan terukur, dampak krisis energi global berpotensi menjalar ke berbagai sektor, mulai dari industri hingga daya beli masyarakat.
Pemerintah pun didorong untuk segera menyiapkan kebijakan antisipatif guna menjaga ketahanan energi dan stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Saksikan LIVE UPDATE selengkapnya hanya di YouTube Tribunnews!