Meski Presiden Donald Trump memberi ultimatum, AS enggan gunakan militer karena risiko besar dan fokus pada melemahkan kemampuan strategis Iran.
SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON DC - Ketegangan di Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026, menimbulkan dampak besar terhadap jalur perdagangan minyak dan gas dunia.
Iran diketahui menargetkan kapal-kapal dagang yang melintas di jalur vital tersebut, sehingga arus distribusi energi terganggu dan memicu krisis global.
Meski Presiden Donald Trump telah mengeluarkan ultimatum kepada Iran, Amerika Serikat belum mengambil langkah militer langsung untuk membuka kembali jalur pelayaran ini.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan, melainkan didasari pertimbangan strategis dan risiko besar yang menyertai operasi militer di kawasan tersebut.
Menurut analis militer Jennifer Parker, fokus utama AS saat ini adalah melemahkan kemampuan strategis Iran, khususnya program nuklir dan rudal balistik.
Selain itu, jaringan proksi Iran di berbagai wilayah juga menjadi target prioritas.
Baca juga: Donald Trump Mau Ganti Nama Selat Hormuz Menjadi ‘Selat Amerika’ atau ‘Selat Trump’, Apa Alasannya?
Mengalihkan sumber daya militer untuk mengamankan Selat Hormuz dinilai dapat mengganggu pencapaian tujuan utama tersebut.
Karena operasi terhadap target strategis membutuhkan kekuatan udara, intelijen, dan persenjataan dalam jumlah besar.
Mengamankan Selat Hormuz juga bukan sekadar mengerahkan kapal perang.
AS harus mengendalikan wilayah daratan di sekitar selat, terutama garis pantai Iran yang menjadi titik peluncuran serangan.
Hal ini berpotensi memerlukan pengerahan pasukan darat atau serangan terbatas ke wilayah Iran, langkah yang sangat berisiko dan bisa memperluas konflik.
Selain itu, setiap misi pengawalan kapal dagang membutuhkan satu hingga dua kapal perang.
Dengan konvoi besar, risiko serangan dari Iran semakin tinggi, kecuali kemampuan serangan Teheran berhasil dilemahkan terlebih dahulu.
Baca juga: Pertamina Pastikan Stok BBM di Aceh Aman di Tengah Isu Penutupan Selat Hormuz
Risiko terhadap personel militer juga menjadi pertimbangan utama.
Setiap kapal perang AS membawa lebih dari 200 personel, sementara Iran masih memiliki kemampuan menyerang dengan drone, rudal, dan kapal tanpa awak.
Kondisi ini membuat pengerahan kapal perang berpotensi menimbulkan kerugian besar.
Ancaman tambahan berupa ranjau laut juga tidak bisa diabaikan.
Meski sekadar menciptakan persepsi adanya ranjau, hal itu sudah cukup membuat kapal sipil enggan melintas.
Proses pembersihan ranjau sendiri bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
Dengan berbagai faktor tersebut, AS memilih untuk menahan diri dan tidak langsung menggunakan kekuatan militer untuk membuka Selat Hormuz.
Strategi ini mencerminkan kehati-hatian Washington dalam menghadapi konflik yang kompleks.
Baca juga: Iran Izinkan 10 Kapal Melintas di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Melemah
Di mana setiap langkah militer berisiko memperluas perang dan menimbulkan dampak besar bagi stabilitas global.
Untuk saat ini, fokus AS tetap pada melemahkan kemampuan strategis Iran sambil menekan dampak krisis energi melalui jalur diplomasi dan koordinasi dengan sekutu internasional.(*)