TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Geliat pariwisata di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur kian menunjukkan taringnya.
Lonjakan pelancong yang membanjiri destinasi unggulan di Benua Etam ini tak hanya membawa angin segar bagi ekonomi kerakyatan, tetapi juga menuntut kesigapan dalam menjaga kelestarian alam.
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Samsiah Nawir, mengungkapkan bahwa sektor kuliner, akomodasi, hingga jasa transportasi kini tengah menikmati masa "panen".
Namun, di balik pundi-pundi rupiah yang mengalir, terdapat strategi besar yang tengah dirajut untuk menjaga napas pariwisata tetap berkelanjutan.
Baca juga: 10 Tempat Makan Mie Ayam Populer di Balikpapan, Cocok untuk Santap Keluarga dan Wisata Kuliner
Setidaknya, terdapat 3 faktor utama yang menjadi mesin pendongkrak sekaligus penjaga ritme wisata di Berau saat ini:
1. Diversifikasi Akomodasi: Tren Glamping dan Camping
Menyikapi lonjakan wisatawan yang bersifat musiman, Disbudpar Berau mulai melirik konsep hunian alternatif yang lebih menyatu dengan alam.
Kehadiran area glamping (glamour camping) dan camping ground dinilai menjadi magnet baru, terutama bagi segmen backpacker.
Ini menjadi peluang usaha yang sangat prospektif bagi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) bekerja sama dengan BUMK.
Selain praktis dan terjangkau, fasilitas seperti toilet portabel dan amenitas pendukung lainnya.
"Terus kita siapkan agar kenyamanan tetap terjaga,” ujar Samsiah kepada TribunKaltim.co, Minggu (29/3/2026).
2. Manajemen Alur Wisata dan Konservasi Ketat
Faktor kedua adalah penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang tegas, terutama di kawasan sensitif seperti Labuan Cermin.
Pembatasan jumlah dan durasi kunjungan menjadi harga mati untuk memastikan vegetasi dan ekosistem tetap perawan.
Perlu ada pengaturan alur masuk dan keluar. Misalnya, kunjungan dibatasi maksimal 2 hingga 3 jam, dengan kapasitas maksimal 100 orang dalam satu waktu.
"Ini penting agar tidak terjadi kepadatan berlebih yang berpotensi merusak lingkungan,” tegasnya.
3. Edukasi Kolektif dan Tata Kelola Sampah Real-Time
Peningkatan kunjungan berbanding lurus dengan volume sampah.
Oleh karena itu, faktor ketiga yang menjadi kunci adalah kesadaran kolektif antara pelaku usaha dan pengunjung.
Pengelolaan sampah kini dituntut untuk bergerak lebih cepat agar tidak terjadi penumpukan yang mengganggu estetika.
Baca juga: Disbudpar Bangun Sistem Data Wisata Terpadu, Melalui Sidewi dan Jelajah Pariwisata Berau
Masyarakat lokal harus bisa memberi contoh. Pengelolaan sampah harus siap dan tertata, jangan sampai ada penumpukan dalam satu hari.
"Kita ingin wisatawan melihat Berau yang bersih meski pengunjung sedang membeludak,” tambahnya.
Bagi Samsiah, muara dari seluruh strategi ini adalah keseimbangan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Pariwisata Berau tidak boleh hanya mengejar angka, melainkan harus tumbuh secara berkualitas tanpa mengorbankan warisan alam bagi generasi mendatang.
“Yang terpenting adalah harmoni; bagaimana wisata tetap berjalan, ekonomi masyarakat meningkat pesat, namun wajah alam Berau tetap asri dan terjaga,” pungkasnya menutup perbincangan. (*)