Iran Serang Pesawat AWACS AS, Target Militer Amerika di Timur Tengah Terus Bertambah
SERAMBINEWS.COM – Konflik antara Amerika Serikat dan Iran terus memanas setelah laporan terbaru menyebutkan Iran berhasil menyerang pesawat sistem peringatan dini udara milik AS atau AWACS.
Pesawat yang diserang adalah E-3 Sentry, sistem radar terbang canggih yang berfungsi melacak drone, rudal, dan pesawat dari jarak ratusan kilometer.
Selain itu, serangan juga dilaporkan merusak pesawat tanker pengisian bahan bakar udara jenis KC-135 di pangkalan militer di Arab Saudi.
Baca juga: Iran Desak Keluar dari Perjanjian Nuklir, Serangan AS-Israel Picu Ketegangan Baru
Serangan tersebut menyebabkan sedikitnya 15 tentara Amerika terluka, dengan beberapa di antaranya dalam kondisi serius.
Meski belum dikonfirmasi secara resmi oleh pihak militer AS, laporan menyebutkan kerusakan pada pesawat AWACS dapat berdampak signifikan terhadap kemampuan pengawasan dan koordinasi udara Amerika.
Para analis menilai hilangnya sistem seperti E-3 Sentry akan menciptakan celah dalam pemantauan medan perang, sehingga mengurangi efektivitas operasi militer.
Pesawat AWACS sendiri merupakan salah satu komponen penting dalam strategi militer modern, karena mampu memberikan peringatan dini dan mengoordinasikan serangan udara secara real-time.
Sejak perang dimulai pada akhir Februari, Iran tidak hanya menargetkan Israel, tetapi juga memperluas serangan ke pangkalan-pangkalan militer AS di berbagai negara Teluk.
Baca juga: AS Targetkan Operasi Militer Darat di Iran Selama Berminggu-minggu
Beberapa negara yang terdampak antara lain Uni Emirat Arab, Bahrain, Yordania, dan Kuwait.
Iran juga dilaporkan berhasil merusak sistem pertahanan udara canggih seperti THAAD serta menghancurkan sejumlah drone MQ-9 Reaper milik AS.
Bahkan, laporan menyebut sekitar 12 drone telah hilang selama konflik berlangsung.
Selain itu, Iran mengklaim telah menargetkan pesawat tempur AS, termasuk F-15 dan F-35, meskipun klaim tersebut belum sepenuhnya dikonfirmasi oleh pihak Amerika.
Serangan-serangan ini menunjukkan strategi perang asimetris Iran yang berfokus pada melemahkan kekuatan udara dan sistem pendukung militer AS.
Baca juga: Serangan Rudal Iran Hancurkan E-3G Sentry Pesawat Komando Udara AS di Arab Saudi
Di sisi lain, konflik juga berdampak pada sektor energi global.
Iran dilaporkan memperketat kontrol di Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global, sehingga memicu lonjakan harga minyak dunia.
Selain itu, kerusakan terhadap berbagai fasilitas militer AS diperkirakan mencapai ratusan juta dolar.
Sementara itu, laporan juga menyebut persediaan rudal Amerika mulai menipis setelah penggunaan intensif selama konflik.
Di tengah situasi ini, wacana invasi darat oleh AS ke Iran kembali mencuat sebagai kemungkinan eskalasi berikutnya.
Hingga kini, konflik telah menelan korban besar, dengan sedikitnya 13 tentara AS tewas dan ratusan lainnya terluka.
Di pihak Iran, ribuan warga dilaporkan tewas dan puluhan ribu lainnya mengalami luka-luka.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa perang tidak hanya semakin meluas, tetapi juga semakin kompleks dengan dampak besar bagi stabilitas kawasan dan dunia.
Baca juga: Trump Isyaratkan Kuba Jadi Target Berikutnya Usai Serang Venezuela dan Iran