AS Siapkan Rencana Invasi Darat ke Iran, Teheran Ancam 'Bakar Pasukan Amerika'?
SERAMBINEWS.COM – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat setelah muncul laporan bahwa Pentagon telah menyusun rencana invasi darat ke wilayah Republik Islam tersebut.
Dilansir melalui GB News (30/3/2026), rencana ini tengah dipersiapkan sebagai bagian dari opsi militer jika konflik terus memburuk.
Sejumlah pejabat pertahanan Amerika Serikat disebut telah merancang skenario operasi darat yang dapat berlangsung selama beberapa minggu hingga beberapa bulan.
Ribuan tentara dan Marinir AS kini mulai dikerahkan ke kawasan Timur Tengah untuk mendukung kemungkinan eskalasi tersebut.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan bukan invasi besar-besaran, melainkan operasi terbatas untuk merebut Pulau Kharg yang menjadi pusat ekspor minyak utama Iran di Teluk Persia.
Baca juga: Iran Desak Keluar dari Perjanjian Nuklir, Serangan AS-Israel Picu Ketegangan Baru
Selain itu, Pentagon juga mempertimbangkan serangan ke wilayah pesisir dekat Selat Hormuz guna menghancurkan sistem persenjataan Iran yang dianggap mengancam kapal militer dan komersial.
Namun, rencana ini masih bersifat sangat rahasia dan belum diputuskan secara resmi oleh Presiden Donald Trump.
Gedung Putih menegaskan bahwa penyusunan rencana tersebut merupakan bagian dari kesiapan militer, bukan keputusan final untuk melancarkan invasi.
Di sisi lain, Iran merespons keras wacana tersebut.
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa pasukan Iran siap menghadapi invasi dan bahkan mengancam akan “membakar pasukan Amerika” jika mereka benar-benar mendarat.
Ia menegaskan bahwa rudal dan kekuatan militer Iran telah disiagakan, serta mengklaim bahwa pihaknya memahami kelemahan militer AS.
Baca juga: AS Targetkan Operasi Militer Darat di Iran Selama Berminggu-minggu
Sementara itu, Amerika telah mengirim Unit Ekspedisi Marinir ke-31 yang terdiri dari sekitar 2.200 personel untuk memperkuat posisi di kawasan.
Pasukan ini dikenal memiliki kemampuan melakukan serangan amfibi cepat ke wilayah pesisir.
Meski demikian, para analis militer memperingatkan bahwa operasi semacam ini sangat berisiko.
Ancaman dari drone, rudal, serta serangan darat Iran dapat membuat pasukan AS rentan, terutama jika operasi dilakukan di wilayah sempit seperti Pulau Kharg.
Konflik yang telah berlangsung sejak peluncuran operasi militer besar sebelumnya juga telah menelan korban di pihak Amerika.
Baca juga: Iran Siap Hadapi Serangan Darat AS, Siapkan Hingga Satu Juta Kombatan
Setidaknya 13 personel militer AS dilaporkan tewas dalam berbagai insiden, termasuk serangan drone dan kecelakaan militer di kawasan Timur Tengah.
Meski Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan bahwa AS dapat mencapai tujuannya tanpa invasi darat, opsi tersebut tetap menjadi bagian dari strategi militer.
Jika invasi benar-benar terjadi, para pengamat menilai hal itu akan menjadi eskalasi besar yang dapat memperluas konflik dan meningkatkan risiko perang regional yang lebih luas.
Baca juga: Trump Isyaratkan Kuba Jadi Target Berikutnya Usai Serang Venezuela dan Iran