SURYA.co.id, SURABAYA - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah akibat konflik Iran dan Israel mulai diwaspadai berdampaknya terhadap dunia usaha, termasuk perusahaan daerah di Jawa Timur.
Manajemen PT Panca Wira Usaha (PWU) Jawa Timur menjadi salah satu pihak yang mencermati potensi dampak tersebut, terutama terkait fluktuasi nilai tukar mata uang asing dan harga minyak dunia.
Direktur Utama PT PWU Jawa Timur, Erlangga Satriagung, mengatakan konflik yang terjadi berpotensi mempengaruhi hampir seluruh sektor ekonomi.
“Kalau itu berpengaruh pada nilai tukar asing dan harga minyak dunia, maka hampir tidak ada sektor yang tidak terdampak, termasuk perusahaan,” ujar Erlangga, Minggu (29/3/2026).
Menurutnya, dampak tersebut sangat terasa bagi perusahaan yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Pasalnya, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan berdampak langsung pada biaya produksi.
Baca juga: OPD Pemprov Jatim Hemat Penggunaan Listrik dan Air, Batasi Penggunaan AC Hingga Lift Pegawai
Erlangga menjelaskan, sejumlah anak perusahaan PWU saat ini masih mengandalkan pasokan bahan baku dari luar negeri.
Kondisi ini membuat perusahaan cukup rentan terhadap gejolak global, terutama ketika terjadi lonjakan nilai tukar.
“Kalau nilai dolar naik atau rupiah melemah, sementara kontrak dengan pihak ketiga sudah ditetapkan, tentu ada potensi kerugian,” katanya.
Ia menyebutkan, beberapa anak perusahaan yang masih melakukan impor bahan baku di antaranya adalah PT Loka Refractories Wira Jatim dan PT Karet Ngagel Surabaya Wira Jatim.
Meski demikian, Erlangga menilai dampak yang dirasakan hingga saat ini masih relatif terkendali.
Namun, ia tidak menampik adanya kenaikan harga pada sejumlah komoditas impor.
“Untuk saat ini masih relatif aman, meskipun ada kenaikan harga bahan baku impor sekitar 10 sampai 15 persen,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mengaku masih menunggu perkembangan terbaru, terutama setelah harga minyak dunia sempat melonjak hingga menyentuh kisaran 120 dolar AS per barel akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
“Untuk kenaikan setelah harga minyak dunia mencapai sekitar 120 dolar per barel, kami masih menunggu informasi lebih lanjut,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, manajemen PWU mulai mendorong seluruh anak perusahaan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah mencari alternatif bahan baku dari dalam negeri.
Erlangga mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan jajaran manajemen untuk segera melakukan penyesuaian strategi tersebut.
“Saya sudah berbicara dengan manajemen agar mulai mencari substitusi bahan baku impor dengan produk lokal,” ujarnya.
Selain itu, tim riset dan pengembangan atau research and development (R&D) juga telah dilibatkan untuk mengkaji kemungkinan penggunaan bahan baku lokal sebagai pengganti impor.
“Tim R&D juga sedang bekerja untuk mencari kemungkinan tersebut,” tambahnya.
Menurut Erlangga, ketergantungan terhadap bahan baku impor tidak hanya berdampak pada kenaikan harga, tetapi juga berpotensi mengganggu rantai pasok apabila terjadi hambatan distribusi global.
Ia mencontohkan, konflik geopolitik dapat memicu gangguan pada jalur pelayaran internasional, yang pada akhirnya berdampak pada keterlambatan pasokan bahan baku ke dalam negeri.
“Risikonya bukan hanya harga, tapi juga distribusi. Kalau jalur pelayaran terganggu, itu bisa berdampak pada produksi,” jelasnya.
Meski dihadapkan pada berbagai potensi risiko tersebut, hingga saat ini manajemen PWU belum melakukan revisi terhadap target kinerja perusahaan pada tahun 2026.
Erlangga menyebut, pihaknya masih memilih untuk memantau perkembangan situasi global sebelum mengambil langkah strategis lebih lanjut.
“Kami masih melihat perkembangan ke depan. Mudah-mudahan konflik ini segera mereda sehingga harga komoditas bisa kembali stabil,” pungkasnya.