Oleh: Desri Rahmadini, Mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bangka Belitung
SELAMA ini, dunia anak sering dipandang sebagai ruang yang sederhana, penuh keceriaan, dan jauh dari kerumitan kehidupan sosial. Anak dianggap hanya menjalani masa bermain tanpa benar-benar bersentuhan dengan kenyataan yang rumit. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Film Na Willa diadaptasi dari novel yang di tulis oleh Rada Gaudiamo dan di sutradarai oleh Ryan Adriandhy, justru menghadirkan gambaran yang berbeda, bahwa kehidupan anak tidak sepenuhnya terlepas dari pengaruh lingkungan sosial di sekitarnya. Melalui pengalaman tokoh utamanya, film ini menunjukkan bagaimana anak secara perlahan mulai mengenali nilai, norma, dan perubahan sosial yang terjadi di sekelilingnya. Hal ini mengingatkan kita bahwa dunia anak sebenarnya tidak sesederhana yang selama ini dibayangkan.
Film Na Willa menegaskan bahwa dunia anak merupakan hasil konstruksi sosial yang dibentuk melalui proses sosialisasi, di mana imajinasi berfungsi sebagai cara anak memahami realitas sosial yang terus berubah.
Dalam sudut pandang sosiologi, anak adalah individu yang sedang mengalami proses sosialisasi, yaitu proses belajar nilai dan norma dalam masyarakat. Film ini memperlihatkan bagaimana keluarga menjadi agen sosialisasi utama yang membentuk dasar perilaku anak. Sikap orang tua dalam mengarahkan, menasihati, bahkan membatasi anak menunjukkan bahwa sejak dini individu sudah diperkenalkan pada aturan sosial. Hal ini menegaskan bahwa pembentukan kepribadian anak tidak terjadi secara alami semata, melainkan dipengaruhi oleh lingkungan sosial terdekatnya.
Selain keluarga, lingkungan pertemanan juga memiliki peran penting dalam membentuk identitas sosial anak. Menurut Charles Horton Cooley melalui konsep looking glass self (cermin diri) menjelaskan bahwa individu membentuk gambaran dirinya berdasarkan bagaimana ia merasa dilihat oleh orang lain. Dalam film Na Willa, interaksi antar anak memperlihatkan bagaimana tokoh utama mulai memahami dirinya melalui respon teman-temannya, seperti penerimaan, penolakan, maupun pujian. Dari sini, anak belajar menilai dirinya sendiri berdasarkan cerminan sosial yang ia terima. Hal ini menunjukkan bahwa identitas anak tidak terbentuk secara mandiri, melainkan melalui interaksi sosial yang terus berlangsung.
Menariknya, film ini juga menampilkan imajinasi anak sebagai elemen penting dalam memahami realitas sosial. Imajinasi yang sering dianggap sekadar khayalan ternyata memiliki fungsi sosial. Ketika anak menghadapi situasi yang belum sepenuhnya ia pahami, imajinasi menjadi alat untuk menafsirkan pengalaman tersebut. Dengan kata lain, imajinasi merupakan jembatan antara dunia subjektif anak dan realitas sosial yang objektif.
Selain itu, film ini juga memperlihatkan adanya perubahan sosial yang memengaruhi kehidupan anak. Perubahan tersebut dapat berupa pola pikir orang dewasa, aturan sosial yang semakin kompleks, maupun nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat. Anak yang awalnya hidup dalam dunia sederhana perlahan dihadapkan pada realitas yang menuntut penyesuaian diri. Kondisi ini menunjukkan bahwa proses tumbuh kembang anak tidak hanya bersifat biologis, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh dinamika sosial.
Sebagian orang beranggapan bahwa dunia anak seharusnya dijaga agar tetap bebas dari pengaruh realitas sosial yang kompleks. Anak dianggap cukup menjalani masa bermain tanpa perlu dibebani oleh norma dan aturan yang kaku. Namun, pandangan ini kurang tepat karena mengabaikan fakta bahwa proses sosialisasi sudah dimulai sejak usia dini. Tanpa adanya pengenalan terhadap nilai dan norma, anak justru akan mengalami kesulitan dalam beradaptasi ketika memasuki kehidupan sosial yang lebih luas. Oleh karena itu, keterlibatan lingkungan sosial dalam kehidupan anak bukanlah ancaman, melainkan kebutuhan.
Film Na Willa memberikan gambaran bahwa dunia anak bukanlah ruang yang terpisah dari realitas sosial, melainkan bagian penting dalam proses pembentukan individu. Melalui interaksi, pengalaman, dan imajinasi, anak belajar memahami dunia yang terus berkembang. Kesadaran akan hal ini menjadi penting bagi masyarakat agar lebih bijak dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak. Dengan lingkungan yang mendukung, anak tidak hanya mampu berimajinasi, tetapi juga dapat tumbuh menjadi individu yang adaptif dan siap menghadapi perubahan sosial di masa depan. (*/E0)