Dokter Paru Jelaskan Kaitan Campak dengan Pneumonia yang 'Lumpuhkan' Paru-paru
GH News March 30, 2026 03:09 PM
Jakarta -

Kasus seorang dokter internship yang meninggal diduga akibat campak menyoroti bahaya penyakit ini. Dalam keterangan Kementerian Kesehatan RI, dokter tersebut meninggal setelah mengalami pneumonia yang menjadi salah satu komplikasi berat campak.

Campak bukan penyakit kulit dengan demam dan bercak merah biasa. Penyakit ini termasuk infeksi virus saluran pernapasan yang sangat agresif.

Dokter spesialis paru Prof Erlina Burhan, SpP menjelaskan pneumonia atau radang paru merupakan komplikasi berat yang paling sering terjadi pada pasien campak, terutama pada anak-anak dengan daya tahan tubuh rendah atau yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

Namun orang dewasa juga berisiko mengalaminya. Dalam sebuah studi medis yang dilaporkan di Vietnam Medical Journal, sekitar 27,2 persen pasien dewasa yang terinfeksi campak mengalami pneumonia.

"Ini membuktikan bahwa campak dan komplikasinya tidak pandang usia," jelas Prof Erlina dalam utasan di X dikutip atas izin yang bersangkutan, Senin (30/3/2026).

Campak Bisa 'Lumpuhkan' Paru karena Komplikasi Pneumonia

Prof Erlina menjelaskan virus campak masuk ke tubuh melalui droplet pernapasan. Setelah menginfeksi tenggorokan, virus ini tidak berhenti di sana. Ia masuk ke aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh, termasuk sistem pernapasan bawah yang memicu peradangan hebat hingga paru terisi cairan dan pasien mengalami gagal napas.

Namun, yang sering kali menjadi petaka adalah kemampuan virus campak dalam melumpuhkan sistem imun sementara, sebuah fenomena yang dikenal sebagai immune amnesia. Saat pertahanan tubuh sedang lumat akibat serangan campak, bakteri berbahaya seperti Streptococcus pneumoniae menjadi jauh lebih mudah masuk dan menjajah paru-paru.

"Kondisi ini tidak hanya menyebabkan peradangan berat, tetapi juga menyebabkan paru-paru kehilangan kemampuan untuk bertukar oksigen secara optimal," beber Prof Erlina.

Pneumonia akibat campak adalah penyebab kematian nomor satu pada anak-anak pasien campak di negara berkembang. Komplikasi ini jauh lebih berisiko pada anak yang mengalami malnutrisi atau kekurangan Vitamin A.

Prof Erlina mengingatkan bahwa mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Vaksin campak adalah solusi paling bijak dan efektif untuk mencegah penularan

"Vaksin ini adalah benteng pertahanan yang melatih tubuh untuk mengenali dan melawan virus sebelum ia sempat menghancurkan sistem kekebalan," tegasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.