Oleh: MS Tahir
Dosen IAIN Manado
SETELAH Lebaran 2026 berlalu, Kota Manado, Sulawesi Utara, kembali hidup dengan ritmenya.
Bandara Sam Ratulangi, pelabuhan, dan terminal yang sebelumnya dipadati pemudik, kini kembali ramai oleh arus balik.
Orang-orang datang dengan koper yang sama, tetapi dengan perasaan yang berbeda. Tidak lagi euforia pulang, melainkan langkah kembali, pelan, sunyi, namun penuh makna.
Beberapa hari sebelumnya, mereka adalah bagian dari gelombang besar yang meninggalkan Manado.
Para perantau pulang ke daerah asal masing-masing ke Gorontalo, Bolaang Mongondow, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, bahkan hingga Pulau Jawa dan Pulau Sumatera.
Mereka pulang membawa rindu yang telah lama disimpan.
Di kampung halaman, waktu terasa lebih lambat. Tidak ada tekanan pekerjaan, tidak ada hiruk pikuk kota.
Yang ada hanya kebersamaan yang sederhana: makan bersama keluarga, berbincang tanpa tergesa dan merasakan kembali hangatnya rumah.
Bagi banyak perantau, itulah momen paling jujur dalam hidup mereka, ketika mereka tidak perlu menjadi apa-apa, cukup menjadi diri sendiri.
Namun seperti biasa, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Lebaran usai dan satu per satu mereka harus kembali.
Perpisahan kembali terjadi, sering kali lebih berat dari sebelumnya. Ada mata yang berkaca-kaca, ada pesan yang diulang berkali-kali, dan ada keinginan untuk tinggal lebih lama meski tahu tidak mungkin.
Lalu perjalanan itu dimulai lagi. Perjalanan kembali ke Manado tidak selalu ramai oleh percakapan.
Banyak yang memilih diam, menatap keluar jendela, atau sekadar memejamkan mata. Mungkin mereka sedang mengulang kembali momen di kampung halaman, atau mencoba menenangkan diri sebelum kembali ke rutinitas.
Tetapi di balik kesunyian itu, ada sesuatu yang berubah. Mereka kembali dengan hati yang lebih penuh.
Dengan doa orang tua yang masih terngiang, dengan harapan keluarga yang mereka bawa, dan dengan kekuatan baru yang tidak terlihat.
Perjalanan pulang ternyata bukan akhir, melainkan bekal untuk melangkah lagi. Manado bukan sekadar tempat merantau.
Kota ini telah menjadi bagian dari hidup mereka. Di sinilah mereka bekerja, bertahan, dan menyusun masa depan.
Kota ini mungkin tidak selalu mudah, tetapi justru di sinilah mereka belajar menjadi kuat.
Mudik akhirnya menjadi siklus yang terus berulang. Pergi untuk pulang, dan pulang untuk kembali.
Dalam siklus itu, para perantau menemukan makna yang tidak sederhana: bahwa rindu bukan untuk dihindari, tetapi untuk dijaga.
Ketika mereka kembali menginjakkan kaki di Manado, dengan langkah yang mungkin lebih berat tetapi hati yang lebih kuat, mereka tahu satu hal bahwa perjuangan ini belum selesai.
Harapan masih harus diperjuangkan dan bahwa selama masih ada tempat untuk pulang, mereka akan selalu punya alasan untuk kembali lagi ke Manado. (*)