Ancaman di Balik Kue Brownies! Amsal Sitepu Videografer Terdakwa Mark Up Diteror: Jangan Ribut!
Eri Ariyanto March 30, 2026 03:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kasus yang menjerat Amsal Sitepu kian memanas dengan munculnya dugaan teror misterius yang menyasar dirinya secara langsung.

Videografer yang kini berstatus terdakwa dalam kasus dugaan mark up itu mengaku menerima ancaman terselubung melalui sebuah paket kue brownies.

Tak sekadar kiriman biasa, di dalamnya terselip pesan bernada intimidasi yang berbunyi singkat namun menggetarkan: “Jangan ribut!”.

Peristiwa ini menambah tekanan psikologis yang sudah ia rasakan sejak proses hukum bergulir di meja hijau.

Amsal pun mengungkapkan kekhawatirannya atas keselamatan diri dan keluarganya yang ikut terdampak situasi mencekam tersebut.

Kuasa hukum menilai ancaman ini sebagai upaya membungkam kliennya agar tidak mengungkap fakta-fakta penting di persidangan.

Sementara itu, publik mulai menyoroti adanya kemungkinan pihak tertentu yang bermain di balik kasus yang menyeret nama Amsal.

Kini, teror dalam balutan manisnya brownies itu justru membuka sisi gelap baru yang memperkeruh perkara yang tengah disidangkan.

Baca juga: Curhat Amsal Sitepu di Persidangan Usai Dituduh Rugikan Negara, Diborgol: Seolah Saya Penjahat Besar

Seperti diketahui, pesan tersebut tersimpan dalam kotak kue brownies yang dikirim pada Amsal.

Pesan tertulis dalam brownies berisikan soal ancaman terhadap Amsal.

Kini kasus Amasal Christy Sitepu sedang menarik simpati publik.

Amsal merupakan seorang videografer.

Ia menjadi terdakwa dalam kasus mark up video profil desa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Dirangkum dari lama Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri Medan, Amsal menjabat sebagai Direktur CV Promiseland.

Dia mengajukan proposal pembuatan video profil ke sejumlah kepala desa.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuduh bahwa proposal itu dibuat secara tidak benar dengan terjdi mark up harga.

Padahal proposal sebagai dasar pembuatan Rencana Anggaran dan Biaya (RAB) tahun 2020 sampai 2022.

Proposal diajukan ke 20 desa di Kecamatan Tiganderket, Kecamatan Tigabinaga, Kecamatan Tigapanah, dan Kecamatan Namanteran di Kabupaten Karo.

"Bahwa Terdakwa melakukan pembuatan profil desa dan menggunakan perusahaan terdakwa yakni CV Promiseland dengan biaya pembuatan sebesar Rp 30.000.000,- (tiga puluh juta rupiah) untuk setiap desa," tulis di PN Medan.

KASUS VIRAL - Amsal Sitepu pebisnis yang digelandang diduga terlibat kasus dugaan mark up.
KASUS VIRAL - Amsal Sitepu pebisnis yang digelandang diduga terlibat kasus dugaan mark up. (Instagram/@amsalsitepu)

Dari analisa ahli dan auditor inspektorat Kabupaten Karo, seharusnya 1 video dihargai Rp 24.100.000.  

Terdapat perbedaan biaya pada hitungan Amsal dan Inspektorat dalam beberapa poin, di antaranya konsep/ide, clip on/microphone, cutting, editing, dubbling. 

"Saya seorang profesional videografer, saya didakwa melakukan mark up anggaran. Bagaimana mungkin penyedia jasa bisa melakukan mark up anggaran," katanya.

Amsal mengatakan jika memang dia melakukan mark up, tentu proposalnya akan ditolak.

"Saya melakukan penawaran dengan proposal saya, kalau ada mark up anggaran tentu saja proposalnya ditolak. Kalau ada mark up anggaran pembayaran gak akan dibayarkan karena pembayaran dilakukan setelah pekerjaan selesai. Negara ini sedang tidak baik-baik saja pak," katanya.

Sementara sang istri mengungkap bahwa suaminya telah mendapat intimidasi.

"Sampai di hari terakhir pun suamiku masih mendapatkan intimidasi tentang si PEMBERI BROWNIES. Salah satu yang ikut memberikan brownies itu adalah seorang perempuan!

Dia bilang; aku gak suka abang angkat soal cerita brownies coklat itu. Gitu baiklah kami ngasih itu. Gara-gara Bapak kami jadi gak bisa kasih brownies lagi (ini banyak Saksinya) !" tulisnya di akun TikTok.

Ia menekankan bahwa suaminya tidak bisa dibungkam lewat intimadasi seperti itu.

"Hey kamu, gak masalah kalian kasih suami ku brownies. Yang salah adalah pesan di dalamnya; jangan pakai pengacara, jangan ribut-ribut, kekecewaan, bapak ngikut aja nanti kami bantu untuk tuntutannya.

Sudah berapa banyak orang yang kalian berikan brownies beserta isi pesannya untuk mempermudah pekerjaan kalian???

Persidangan sudah selesai pun masih di intimidasi.

Tapi tidak apa-apa, kami hanya mengerjakan bagian kami. Kami tetap menghargai profesi kalian. Kami selalu sopan terhadap kalian. Sisanya, bukan kami lagi yang urus. Tapi Tuhan." tulisnya di TikTok.

(TribunNewsmaker.com/TribunnewsBogor.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.