TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Inilah gejala dan cara pencegahan penyakit campak dibagikan Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulawesi Tenggara (Sultra).
Campak atau rubeola merupakan penyakit infeksi saluran pernafasan yang menular, karena disebabkan virus Morbilivirus.
Kepala Dinkes Sultra, dr Andi Edy Surahmat, mengatakan hingga saat ini kasus campak di wilayah Sultra masih tergolong rendah dan belum menunjukkan penyebaran signifikan.
Namun, pemerintah tetap meningkatkan pengawasan untuk mencegah potensi penularan, khususnya setelah mobilitas masyarakat meningkat pada libur Idulfitri 1447 Hijriah.
“Kasus di Sultra masih satu-dua pasien dan belum menyebar luas. Tetapi kita tetap harus waspada karena penularan campak sangat cepat melalui udara, apalagi setelah banyak pertemuan saat Lebaran,” kata dr Edy saat diwawancara di Kantor Gubernur Sultra, Senin (30/3/2026).
Ia menyampaikan, campak disebabkan oleh virus yang menular melalui percikan droplet di udara saat penderita batuk atau bersin.
Virus ini memiliki masa inkubasi sekitar 14 hari sebelum gejala muncul secara klinis.
Baca juga: 12.950 PPPK Sulawesi Tenggara Tak Dirumahkan, Gubernur ASR Tunggu Regulasi, Solusi Agar Tak Nganggur
Menurutnya, gejala awal campak biasanya ditandai dengan demam tinggi yang kemudian diikuti munculnya bintik-bintik kemerahan pada kulit.
Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi komplikasi serius jika tidak ditangani dengan baik.
“Gejala awal biasanya demam tinggi, kemudian muncul bintik-bintik kemerahan. Yang perlu diwaspadai adalah komplikasinya, terutama pada bayi,” tuturnya.
Kata dia, bayi yang belum mendapatkan imunisasi memiliki risiko paling tinggi mengalami dampak berat.
Pada beberapa kasus, campak dapat memicu diare berat hingga menyebabkan dehidrasi akut.
“Pada bayi di bawah usia sembilan bulan, campak bisa menimbulkan diare berat yang berujung dehidrasi dan berisiko menyebabkan kematian,” tuturnya.
Baca juga: Prosedur Penerbitan Sertifikat Kesehatan Ikan di Karantina Sulawesi Tenggara untuk Ekspor Perikanan
Untuk mencegah penularan, dr Edy mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker di tempat keramaian.
Membatasi kontak dengan orang yang menunjukkan gejala, serta melakukan isolasi mandiri jika terdapat anggota keluarga yang terindikasi campak.
Selain itu, orang tua juga diminta memastikan anak mendapatkan imunisasi campak sesuai jadwal, yaitu pada usia sembilan bulan.
“Imunisasi merupakan cara paling efektif untuk melindungi anak dari risiko komplikasi campak,” katanya.
Dinkes Sultra juga telah mengeluarkan edaran kepada seluruh fasilitas kesehatan di 17 kabupaten dan kota, untuk meningkatkan deteksi dini melalui sistem surveilans.
Sedangkan, tenaga kesehatan diminta melakukan pemantauan serta pelacakan kontak terhadap pasien untuk mencegah penyebaran lebih luas.
“Jika ada anggota keluarga yang terindikasi campak, sebaiknya tidak melakukan pertemuan terlebih dahulu. Ini penting untuk mencegah penularan ke anak-anak lain,” jelasnya. (*)
(TribunnewsSultra.com/Dewi Lestari)