Perang di Timur Tengah berdampak langsung pada sektor pariwisata Malaysia. Pelaku usaha menyebut ribuan pembatalan paket wisata terjadi dalam tempo satu minggu pertama perang.
Presiden Asosiasi Pariwisata Inbound Malaysia (MITA), Mint Leong, menyebut pembatalan di pekan pertama perang itu mencapai sekitar 2.800 paket wisata.
"Kami langsung menerima pembatalan sekitar 800 wisatawan Iran di hari pertama perang," kata Leong seperti dilansir dari , Senin (30/3/2026).
Selain dari Iran, sekitar 2.000 pembatalan datang dari wilayah lain karena gangguan penerbangan di bandara-bandara utama Timur Tengah, termasuk Dubai, Abu Dhabi, Doha, dan Muscat. Bandara ini biasanya menjadi pusat transit bagi wisatawan dari Eropa, Amerika, Afrika, dan Rusia.
"Jadi kita kehilangan wisatawan dari seluruh dunia, bukan hanya Iran dan Timur Tengah," dia menambahkan.
MITA mencatat 30 agen perjalanan mengalami dampak paling berat karena fokus pada pasar Iran dan Timur Tengah. Wisatawan lokal dianggap tidak cukup untuk menutupi kerugian karena cenderung bepergian mandiri.
"Mereka perlu mencari pasar baru agar bisa bertahan, karena mereka tidak tahu kapan pasar yang sudah terbangun itu akan kembali," kata Leong.
Ia menuturkan jika beberapa hari setelah Hari Raya Idulfitri merupakan momentum baik pariwisata Malaysia, karena di periode itulah wisatawan asal Timur Tengah berdatangan ke Malaysia. Namun, pada situasi saat ini hal tersebut terasa sangat lemah dibandingkan tahun lalu.
"Beberapa agen kami menerima banyak pertanyaan untuk bulan Juni, Juli, dan Agustus yang merupakan liburan musim panas, termasuk dari wisatawan Timur Tengah," kata dia.
"Tetapi semua itu berhenti ditahap pertanyaan saja. Tidak ada konfirmasi lebih lanjut," ujar Leong.





