Kenapa Perjalanan Pulang Terasa Lebih Cepat Dibandingkan saat Pergi?
GH News March 30, 2026 06:09 PM
Jakarta -

Siapa yang pernah merasakan perjalanan pulang terasa lebih cepat dibandingkan perjalanan pergi? Ternyata apa yang dirasakan itu bukan sesuatu yang aneh dan menyinggung sebuah teori psikologi, yaitu return trip effect.

Profesor psikologi di Georgia Gwinnett College David Ludden, PhD menjelaskan ini berkaitan dengan pengalaman subjektif manusia terhadap waktu. Secara biologis, tubuh memiliki 'jam internal' yang cukup presisi, detak jantung ritmis, dan tubuh mengikuti siklus harian.

Namun, secara psikologis kondisi ini dapat berbeda.

"Secara psikologis, persepsi kita terhadap waktu jauh dari akurat dan sangat dipengaruhi oleh suasana hati," ungkap David dikutip dari Pscychology Today, Senin (30/3/2026).

"Kita semua pernah merasakan waktu seperti berjalan sangat lambat, dan di lain waktu terasa berlalu begitu cepat. Faktanya, kemampuan kita untuk menilai waktu secara akurat cukup terbatas," sambungnya.

Kondisi ini pernah diteliti oleh ahli dari University of Miami, Zoey Chen bersama rekan, yang diterbitkan dalam jurnal Social Psychology and Personality Science. Faktor yang disorot dari pemicu return trip effect adalah rasa familiar.

Pada dasarnya, pengalaman yang belum familiar membuat waktu terasa lebih lambat. Inilah yang membuat perjalanan pulang terasa lebih cepat dibanding pergi.

Namun, satu hal yang menarik dari penelitian tersebut adalah rupanya efek itu juga terasa di daerah yang sudah terasa familiar, seperti perjalanan ke kantor.

"Penjelasan lain menyebutkan bahwa efek ini muncul karena pelanggaran ekspektasi. Orang sering meremehkan berapa lama sesuatu akan berlangsung. Saat melakukan perjalanan yang belum familiar, mereka merasa perjalanan lebih lama dari perkiraan," ujar David.

"Namun saat pulang, mereka sudah tahu durasinya sehingga tidak ada lagi 'kejutan'. Masalahnya, efek ini tetap muncul bahkan pada perjalanan yang sudah kita hafal, seperti commute harian," sambungnya.

Selain soal rasa familiar dan kejutan ekspektasi, peneliti juga menyinggung adanya rasa antisipasi. Ketika dalam perjalanan, pengamatan terhadap dua perjalanan biasanya punya tingkat antisipasi yang berbeda.

Perjalanan berlibur tentu akan terasa jauh menyenangkan dibandingkan perjalanan pulang dan harus kembali ke rutinitas.

"Menurut mereka (peneliti), antisipasi meningkatkan tingkat kewaspadaan, membuat kita lebih fokus dan lebih siaga. Kondisi ini juga membuat waktu terasa 'memanjang'," jelasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.