Berburu Sate Klathak Pak Pong, Kuliner Legendaris di Bantul
Joko Widiyarso March 30, 2026 07:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Aroma rempah masakan dari bahan utama domba/kambing saat tercium jelas ketika melintasi Jalan Sultan Agung Nomor 18, Jejeran II, Kalurahan Wonokromo, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (30/3/2026) siang. 

Di situlah, salah satu kuliner legendaris bernama Sate Klathak Pak Pong berdiri untuk memanjakan lidah pelanggan.

Dzakiron, menjadi pendiri kuliner tersebut menceritakan, sekilas bagaimana usaha itu berdiri sejak 29 tahun silam.

"Usaha ini saya rintis sejak 1997. Sejak tahun itu, saya mulai mandiri dengan warung kecil dan sederhana. Bahkan, saya sempat mengontrak untuk membuat usaha kuliner ini. Dulu saya sempat mengontrak di kios-kios," katanya.

Dikatakannya, penamaan Sate Klathak Pak Pong diambil bukan secara asal-asalan.

GULE DAN TONGSENG - Sejumlah karyawan Sate Klathak Pak Pong sedang memasak menu tengkleng dan tongseng di Sate Klathak Pak Pong Pusat, Jalan Sultan Agung Nomor 18, Jejeran II, Kalurahan Wonokromo, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Senin (30/3/2026) siang.
GULE DAN TONGSENG - Sejumlah karyawan Sate Klathak Pak Pong sedang memasak menu tengkleng dan tongseng di Sate Klathak Pak Pong Pusat, Jalan Sultan Agung Nomor 18, Jejeran II, Kalurahan Wonokromo, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Senin (30/3/2026) siang. (Tribun Jogja/Neti Istimewa Rukmana)

Namun, kuliner sate klathak sendiri sebenarnya sudah ada sejak kakek nenek moyang.

Lalu, dikarenakan Dzakiron sejak kecil sering bangun tidur sampai siang hari, sehingga dikatakan 'Jempong'.

"Dari kisah itu ya sampai sekarang jadi nama panggilan. Dan alhamdulillah ternyata bisa menjadi merek usaha kuliner yang sampai saat ini menjadi rezeki," ucap Dzakiron. 

Dulu, sehari-hari ia membuat serta menjual kuliner tersebut sendiri dan hanya dibantu oleh satu dan dua orang.

Dikarenakan kini sudah berkembang dan memiliki tiga cabang, sehingga ia ditemani oleh lebih dari 100 karyawan untuk melayani penjualan Sate Klathak kepada konsumen. 

"Tidak ada resep khusus. Tapi, masakan kuliner ini dibuat sesuai turun temurun. Karena sejak dulu kan ada banyak sekali pedagang sate. Jadi, resep sudah dari kakek saya, enggak kita yang bikin resep sendiri. Semua resep dari orang tua," urai dia.

Adapun macam-macam menu kuliner yang disajikan mulai dari Sate Klathak, sate kecap, tongseng, tengkleng, dan lain sebagainya. Harga yang ditawarkan pun mulai Rp20 ribuan sampai sekitar Rp37 ribu per porsi.

Dalam hari-hari normal, ia bisa menyembelih sekitar 30 domba untuk memenuhi permintaan konsumen di tiga outlet atau cabang usaha. Kemudian, saat momen liburan bisa mencapai antara 50 sampai 60 domba.

Daya Beli Menurun saat Lebaran 2026

Dalam kesempatan itu, Dzakiron turut menjelaskan bahwa daya beli konsumen terhadap kuliner sate klathak menurun pada momen Lebaran 2026.

Bahkan, sejak Jumat (27/3/2026) kemarin, daya beli masyarakat dinilai mengalami penurunan drastis dan hampir menyentuh penjualan seperti hari-hari sebelumnya. 

"Kami tidak bisa memperkirakan hitungan per porsi. Tapi, saat libur Lebaran Idulfitri ini enggak seperti Lebaran sebelumnya. Kalau Lebaran ini per hari hanya potong sekitar 50-an domba. Kalau Lebaran tahun lalu bisa mencapai 70-an domba. Penurunannya sangat terasa sekali," ujar Dzakiron.

Ia mengaku belum bisa memastikan penyebab penurunan daya pembeli terhadap sate klathak. Akan tetapi, diperkirakan karena sudah mulai ramainya penjual kuliner serupa, sehingga berpotensi berdampak terhadap hasil jual di tempat usahanya.

"Mungkin juga karena Lebaran tahun ini masih sangat berdekatan dengan liburan akhir tahun 2025. Jadi, ya mungkin jumlah pemudik juga berkurang, wisata juga berkurang," ucap dia.

Stok domba dari Jateng

Pihaknya pun menyampaikan bahwa sampai saat ini, pasokan maupun stok kebutuhan domba masih aman. 

Namun, selama ini untuk kebutuhan konsumsi penjualan sate klathak di tempatnya masih disuplai dari Jawa Tengah.

"Kalau dari daerah Jogja saja, mungkin tidak bisa mencukupi. Jadi, kami masih disuplai dari Temanggung dan Wonosobo, Jawa Tengah," kata Dzakiron. 

Untuk menjaga keaslian produk, sampai saat ini pihaknya belum berencana melakukan ekspansi ke luar DIY.

Sebab, ia ingin, wisatawan yang di luar Jogja yang ingin mencoba kuliner Sate Klathak Pak Pong langsung berkunjung Bantul.

"Memang sering saya dapat tawaran agar buka cabang usaha di luar daerah. Tapi, saya berpedoman Sate Klathak Pak Pong tetap ada di Jogja. Cuma kalau ke depan, anak-anak saya punya rencana ya saya tidak tahu," tutup dia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.