TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Insiden ledakan yang bersumber dari instalasi saluran air limbah (bio-filter) terjadi di Area Kuliner Lantai Dasar (Area Payung) Teras Malioboro 1, Kota Yogyakarta, pada Senin (30/3/2026) pagi pukul 07.20 WIB.
Peristiwa tersebut mengakibatkan rusaknya material lantai konblok dan melukai tiga orang wisatawan asal Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, akibat paparan gas panas.
Menyikapi insiden di salah satu objek vital dan destinasi wisata strategis Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tersebut, pengelola kawasan langsung mengambil langkah cepat untuk penanganan medis dan memastikan evaluasi menyeluruh terhadap konstruksi infrastruktur sanitasi.
Kepala Balai Layanan Usaha Terpadu (BLUT) Koperasi dan UMKM DIY, Wisnu Hermawan, S.P., M.T., menegaskan komitmen dan tanggung jawab penuh pihaknya atas kejadian ini.
Dalam keterangannya, Wisnu memaparkan situasi sesaat setelah kejadian serta langkah kuratif yang langsung ditempuh.
"Pagi tadi sekitar pukul 07.20 selalu ada semacam kejadian luar biasa, ledakan yang bersumber dari mampatnya saluran elemen. Pagi tadi, ketika tenant-tenant sedang bersiap berjualan, suasana memang agak sepi, tapi ada setidaknya tiga pengunjung yang menjadi korban terkait kejadian luar biasa ini," ungkap Wisnu.
"Teman-teman pengelola yang ada di sini tadi sudah bertindak cukup cepat untuk berkoordinasi dengan para pihak. Yang pertama, sudah dilakukan langkah untuk membawa korban ke Rumah Sakit Sardjito. Teman-teman juga sudah berkoordinasi dengan kepolisian untuk melakukan pengecekan terkait apa yang terjadi di sini," lanjutnya.
Berdasarkan fakta-fakta dari kepolisian dan keterangan saksi di lokasi, yakni Suhartini (47), pedagang Sate Koyor Teras Malioboro 1, peristiwa bermula saat para pedagang sedang bersiap membuka warungnya.
Tiba-tiba terdengar dentuman keras dari arah lantai depan yang menyebabkan material konblok terangkat dan hancur.
Ledakan fisik (physical explosion) tersebut mengungkap adanya empat lubang saluran pembuangan yang meledak secara bersamaan dari satu sistem drainase.
Baca juga: Saluran Limbah Teras Malioboro 1 Meledak, Satu Keluarga dari Bangkalan Madura Alami Luka Bakar
Paparan gas panas dari bawah tanah itu mengenai tiga orang wisatawan yang merupakan satu keluarga.
Ketiga korban adalah H. R. Zainal Alim atau ZA (60) yang mengalami luka bakar pada bagian lengan; Mukhsinatul Ishaqiya atau MI (54) dengan luka bakar pada wajah sebelah kiri dan kaki kanan; serta Oval atau O (15) yang mengalami luka bakar pada bagian leher.
Saksi lain, Hanif Setiawan (24), petugas keamanan setempat, segera berkoordinasi dengan tim pengamanan dan menghubungi Public Safety Center (PSC) Kota Yogyakarta. Pada pukul 07.45 WIB, ketiga korban berhasil dievakuasi menggunakan ambulans menuju RSUP Dr. Sardjito.
Wisnu memastikan bahwa ketiga korban telah mendapatkan penanganan medis dan seluruh biaya ditanggung oleh pengelola.
"Ini sementara masih dalam investigasi, tapi tadi saya juga sudah langsung mengunjungi para korban yang ada di Rumah Sakit Sardjito untuk memberikan support psikologis pada mereka yang kebetulan mengalami sesuatu yang tidak nyaman di area yang sedang dalam wilayah pengelolaan UPT Teras Malioboro. Ini bentuk tanggung jawab kami, di mana semua biaya pengobatan dan layanan atas ketidaknyamanan mereka di sini kita tanggung," tegas Wisnu.
"Saat ini korban sudah kembali dari rumah sakit ke hotel karena menurut penilaian tenaga kesehatan di Rumah Sakit Sardjito, luka mereka bisa rawat jalan dan tidak perlu rawat inap di rumah sakit. Untuk biaya penanganan korban, semuanya di-cover oleh pihak Teras Malioboro. Mengenai rincian lukanya, ada di bagian tangan. Untuk ibu tadi di tangan dan kaki, kemudian yang bapak di bagian tangan. Mereka satu keluarga, meskipun sebenarnya rombongan keluarganya tidak hanya bertiga. Kebetulan yang sedang berada di dekat titik tumpuan saat kejadian ada tiga orang itu," tambahnya.
Hasil pemeriksaan sementara kepolisian menduga kuat ledakan dipicu oleh penyumbatan pada instalasi bio-filter.
Penyumbatan ini mengakibatkan fermentasi limbah organik yang menghasilkan gas metana (CH₄) dalam jumlah besar.
Gas tersebut terjebak di ruang tertutup (confined space) tanpa sirkulasi atau ventilasi yang memadai, sehingga menciptakan tekanan tinggi yang berujung pada kegagalan struktur penutup saluran.
Terkait hal teknis tersebut, Wisnu menjelaskan bahwa prosedur perawatan sebenarnya telah berjalan sesuai jadwal.
Ia menduga adanya korelasi antara tekanan limbah dengan lonjakan beban pengunjung selama libur Idul Fitri.
"Mengenai apakah kejadian luar biasa itu memang ledakan dan apa penyebabnya, saat ini masih diinvestigasi. Kemungkinan adanya gas metana yang terakumulasi. Tapi kita masih mendalami, karena sebenarnya di area Teras Malioboro ini pembersihan saluran cukup rutin dilakukan dua kali sebulan. Sebelum Lebaran kemarin kita sudah membersihkan, sudah sedot WC rutin, dan setelah Lebaran juga sudah dilakukan dua kali," papar Wisnu.
"Saya juga menduga, apakah ini berkaitan dengan volume kunjungan libur Lebaran yang cukup tinggi. Kemarin, sejak H+1, kunjungan rata-rata mencapai 20 ribu orang per hari. Itu angka rata-rata harian. Kemudian mulai hari Minggu kemarin sudah kembali menurun ke angka 13 ribu. Selama tujuh hari terakhir, beban ini memang cukup besar. Kejadiannya, penutup saluran itu sempat terangkat, seperti ada ledakan gas. Tidak ada sarana yang rusak karena posisinya tenant baru bersiap berjualan. Kita bersyukur tidak ada hal yang lebih parah, meskipun ini tetap kejadian yang tidak diinginkan," urainya.
Wisnu memastikan akan ada rekayasa teknis agar insiden serupa tidak melumpuhkan urat nadi ekonomi UMKM di kawasan tersebut.
"SOP untuk penanganan air limbah di tempat kita sebenarnya sudah sangat ketat sekali. Kami akan melihat apakah nanti ada konstruksi yang harus dibenahi atau direkayasa. Ini baru pertama kali terjadi. Kita lagi mendalami apakah ada kendala konstruksi yang memungkinkan kita melakukan rekayasa kembali agar saluran ini bisa berfungsi secara optimal dan aman. Maka dari itu, kita akan mendalami lebih lanjut apakah penyebabnya karena tumpuan beban yang terlalu besar atau seperti apa. Kita terus evaluasi agar jangan sampai kasus ini berulang kembali," ungkapnya.
Sementara itu, Kapolsek Gondomanan, AKP Basungkawa, memimpin langsung kegiatan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Pihaknya bersama unit Reskrim dan Inafis telah mengamankan lokasi dengan memasang garis polisi untuk memastikan tidak ada unsur sabotase maupun kelalaian pidana, serta melakukan pengumpulan bahan keterangan (Pulbaket).
"Kami telah melakukan olah TKP awal dan berkoordinasi dengan pengelola Teras Malioboro 1. Saat ini, fokus kami adalah memantau kondisi para korban di RSUP Dr Sardjito. Kami mengimbau pengelola untuk segera melakukan pembersihan dan pengurasan instalasi bio-filter secara menyeluruh serta menambah sistem ventilasi pada saluran limbah untuk membuang tekanan gas. Hal ini penting agar aktivitas ekonomi di Teras Malioboro 1 dapat kembali berjalan dengan standar keamanan yang terjamin," ujar AKP Basungkawa.
Area ledakan saat ini telah dipasangi garis polisi untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut, sementara pembersihan instalasi dilakukan secara bertahap oleh tim teknis pengelola kawasan.
Sebelumnya, PS Kasihumas Polresta Yogyakarta, Ipda R Anton Budi Susilo menjelaskan, pada Senin pagi sekira pukul 07.20 WIB, Saksi Suhartini sedang berada di lokasi untuk persiapan membuka warung dagangan.
Dia lalu mendengar suara dentuman keras yang bersumber dari area lantai depan warung.
Akibat tekanan ledakan dari bawah tanah, material konblok lantai terangkat dan hancur, yang ternyata berasal dari empat lubang saluran limbah (bio-filter) yang meledak secara bersamaan.
"Paparan gas panas dari dalam saluran mengenai tiga orang korban yang merupakan satu keluarga ketika berada di sekitar lokasi," ujarnya.
Selanjutnya Saksi lain, yakni petugas security segera melakukan koordinasi dengan tim pengamanan dan menghubungi PSC Kota Yogyakarta untuk meminta bantuan medis.
Sekitar pukul 07.45 WIB, korban berhasil dievakuasi menuju RSUP Dr Sardjito menggunakan ambulans untuk penanganan medis lebih lanjut.
Korban ZA mengalami luka bakar bagian lengan, korban MI mengalami luka bakar pada wajah sisi kiri dan kaki sebelah kanan, sementara korban O luka bakar pada leher.
"Ledakan diduga kuat dipicu oleh penyumbatan pada sistem pembuangan air limbah (bio-filter)," ujar Anton.
Penyumbatan ini mengakibatkan fermentasi limbah organik menghasilkan gas metana (CH_4) dalam jumlah besar yang terjebak tanpa sirkulasi (ventilasi) yang memadai.
Korban saat ini juga sudah dipulangkan dari rumah sakit.
Pihak pengelola Teras Malioboro 1 juga disebut bersedia bertanggungjawab. (*)