Isu BBM Naik 1 April, Bahlil: Tunggu Tanggal Mainnya, Bapak Presiden Putuskan
Noval Andriansyah March 30, 2026 09:19 PM

Tribunlampung.co.id, Tokyo - Imbas konflik di Timur Tengah yang semakin memanas, isu mengenai harga bahan bakar minyak alias BBM di dalam negeri juga ikut ramai menjadi pembahasan.

Bahkan, beredar isu jika tepat pada 1 April 2026, pemerintah akan menaikkan harga BBM. Termasuk juga BBM subsidi jenis Pertalite dan Solar.

Satu di antara alasan yang paling tepat, jika benar adanya kenaikan harga BBM tersebut, yakni karena lonjakan harga minyak dunia yang menembus 115 dolar AS per barel.

Dikutip dari Tribunnews.com, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, merespons isu yang berkembang liar di media sosial dalam negeri tersebut.

Bahlil juga memberikan sinyal mengenai arah kebijakan pemerintah terkait harga BBM subsidi tersebut.

Baca juga: Pertamina dan BPH Migas Jamin Stok BBM dan Elpiji di Lampung Aman Pasca Lebaran

Bahlil menegaskan, Presiden Prabowo Subianto sangat mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat kelas bawah sebelum mengambil keputusan.

Pernyataan ini disampaikan Bahlil saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam agenda kenegaraan di Tokyo, Jepang, Senin (30/3/2026). 

Jawaban ini sekaligus merespons isu yang beredar menyebut harga BBM akan naik per 1 April mendatang. 

Bahlil meminta publik untuk memercayakan keputusan tersebut kepada Presiden Prabowo selaku kepala negara. 

Dia meyakini Eks Danjen Kopassus itu punya hari untuk memperhatikan nasib rakyat kecil.

"Insya Allah atas arahan Bapak Presiden untuk BBM subsidi sampai dengan sekarang saya pikir Bapak Presiden punya hatilah untuk memperhatikan rakyat kecil."

"Percayalah nanti tunggu tanggal mainnya Bapak Presiden akan memutuskan seperti apa untuk kebaikan rakyat bangsa dan negara," ujar Bahlil saat ditemui di lokasi penginapan Presiden Prabowo Subianto di Tokyo, Jepang, Senin (30/3/2026).

Lonjakan harga minyak dunia menyusul perang di Timur Tengah membuat sejumlah negara tetangga Indonesia seperti Thailand, Filipina, dan Australia menaikkan harga BBM.

Pemerintah menegaskan harga BBM subsidi belum naik untuk menjaga daya beli masyarakat.

Bahlil memahami tekanan geopolitik global membuat harga minyak mentah melonjak tinggi.

Akan tetapi pemerintah tetap mengupayakan stabilitas di dalam negeri.

"Harga sekarang sudah mencapai 115 dolar AS (per barel). Di dalam negeri (harga) masih stabil."

"Bapak Presiden kita ini kan tiap hari memikirkan tentang bagaimana pembangunan negara tapi juga bagaimana memperhatikan kebutuhan dan kondisi masyarakat kita di bawah," tambahnya.

Terkait dengan rencana kenaikan harga, Bahlil menegaskan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah melindungi golongan masyarakat yang berhak menerima subsidi.

Ia pun meminta doa agar proses komunikasi internasional yang sedang dilakukan berjalan lancar.

"Nah tadi saya katakan bahwa subsidi tunggu tanggal mainnya, insya Allah saya yakinkan bahwa Bapak Presiden dalam membuat kebijakan selalu mempertimbangkan dan memprioritaskan tentang kondisi masyarakat. Insya Allah baik, nanti tunggu tanggal mainnya ya," tegasnya.

Di sisi lain, Bahlil menjelaskan bahwa untuk BBM non-subsidi atau sektor industri, harga akan tetap mengikuti fluktuasi pasar sesuai regulasi yang berlaku.

Menurutnya, kelompok masyarakat mampu tidak seharusnya menjadi tanggungan negara dalam hal konsumsi bahan bakar.

"Apa itu definisi yang industri adalah bensin RON 95, 98 itu kan orang-orang yang mampulah seperti mohon maaf contoh Pak Rosan, Pak Seskab masa pakai minyak subsidi ya kan? Dan selama mereka mau jalan banyak selama ada uang untuk bayar monggo tugas negara menyiapkan yang membayar mereka itu tidak ada tanggungan negara sama sekali," katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.