Luasan Lahan Terbakar di Riau Terus Bertambah, Bengkalis Jadi Titik Terparah
Muhammad Ridho March 30, 2026 07:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Luasan lahan terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau terus menunjukkan peningkatan, terutama di wilayah Kabupaten Bengkalis yang saat ini menjadi titik terparah.

Berdasarkan laporan terbaru BPBD Riau, dari total 21 titik api (firespot) yang terdeteksi, sebanyak 8 titik berada di Bengkalis dan sebagian besar masih aktif dengan kondisi api besar serta asap tebal.

Sebaran titik api ini berada di sejumlah desa seperti Sukarjo Mesim, Pergam, Teluk Lecah, Titi Akar, hingga Muntai dan Teluk Lancar.

Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap meluasnya area lahan yang terbakar, mengingat karakteristik wilayah Bengkalis yang didominasi lahan gambut kering.

Api di lahan gambut cenderung sulit dipadamkan karena dapat menjalar di bawah permukaan tanah dan muncul kembali di lokasi berbeda.

“Di Bengkalis, beberapa titik tidak hanya terbakar di permukaan, tetapi juga merambat di bawah. Ini yang menyebabkan luasan lahan terbakar terus bertambah,” ungkap Kepala Pelaksana BPBD Riau, M. Edy Afrizal, Senin (30/3/2026).

Selain Bengkalis, potensi perluasan lahan terbakar juga terjadi di Kabupaten Pelalawan. Tiga titik api di Desa Pulau Muda (Teluk Meranti), Desa Merbau (Bunut), dan Desa Teluk Dalam (Kuala Kampar) masih aktif, bahkan di beberapa lokasi dilaporkan muncul asap tebal yang menandakan kebakaran masih berlangsung di area cukup luas.

Baca juga: Hujan Guyur Beberapa Titik Karhutla di Bengkalis, Sebagian Masih Upaya Penanganan

Sementara itu, di Indragiri Hilir dan Indragiri Hulu, meskipun sebagian besar titik api telah berhasil dikendalikan, proses pendinginan masih dilakukan karena adanya sisa bara yang berpotensi memicu kebakaran ulang dan memperluas area terdampak.

Berbeda dengan wilayah lainnya, Kota Dumai relatif lebih terkendali. Dari lima titik api yang terdeteksi, hampir seluruhnya telah padam total, sehingga potensi penambahan luasan lahan terbakar dapat diminimalisir.

Untuk menekan laju perluasan kebakaran, BPBD Riau bersama tim gabungan terus mengoptimalkan penanganan, baik melalui darat maupun udara. Sejumlah langkah dilakukan, mulai dari pemadaman langsung, pendinginan, hingga penyekatan menggunakan alat berat untuk membatasi penyebaran api.

Dari udara, satu unit helikopter water bombing milik BNPB telah melakukan 545 kali pengeboman air dengan total lebih dari 2,45 juta liter air yang dijatuhkan ke titik-titik kebakaran. Selain itu, dua helikopter patroli terus memantau perkembangan api, serta satu pesawat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) telah menyemai 4.000 kilogram NaCl guna memicu hujan buatan.

Meski berbagai upaya telah dilakukan, BPBD Riau menegaskan bahwa risiko meluasnya lahan terbakar masih tinggi, terutama di wilayah dengan titik api aktif dan kondisi lahan gambut kering.

"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan dalam kondisi apa pun. Partisipasi aktif warga penting untuk mencegah bertambahnya luasan kebakaran yang dapat berdampak pada lingkungan dan kesehatan," katanya.

( Tribunpekanbaru.com / Syaiful Misgiono)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.