Update Harga BBM 1 April 2026: Cek Prediksi Kenaikan Pertamax dan Nasib Pertalite
Pipit Maulidya March 30, 2026 09:32 PM

 

SURYA.CO.ID -  Masyarakat Indonesia mulai bersiap menghadapi potensi penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Pemerintah Indonesia diprediksi akan mengumumkan perubahan harga BBM terbaru yang berlaku mulai 1 April 2026 pukul 00.00 WIB.

Sesuai dengan tren kebijakan sebelumnya, evaluasi harga BBM nonsubsidi rutin dilakukan setiap tanggal 1.

Langkah ini mengikuti dinamika pasar minyak mentah global yang tengah bergejolak.

Pemicu Perubahan Harga

Hingga saat ini, pemerintah belum memberikan pernyataan resmi mengenai apakah harga akan naik atau justru turun.

Namun, situasi geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor kunci.

Ketegangan di Selat Hormuz sebagai jalur perdagangan utama dunia telah memicu lonjakan harga minyak internasional.

Selain harga minyak dunia, penentuan harga juga merujuk pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022.

Formula ini mengombinasikan harga acuan, nilai tukar rupiah, serta komponen pajak.

Sebagai kilas balik, pada periode Maret 2026, harga sejumlah produk nonsubsidi telah mengalami kenaikan:

Pertamax: Rp12.300 per liter.

Pertamax Green 95: Rp12.900 per liter.

Pertamax Turbo: Rp13.100 per liter.

Dexlite: Rp14.200 per liter.

Pertamina Dex: Rp14.500 per liter.

Sementara itu, harga BBM subsidi seperti Pertalite (Rp10.000) dan Solar (Rp6.800) terpantau masih stabil dan belum mengalami perubahan.

Dampak Harga Minyak Dunia

Kenaikan harga minyak mentah yang menembus angka 100 dolar AS per barel memberikan tekanan besar pada sektor energi domestik.

Ekonom Universitas Airlangga (Unair), Wisnu Wibowo, menilai penyesuaian harga merupakan langkah yang masuk akal.

“Kenaikan harga BBM non-subsidi dinilai sebagai konsekuensi logis karena skema penetapannya mengikuti harga pasar internasional,” kata Wisnu Wibowo.

Wisnu memprediksi bahwa jika terjadi kenaikan pada April ini, angkanya diperkirakan masih dalam batas wajar untuk kategori nonsubsidi.

“Kenaikan BBM nonsubsidi saya prediksi masih di bawah 10 persen, sekitar 5 sampai 10 persen,” ujarnya.

Menurutnya, variabel harga acuan (MOPS) dan kurs rupiah saat ini sangat dinamis.

Meski tekanan fiskal meningkat, di mana kenaikan 1 dolar AS harga minyak dunia bisa membebani APBN hingga Rp6,7 triliun, pemerintah diyakini tetap menjadikan kenaikan BBM subsidi sebagai opsi terakhir demi menjaga daya beli masyarakat.

Perbandingan dengan Negara Tetangga

Dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya, posisi Indonesia dinilai masih relatif stabil.

Negara dengan mekanisme pasar penuh seperti Thailand dan Vietnam telah mengalami lonjakan harga yang signifikan.

Di sisi lain, Singapura tetap memegang rekor harga tertinggi di kawasan karena penerapan pajak energi yang besar tanpa subsidi.

Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi terkini melalui laman resmi Pertamina guna mengetahui daftar harga terbaru di setiap wilayah masing-masing pada 1 April mendatang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.