SURYA.CO.ID, PONOROGO - Kondisi kontras di balik keluhan kelangkaan gas LPG 3 Kg di Ponorogo didapati SURYA.CO.ID saat meninjau langsung ke sejumlah pangkalan gas.
Pasokan gas LPG 3kg ternyata masih lancar ke sejumlah pangkalan di Ponorogo.
Beberapa warga bahkan mengaku harus menebus gas subsidi itu dengan harga sampai Rp 32 ribu per tabung.
Padahal, jika mengacu Harga Eceran Tertinggi (HET) masyarakat hanya membeli Rp 18 ribu per tabung.
Baca juga: Harga LPG 3 Kg Tembus Rp 32 Ribu dan Langka, Warga Ponorogo Terpaksa Kembali Beralih ke Kayu Bakar
Setelah ditelusuri, kondisi beberapa pangkalan distribusi LPG 3 kg tidak tersendat.
Seperti pangkalan LPG 3 Kg Widodo di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan/Kabupaten Ponorogo, Jatim,
Pantauan SURYA.CO.ID di pangkalan ini, warga yang membeli juga bisa membawa pulang barang bersubsidi tersebut.
Pun harganya sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET),
“Normal kok, kami masih menerima distribusi dari agen setiap hari. Kalau sini sedikit hanya 60 tabung,” ungkap pemilik pangkalan, Bu Widodo, Minggu (30/3/2026).
Dia menjelaskan bahwa memang ada tambahan pasokan gas LPG 3 Kg.
Namun tambahan pasokan gas itu berlaku dalam 3 hari saja, yakni di momen sebelum lebaran tanggal 18 dan 19 Maret 2026 dan 22 Maret 2026,
“Kalau ini sih kembali normal. Memang daya belinya tinggi,” paparnya saat ditemui SURYA.CO.ID di pangkalannya.
Menurutnya, momentum lebaran memang banyak warga memasak. Sehingga penggunaan gas LPG 3 kg lebih meningkat dibanding hari-hari bisa,
“Hari biasa 60 tabung bisa satu hari lebih. Sekarang habis sih sehari, tapi besoknya sudah dikirimi lagi oleh agen,” tegasnya.
Baca juga: Warga Khawatir Kelangkaan BBM dan LPG, Emil Dardak Pastikan Pemprov Jatim Cegah Spekulan
Kesulitan mendapatkan LPG 3 kilogram di Ponorogo pasca Lebaran semakin dirasakan warga.
Selain sulit ditemui di pasaran, harga gas bersubsidi tersebut juga melonjak hingga Rp 32 ribu per tabung di tingkat pengecer.
Kondisi ini memaksa sebagian masyarakat beralih menggunakan kayu bakar untuk memasak, meski dinilai kurang praktis dan memakan waktu lebih lama.
“Sulit lo mbak, di sini saja bisa dapat tapi harga Rp 32 ribu per tabung. Ya kalau ada dibeli,” ungkap Lastri, warga Dusun Krajan Kulon, Desa Wates, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, Jatim, Senin (30/3/2026).
Bahkan, karena sulitnya mendapatkan barang bersubsidi itu, Lastri mengaku beralih kembali menggunakan kayu bakar. Dia hanya memasak menggunakan kompor gas saat penting.
“Kalau gak ada barang beralih kayu bakar. Misal rebus air, memasak maupun memasak nasi. Ya gimana kan memang gas gak ada,” pungkasnya .