Kematian Misterius Gita Fitri di Kepahiang, 14 Adegan Diperagakan saat Rekonstruksi
Hendrik Budiman March 30, 2026 11:54 PM

Gita ditemukan tewas di kebun pepaya yang berada di Desa Talang Sawah, Kecamatan Bermani Ilir, Kabupaten Kepahiang, pada Rabu dini hari (4/2/2026).

Rekonstruksi diawali saat Gita tiba di pondok kebun pepaya milik tersangka MK di Desa Talang Sawah, Kepahiang.

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan

TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG - Rekonstruksi kasus kematian Gita Fitri Ramadani (25) di kebun pepaya Desa Talang Sawah, Senin (30/3/2026) dengan menghadirkan tersangka yang memperagakan 14 adegan dilakukan Polres Kepahiang.

Diketahui, Gita ditemukan tewas di kebun pepaya yang berada di Desa Talang Sawah, Kecamatan Bermani Ilir, Kabupaten Kepahiang, pada Rabu dini hari (4/2/2026).

Setelah peristiwa tersebut, sejumlah dugaan kejanggalan dan polemik terkait kematian Gita Fitri mencuat dan ramai menjadi sorotan masyarakat.

Sehingga, untuk memperjelas kasus tersebut, pihak kepolisian melakukan rekonstruksi terhadap kasus tersebut.

"Hari ini kita menggelar rekonstruksi untuk membuka kasus ini, dengan menhadirkan saksi, tersangka dan pengacara kedua belah pihak," ucap Kapolres Kepahiang, AKBP Yuriko Fernanda.

Yuriko menegaskan dalam rekonstruksi yang terbagi menjadi 14 adegan tersebut tidak ada yang ditutupi.

"Kita melaksanakan 14 adegan tadi dan tidak ada yang ditutup-tutupi," ujar Yuriko.

SAKSI KATA - Ibu korban Selli (kiri) dan kuasa hukum keluarga korban Rustam (kanan) saat diwawancarai TribunBengkulu.com pada Senin (17/3/2026). Polemik kematian Gita Fitri Ramadani perempuan muda asal Desa Batu Bandung, Kabupaten Kepahiang, terus bergulir dan menyisakan berbagai tanda tanya hingga ke DPR RI
SAKSI KATA - Ibu korban Selli (kiri) dan kuasa hukum keluarga korban Rustam (kanan) saat diwawancarai TribunBengkulu.com pada Senin (17/3/2026). Polemik kematian Gita Fitri Ramadani perempuan muda asal Desa Batu Bandung, Kabupaten Kepahiang, terus bergulir dan menyisakan berbagai tanda tanya hingga ke DPR RI (TribunBengkulu.com/Bima Kurniawan)

Ia mempersilahkan apabila ada masyarakat yang ingin bertanya setelah proses rekonstruksi.

"Apabila masyarakat ingin bertanya boleh, dipersilahkan agar tidak ada persepsi lain tapi tidak mungkin kita buka bukti-bukti secara vulgar," jelas Yuriko.

Selama proses rekonstruksi, Yuriko menerangkan bahwa tidak ada pihak yang membantah.

"Tidak ada yang membantah tadi, sampai saat ini juga belum ada yang membantah," kata Yuriko.

Setelah dilakukan rekonstruksi, berkas yang sebelumnya P19 akan dilengkapi kembali oleh pihak kepolisian.

"Setelah rekonstruksi kan ini P19 dari kejaksaan, jadi kita lengkapi berkas lagi baru kita kirim lagi ke kejaksaan," jelas Yuriko.

Sementara itu, untuk personel yang dikerahkan dalam pelaksanaan rekonstruksi tersebut berjumlah 89 orang.

"89 orang personel yang kita kerahkan," pungkas Yuriko.

Adegan per Adegan

Dari pengamatan wartawan TribunBengkulu.com, rekonstruksi diawali saat Gita tiba di pondok kebun pepaya milik tersangka MK di Desa Talang Sawah, Kepahiang.

Saat itu, suasana kebun tampak seperti aktivitas biasa.

Salah satu saksi terlihat sedang menyemprot keong di area kebun.

Saksi tersebut diketahui merupakan karyawan MK, sementara MK sendiri berada di pondok.

Gita yang datang tidak naik ke pondok, melainkan turun dan bergerak menjauh dari bangunan tersebut.

Tak lama kemudian, sebuah sepeda motor datang ke pondok yang ternyata merupakan kawan dari saksi.

Meski demikian, saksi yang sedang menyemprot tidak menaruh kecurigaan terhadap situasi tersebut.

Ia bahkan sempat mengajak kawan yang datang dengan sepeda motor untuk ikut menyemprot, namun ajakan itu ditolak.

Di saat yang sama, Gita berjalan menuju bagian belakang pondok.

Setelah aktivitas menyemprot keong selesai, para saksi mulai mencari keberadaan Gita.

Namun, Gita tidak ditemukan di sekitar area pondok.

Pencarian kemudian berlanjut hingga ke ujung kebun.

Di lokasi itulah Gita ditemukan dalam kondisi telungkup, terjerat perangkap babi.

Posisinya terjatuh dengan tangan kanan dan kaki kanan tersangkut jerat.

Melihat kondisi tersebut, saksi langsung berupaya menyelamatkan korban menggunakan batang pepaya.

Namun upaya tersebut tidak berhasil.

Baca juga: Alasan Polres Kepahiang Belum Ungkap Hasil Autopsi Gita Fitri, Meski Kuasa Hukum Sebut Sudah Keluar

Situasi yang mendesak membuat salah satu saksi akhirnya menggunakan parang untuk memotong kabel jerat.

Setelah jerat berhasil dilepaskan, tubuh Gita kemudian dipindahkan ke atas tebing dengan jarak sekitar 3 meter dari lokasi awal.

Melihat kondisi korban, saksi segera memanggil MK yang saat itu masih berada di pondok.

MK kemudian keluar dari pondok dan menyusul ke lokasi.

Setibanya di sana, ia melihat kondisi korban dan mencoba memastikan keadaan Gita.

Korban dipanggil dan tubuhnya digoyang-goyangkan, namun tidak ada respons.

Setelah diyakini korban telah meninggal dunia, Gita kemudian dibawa ke pondok.

Karena saat itu kondisi hujan, tubuh korban sempat dibersihkan.

Selanjutnya, MK menghubungi kepala desa dan pihak kepolisian untuk melaporkan kejadian tersebut.

Kepala desa Embong Ijuk, yang diketahui masih memiliki hubungan keluarga dengan MK, kemudian datang ke lokasi.

Tidak lama berselang, pihak kepolisian juga tiba dan membawa korban ke rumah sakit bersama para saksi.

Rekonstruksi berhenti dengan adegan tersebut, dan hingga saat ini pihak kepolisian belum mengungkap alasan Gita Fitri mendatangi kebun mulik tersangka MK.

Kematian Gita Fitri Misterius

Seperti diketahui, kasus kematian Gita Fitri menuai polemik dan dianggap memiliki banyak kejanggalan.

Sejumlah dugaan kejanggalan dan polemik terkait kematian Gita Fitri mencuat dan ramai menjadi sorotan masyarakat.

Kuasa hukum keluarga bahkan telah melaporkan dua oknum anggota Polres Kepahiang ke Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Bengkulu pada Jumat (6/3/2026), karena diduga adanya pelanggaran kode etik dan penyalahgunaan wewenang dalam penanganan kasus tersebut.

Di sisi lain, pihak kepolisian sebelumnya menyatakan korban diduga meninggal akibat tersengat listrik dan telah menetapkan satu tersangka berinisial MK, pemilik kebun tempat korban ditemukan.

Namun, keluarga korban menilai masih banyak kejanggalan yang belum terjawab, mulai dari hilangnya handphone korban, proses olah tempat kejadian perkara (TKP) yang dinilai terlambat, hingga dugaan pemindahan jenazah sebelum penanganan resmi dilakukan.

Selain itu, keluarga juga mempertanyakan adanya informasi terkait penggantian meteran listrik di lokasi kejadian, tidak ditampilkannya sejumlah barang bukti seperti empat botol infus, serta belum diterimanya hasil visum awal oleh pihak keluarga.

Alasan Polisi

Kasus ini semakin menjadi sorotan publik setelah dilakukan pembongkaran makam untuk autopsi lanjutan, yang juga diiringi desakan ratusan warga agar penanganan kasus dilakukan secara transparan dan tuntas.

Dari pembongkaran tersebut, jenazah korban dibedah dan diambil sampel berupa organ jantung dan cairan sisa makanan yang berada di lambung.

"Yang dilakukan itu ekshumasi yaitu menggali kuburan, jenazahnya diangkat kemudian dilakukan pembedahan jenazah. Pada sampel yang kita ambil ada jantung sama cairan sisa makanan yang telah membubur di lambung," ungkap Dokter Marlis Tarmizi.

Pengambilan sampel tersebut berlangsung lancar dan hasil sampel akan dibawa ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

"Tidak ada kesulitan, hasilnya akan dikirim dan menunggu dari pemeriksa patologi anatomi di laboratorium nanti, dan waktunya tidak bisa kita prediksi," pungkas Marlis.

Setelah dilakukan proses autopsi di laboratorium, salah satu kuasa hukum Rustam Efendi menyebut hasil autopsi sampel tersebut sudah keluar.

"Hasil autopsi sudah keluar seminggu lalu, tapi memang di umumkan dengan pihak kepolisian," kata Rustam pada Kamis (26/3/2026).

Di sisi lain, Kasat Reskrim Polres Kepahiang Iptu Bintang Yudha Gama saat dikonfirmasi TribunBengkulu.com mengungkapkan bahwa masih menunggu pihak dokter forensik yang membaca hasil autopsi agar sah dan valid.

"Belum karena dokter forensik yg bisa baca, supaya valid dan sah," pungkas Bintang.

Penetapan Tersangka

Kasat Reskrim Polres Kepahiang, Iptu Bintang Yudha Gama, menjelaskan bahwa penyidik telah menetapkan satu orang tersangka terkait kasus kematian Gita Fitri Ramadhani.

Penetapan tersangka tersebut disampaikan dalam konferensi pers bersama awak media pada Senin (2/3/2026).

“Dari kasus korban tersengat listrik yang mengakibatkan meninggal dunia, tim sudah menetapkan satu orang tersangka, yaitu pemilik kebun,” ucap Bintang.

Dari hasil penyelidikan, korban diduga meninggal dunia akibat tersengat aliran listrik yang dipasang di kebun tersebut.

Dalam pengungkapan kasus ini, pihak kepolisian turut mengamankan sejumlah barang bukti.

Barang bukti tersebut antara lain dua unit telepon genggam milik tersangka, pakaian yang dikenakan korban, KWh listrik, kabel listrik, serta kawat yang digunakan untuk mengaliri arus listrik sebagai jerat babi.

Selain itu, polisi juga mengamankan dua papan peringatan adanya aliran listrik di lokasi kebun.

Dijerat Pasal Kelalaian hingga Menyebabkan Kematian

Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 474 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Pasal tersebut mengatur tentang kelalaian yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia.

“Setiap orang yang karena kealpaannya mengakibatkan matinya orang lain diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau pidana denda paling banyak Rp 500 juta,” tegas Bintang.

Penetapan tersangka inilah yang dinilai aneh oleh pihak keluarga korban, karena dilakukan sebelum proses autopsi serta dinilai belum didukung alat bukti yang lengkap, hingga kemudian kasusnya begulir ke Komisi III DPR RI.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.