Tiket Mahal Hingga Kebijakan Trump Bikin Fans Ragu Hadiri Piala Dunia 2026
Tribunnews March 31, 2026 01:33 AM

Seperti banyak orang Brasil lainnya, Thiago Pessao sudah terpikat oleh Piala Dunia sejak kecil. Ketika turnamen itu digelar di negaranya pada 2014, kecintaannya berubah menjadi obsesi penuh. Ia menonton 23 pertandingan pada edisi tersebut dan 17 pertandingan lagi di Rusia empat tahun kemudian. Hanya tersingkirnya Brasil lebih awal serta kesepakatan dengan istrinya untuk pulang sesuai jadwal keberangkatan yang menghentikannya menonton lebih banyak laga di Qatar 2022.

Singkatnya, Pessao adalah penggemar setia Piala Dunia, baik yang melibatkan Brasil maupun pertandingan lainnya. Namun, kali ini pun ia kesulitan membenarkan biaya dan kerumitan menghadiri turnamen yang sebagian besar digelar di Amerika Serikat (AS) dan diperluas formatnya.

Ia memperkirakan sudah menghabiskan sekitar 30.000–40.000 dolar AS (sekitar Rp471 juta – Rp640 juta). Tiket pertandingan fase grup Brasil di New Jersey, Philadelphia, dan Miami, serta kemungkinan laga babak 32 besar di Houston, saja sudah menelan biaya lebih dari 4.000 dolar AS. Tiket pesawat pulang-pergi ke Brasil sekitar 5.000 dolar AS, sementara kombinasi penerbangan domestik, akomodasi, tiket pertandingan tambahan, dan uang belanja terus menambah pengeluaran.

Sebagai perbandingan, ia memperkirakan hanya menghabiskan sedikit di atas 10.000 dolar AS di Qatar, dengan perbedaan utama pada harga tiket. Biayanya bahkan lebih rendah pada edisi-edisi sebelumnya.

Jika Brasil, pemegang rekor gelar terbanyak, berhasil melaju hingga final, tagihannya akan bertambah lagi. Itu pun belum termasuk jika ia menonton pertandingan netral, yang biasanya menjadi bagian dari rutinitasnya saat Piala Dunia.

“Saya suka menonton banyak pertandingan. Tapi untuk Piala Dunia kali ini, tiketnya terlalu mahal, jadi rencana saya sekarang hanya mengikuti Brasil,” katanya kepada DW. “Tiket final harganya 4.000 atau 5.000 dolar AS [tiket termurah saat ini sekitar 4.185 dolar AS atau sekitar Rp77 juta]. Menurut saya itu terlalu mahal, tapi perasaan saya jika Brasil masuk final, saya harus ada di sana. Mungkin orang lain berpikir berbeda, tapi bagi saya motivasinya tetap ada.”

Harga tinggi dan kekhawatiran soal atmosfer

Pessao sebenarnya memiliki tiket final Piala Dunia 2022, tetapi kemudian menjualnya kembali. Ia mengatakan sistem harga dinamis yang diterapkan untuk turnamen 2026 serta minimnya permintaan di portal pertukaran tiket baru milik FIFA, yang mengharuskan pembeli membayar harga tinggi dan biaya tambahan sebelum mengetahui jadwal pertandingan, membuatnya memilih menunggu.

Posisinya relatif beruntung, karena anggaran sebesar itu dan fleksibilitas perjalanan jelas tidak dimiliki banyak orang, terutama dari negara-negara peserta dengan pendapatan rata-rata yang lebih rendah.

Sampai batas tertentu, situasi ini memang selalu terjadi pada Piala Dunia. Biasanya hal itu sedikit teredam oleh adanya tiket lebih murah dan paket perjalanan bagi penggemar dari negara yang mengikuti tim mereka sejak fase kualifikasi. Meskipun FIFA akhirnya merilis sejumlah kecil tiket seharga 60 dolar AS pada Desember setelah mendapat tekanan dari penggemar, Pessao memperkirakan pemandangan khas Piala Dunia, pawai suporter, tarian, dan nyanyian, mungkin akan berkurang. Ia juga khawatir iklim politik akan memengaruhi pengunjung asing seperti dirinya.

“Dibandingkan Piala Dunia sebelumnya, saya sedikit lebih khawatir tentang bagaimana suasana dan lingkungan yang terasa lebih bermusuhan akan memengaruhi pengalaman ini. Saya pikir kehadiran ICE di stadion atau di kota-kota akan menurunkan atmosfer.”

Kekhawatiran serupa juga dirasakan penggemar tim nasional Amerika Serikat, Adaer Melgar. Ia mulai menabung 100 dolar AS per bulan sejak delapan tahun lalu ketika penyelenggaraan Piala Dunia diberikan kepada negaranya, dan sudah memperkirakan biaya yang tinggi.

Meski tinggal dekat Stadion MetLife di New Jersey, yang seharusnya membuat semuanya semurah mungkin, ia tetap terkejut dengan total biaya.

Tuduhan “mesin uang” membuat turnamen tak terjangkau

“Saya merasa masuk ke proses pembelian tiket dengan kepala dingin, dengan pemahaman bahwa ini akan sangat mahal, tetapi tetap saja jauh melampaui ekspektasi saya,” katanya. Enam tiket untuk dua pertandingan non-AS menghabiskan 3.400 dolar AS.

“Saat ini saya juga bergulat dengan dilema etis, ingin memboikot Piala Dunia karena pemerintahan [Donald Trump] dan cara FIFA menjalankan turnamen ini. Misalnya, mereka mengenakan biaya untuk masuk ke fan zone. Itu belum pernah dilakukan sebelumnya. Rasanya seperti cara besar untuk mengeruk uang.”

Sementara Pessao dan Melgar masih mempertimbangkan berbagai keraguan mereka, bagi sebagian orang biaya yang terus meningkat serta suasana yang dianggap tidak ramah membuat mereka memilih tetap di rumah. Bengt Kunkel, Stimmungsmacher (pemimpin suporter/penggerak atmosfer) tim nasional Jerman, mengambil keputusan itu. Ia memperkirakan biaya rata-rata bagi penggemar Jerman untuk menghadiri tiga pertandingan fase grup mencapai antara €5.000 hingga €8.000 (sekitar Rp85 juta sampai Rp140 juta.

“Sebagai orang biasa, Anda benar-benar tidak punya peluang untuk mampu menghadiri turnamen ini,” katanya, seraya menambahkan bahwa pemeriksaan media sosial terhadap pengunjung ke AS juga menjadi faktor dalam keputusannya.

Kunkel tidak sendirian. Pada Selasa (24/3), kelompok konsumen Eropa Euroconsumers dan organisasi suporter Football Supporters Europe mengajukan pengaduan terhadap FIFA. Mereka menuduh badan sepak bola dunia itu melanggar Pasal 102 Perjanjian tentang Fungsi Uni Eropa, yang melarang penyalahgunaan posisi dominan di pasar.

Keluhan tersebut mencakup harga tiket, platform penjualan kembali milik FIFA, di mana pembeli dan penjual sama-sama dikenakan biaya 15 persen, sistem harga dinamis, serta apa yang mereka sebut sebagai taktik penjualan yang menekan.

“Email kepada penggemar mengklaim ‘akses eksklusif’ ke jendela tiket ‘terbatas’ yang sebenarnya tidak mencerminkan kenyataan. Dengan menciptakan urgensi buatan, FIFA menekan penggemar untuk membuat keputusan terburu-buru,” bunyi pernyataan mereka.

Kendala visa dan larangan perjalanan

Dua Piala Dunia sebelumnya juga memiliki proses visa sementara yang dipercepat. Namun meskipun FIFA PASS menawarkan “kesempatan untuk mendapatkan jadwal wawancara visa yang dipercepat jika diperlukan”, FIFA menegaskan bahwa memiliki tiket tidak menjamin visa.

Hal ini menjadi masalah bagi sebagian penggemar, termasuk dari negara yang baru pertama kali lolos ke Piala Dunia seperti Yordania. Sejumlah penggemar yang diwawancarai DW mengatakan permohonan visa mereka tertunda atau ditolak. Dengan kedutaan AS saat ini juga tutup karena perang AS–Israel dengan Iran, harapan mereka semakin kecil.

“Kami meminta bantuan dari Kedutaan Besar AS untuk meninjau dengan serius permohonan para penggemar Yordania. Kami sudah mengajukan, tetapi sampai sekarang belum mendapat jawaban. Permohonan kami masih tertahan di sana,” kata penggemar Yordania, Ghazi Al Samouee.

Pada Rabu (25/3), Departemen Luar Negeri AS juga menambahkan 12 negara ke dalam daftar negara yang warganya harus menyetor jaminan hingga 15.000 dolar AS untuk berkunjung. Tunisia termasuk dalam daftar baru tersebut, sementara Aljazair dan Tanjung Verde sudah lebih dulu tercantum meski tim mereka lolos ke Piala Dunia.

Sebagian penggemar bahkan tidak sempat memikirkan visa. Meski partisipasi Iran tampak kecil kemungkinannya karena perang, warga Senegal, Haiti, dan Pantai Gading masuk dalam daftar larangan perjalanan yang dikeluarkan Presiden Donald Trump. Mereka tidak akan bisa datang ke turnamen kecuali memiliki paspor alternatif.

Hal ini bertentangan dengan janji Presiden FIFA Gianni Infantino pada 2025 bahwa “semua orang akan disambut di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat untuk Piala Dunia FIFA tahun depan.”

“Jika kami tidak diterima sebagai pendukung, tim kami seharusnya tidak pergi dan kami juga tidak perlu datang sebagai suporter,” kata seorang penggemar Senegal kepada DW saat Piala Afrika awal tahun ini. “Kami adalah kekuatan dari kompetisi ini. Tanpa penonton, tidak ada apa-apa. Tanpa penonton, tidak ada olahraga, tidak ada hiburan.”

Infantino dan FIFA sendiri berulang kali menegaskan pentingnya kehadiran penggemar bagi Piala Dunia.

“Dunia membutuhkan momen-momen persatuan, mempertemukan tim, mempertemukan orang, dan mempertemukan para penggemar,” kata Infantino dalam pernyataan yang sama tahun lalu.

Namun apakah karena larangan perjalanan, kekhawatiran soal keamanan, kesulitan mendapatkan visa, atau sekadar tidak mampu membayar, banyak penggemar di seluruh dunia kini merasa tidak benar-benar disambut di Amerika Serikat.

Dana Sumlaji dan Thomas Klein turut berkontribusi dalam laporan ini.

Diadaptasi oleh Rahka Susanto

Editor: Yuniman Farid

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.