TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Di balik senyum bahagia saat menerima gelar Sarjana Hukum (S.H), tersimpan kisah panjang penuh perjuangan dari seorang perempuan asal Kabupaten Jayawijaya, Adolvina Matuan.
Lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Manokwari ini membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih mimpi.
Adolvina memulai perjalanan pendidikannya dari Lembah Baliem, Jayawijaya.
Ia tumbuh dalam keluarga sederhana bersama lima bersaudara, salah satunya telah lebih dulu meninggal dunia.
Mereka dibesarkan oleh seorang ibu yang menjadi tulang punggung keluarga.
Dengan tekad kuat, Adolvina menapaki pendidikan dari SD hingga SMA, dan berhasil lulus pada tahun 2020 di tengah pandemi Covid-19.
Namun, keterbatasan ekonomi membuatnya harus menunda kuliah selama setahun.
“Saya lulus tahun 2020 saat pandemi, tapi karena keterbatasan biaya baru bisa kuliah tahun 2021 di Manokwari,” ujarnya.
Baca juga: Komitmen Inklusif Jadi Fondasi Kepercayaan Publik terhadap STIH Manokwari
Awalnya ia berencana melanjutkan studi di Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura Papua, namun karena keterlambatan pendaftaran, ia memilih STIH Manokwari sebagai tempat menimba ilmu.
Sejak itu, ia berjuang mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya kuliah.
Berbagai pekerjaan dilakoninya, mulai dari beternak babi, berjualan hasil kebun, hingga membuka usaha kios kecil.
“Saya jalani semua itu supaya tidak membebani siapa pun. Itu komitmen saya sejak awal,” tuturnya.
Perjalanan kuliah tidak selalu mudah. Adolvina mengaku sempat berada di titik terendah dan hampir menyerah.
Di tengah perjuangan, ia juga menjalani peran sebagai seorang ibu setelah dikaruniai seorang anak.
Namun, kondisi tersebut tidak mematahkan semangatnya. Baginya, sosok sang mama adalah sumber kekuatan terbesar.
“Saya pikir, kalau saya tidak berhasil, pengorbanan mama itu mau dibayar dengan apa?” katanya dengan suara bergetar.
Baca juga: STIH Manokwari Wisuda 224 Sarjana Hukum Angkatan ke-41
Doa sang ibu menjadi penguat langkahnya hingga akhirnya ia berhasil menyelesaikan studi.
Gelar Sarjana Hukum yang diraihnya kini bukan hanya kebanggaan pribadi, tetapi juga persembahan untuk keluarga, terutama sang ibu.
“Ini untuk mama, untuk keluarga. Saya ingin membahagiakan mereka,” ucapnya.
Kisah Adolvina Matuan menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya.
Dengan keteguhan hati, kerja keras, dan doa, setiap mimpi dapat diwujudkan.
Di balik setiap air mata, selalu ada kekuatan untuk bangkit menuju masa depan yang lebih baik.