TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG mengingatkan masyarakat di wilayah pesisir Pulau Flores hingga Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) mewaspadai banjir rob atau banjir pesisir pada 1-8 April 2026.
Peringatan potensi banjir rob ini terjadi karena fenomena fase bulan purnama pada 2 April 2026. Fenomena ini berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum di sejumlah wilayah pesisir NTT.
Selain Pulau Flores-Alor, wilayah pesisir yang terdampak yakni Pulau Sumba 1-3 April2026, PulauTimor dan Sabu-Raiju 1-8 April 2026.
BMKG mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir terdampak untuk selalu waspada dan siaga mengantisipai dampak pasang maksimum air laut.
Baca juga: Peralihan Monsun Asia Menuju Monsun Australia, Waspada Cuaca Ekstrem Sepekan ke Depan
Aktivitas masyarakat yang secara umum terdampak seperti di sekitar pelabuhan, bongkar muat di pelabuhan, aktivitas di pemukiman pesisir, serta aktivitas tambak garam dan perikanan darat.
BMKG juga merilis prakiraan kondisi sinoptik dan peringatan dini gelombang laut untuk wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Laporan ini berlaku mulai hari ini, 31 Maret 2026 pukul 08.00 WITA hingga 3 April 2026 pukul 08.00 WITA.
Berdasarkan pantauan BMKG, pola angin di wilayah NTT secara umum bergerak dari arah Timur Laut hingga Tenggara. Kecepatan angin tercatat cukup signifikan, berkisar antara 4 hingga 31 knot.
Kecepatan angin tertinggi terpantau di Selat Sumba Laut Sawu, perairan utara dan selatan Timor, Selat Ombai dan Selat Pukuafu, perairan utara Kupang – Rote dan perairan Sabu Raijua.
Baca juga: BMKG Sebut NTT Mulai Masuk Musim Kemarau pada April 2026, Petani Diimbau Pilih Varietas Hemat Air
Masyarakat dan operator kapal diminta untuk waspada terhadap keberadaan awan Cumulonimbus atau awan gelap pekat menyerupai bunga kol.
Kehadiran awan ini berpotensi memicu perubahan arah angin secara tiba-tiba serta meningkatkan tinggi gelombang secara signifikan dalam waktu singkat.
Potensi gelombang dengan ketinggian 1.25 hingga 2.5 meter yang berpeluang terjadi di Selat Sape bagian selatan, Laut Sawu, perairan utara dan selatan Sabu Raijua, Selat Sumba bagian barat, dan perairan selatan Sumba.
Sumber; BMKG