Laporan jurnalis TribunBekasi.com, Rendy Rutama Putra
TRIBUNBEKASI.COM, TAMBUN SELATAN- Tri Wibowo (60) menjadi korban penyiraman air keras saat hendak menunaikan salat subuh di Perumahan Bumi Sani Permai (BSP) RT 01 RW 14, Desa Setiamekar, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Senin (30/3/2026) sekira pukul 04.50 WIB.
Saat tengah berjalan menuju ke masjid yang berada di sekitar rumahnya, Tri Wibowo disiram air keras oleh pengendara sepeda motor.
Belum diketahui apa motif pelaku yang berjumlah dua orang tersebut telah melakukan aksinya terhadap Tri Wibowo.
Dan ternyata di kawasan tersebut aksi penyiraman air keras bukan kali ini terjadi. Peristiwa
Warga sekitar, Ning mengaku melihat terduga pelaku yang melakukan aksi penyiraman teradap korban.
Ning mengatakan, sebelum menemui korban, ia sempat melihat dua orang berboncengan mengenakan sepeda motor melaju kencang di depan rumahnya yang diketahui berjarak lebih kurang 10 meter dari lokasi kejadian.
Ia menduga dua orang itu adalah pelaku penyiraman air keras kepada Tri.
Dugaan itu diperkuat lantaran sebagian aksi kejadian juga terekam oleh CCTV warga di sekitar.
Baca juga: Tri Wibowo Warga Bekasi Jadi Korban Penyiraman Air Keras saat Hendak Salat Subuh
“Saya dengar suara rawungan, habis itu ada motor ngebut lewat depan saya. Tapi saya tidak perhatikan detail pengendaranya,” kata Ning kepada Tribun Bekasi saat ditemui di lokasi kejadian, Selasa (31/3/2026).
Ning menjelaskan, berdasarkan pengamatannya, pelaku nampak berpenampilan rapi dan mengenakan helm.
“Ada dua, pakaiannya rapi, pakai jaket kayak kulit, terus pakai helm. Perawakannya biasa, tidak gemuk, tidak kurus,” jelasnya.
Atas kejadian ini, Ning mewakili warga sekitar berharap aparat kepolisian segera mengungkap pelaku dan meningkatkan keamanan lingkungan.
Sementara itu, menurut pengakuan Ning, pihak kepolisian diketahui telah mendatangi lokasi kejadian dan melakukan penyelidikan, termasuk memeriksa rekaman CCTV warga.
“Harapannya saya minta keamanan dong. Biar segera ditangkap pelakunya,” harapnya.
Sebagai informasi, kejadian itu bermula saat Ning awalnya mengaku mendengar suara rintihan dari luar rumahnya saat suasana masih gelap menjelang subuh.
“Saya posisi lagi di luar rumah, terus si korban ini mau ke musala salat subuh, saya dengar kok ada suara merawung-merawung,” imbuhnya.
Merasa curiga, Ning kemudian mencari sumber suara tersebut.
Betapa terkejutnya Ning ketika melihat korban sudah dalam kondisi tubuh basah dan tampak meringis kesakitan.
“Pas saya lihat, kondisi tubuhnya sudah basah semua sembaru merawung-merawung gitu,” tutur Ning.
Ning lalu meminta bantuan anaknya untuk menghampiri korban.
Saat mencoba menolong, korban tidak mampu berbicara dan hanya terus mengerang kesakitan.
Korban juga sempat kesulitan berjalan akibat luka yang dialami hingga sempat terjatuh di pinggir got sebelum dievakuasi.
Melihat kondisi korban dan pakaian yang tampak rusak, Ning langsung menduga kalau Tri menjadi korban penyiraman air keras.
“Saya curiga, jangan-jangan bapak ini disiram air keras, soalnya bajunya rusak, terus basah, dan pegangin muka sambil kayak nunjukin kesakitan,” ujarnya.
Ning pun meminta anaknya berhati-hati saat mengevakuasi korban karena khawatir cairan tersebut masih berbahaya.
Tak berselang lama pasca kejadian, warga sekitar yang mendengar teriakan minta tolong dari anaknya Ning langsung berdatangan dan membantu mengevakuasi korban.
Warga kemudian membawa korban untuk mendapatkan penanganan medis.
Hanya saja Ning mengaku tidak mengetahui kondisi terbaru korban setelah dibawa dari lokasi.
"Saya lihat itu baju rusak, setelah dibawa ke rumahnya sama warga, saya tidak tahu lagi, tapi infonya sekarang dirawat di Rumah Sakit (RS) Primaya," pungkasnya. (M37)