TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - SPBU swasta di Kota Bandung mulai bersiap menghadapi rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi yang diwacanakan berlaku per 1 April 2026 mulai pukul 00.00 WIB.
Penyesuaian harga ini dampak dari mandeknya pasokan minyak mentah dari 2 tanker Pertamina yang tertahan di Selat Hormuz.
Selat Hormuz yang terletak di Timur Tengah merupakan urat nadi sebagian besar impor minyak dan gas dunia.
20 persen pasokan minyak dunia diangkut melewati Selat Hormuz.
Meski ada rencana kenaikan BBM nonsubsidi akibat adanya konflik di Timur Tengah itu, hingga kini belum ada antrean pengisian Pertamax dan semacamnya.
Pantauan Tribun Jabar di SPBU Ciwastra kondisi pengendara yang mengisi BBM masih normal.
Baca juga: Harga BBM Nonsubsidi Naik Per 1 April, Pengamat Unpar Ingatkan Efek Berantai Ongkos Logistik
Pengendara yang mengisi BBM nonsubsidi sebelum terjadi kenaikan harga itu terpantau tidak mengantre panjang.
Antrean justru terjadi di tempat pengisian Pertalite seperti hari-hari biasanya karena harganya jauh lebih murah.
Pengawas SPBU Ciwastra, Enjay mengatakan dengan adanya rencana kenaikan harga BBM nonsubsidi itu pihaknya akan segera melakukan antisipasi antrean, terutama untuk pengendara yang mengisi Pertamax.
"Kita melakukan antisipasi saja sih dengan melibatkan pihak keamanan buat jaga-jaga (jika terjadi) antrean," ujarnya saat ditemui di SPBU Ciwastra, Kota Bandung, Selasa (31/3/2026).
Untuk saat ini harga Pertamax tersebut masih Rp 12.300 per liter, namun beredar informasi bahwa mulai 1 April 2025 akan mengalami kenaikan sekitar Rp 5.000.
Namun, besaran kenaikan harga tersebut hingga saat ini belum bisa dipastikan.
Sebelum kenaikan harga BBM itu, pengelola SPBU akan segera melakukan PO pengisian karena stok BBM berbagai jenis sudah mulai menipis karena sejak beberapa hari yang lalu belum menambah pasokan BBM.
"Melakukan pengisian nanti malam juga ada, enggak ada pembatasan. Pasokan banyak, ada dua ton Pertalite, Pertamax 6 ton cukup untuk sampai besok lah," kata Enjay.
Dia memastikan, meski sudah ada rencana kenaikan BBM nonsubsidi, hingga saat ini antrean pengendara yang mengisi Pertamax di SPBU Ciwastra masih tetap normal karena tidak terjadi panic buying.
Namun, langkah antisipasi untuk mencegah antrean akan dilakukan.
"Antisipasinya, kita melibatkan pihak kepolisian buat jaga-jaga antrean. (Sekarang) belum ada antrean masih normal," ucapnya.
Sementara seorang pengendara motor, Rudi Rustandi (35) mengatakan, baru mengetahui terkait adanya rencana kenaikan BBM nonsubsidi tersebut.
Namun, jika kondisi ini terjadi tentu akan memberatkan masyarakat.
"Kalau kata warga masyarakat mah agak berat. Saya biasa ngisi Pertamax, ada Pertalite. Kalau ada rencana kenaikan dari pertamax pasti (pakai) Pertalite saja," kata Rudi.
Dalam sehari, Rudi biasanya mengisi Pertamax sebanyak dua liter, sedangkan jika mengisi menggunakan Pertalite bisa lebih banyak karena selama ini harganya memang jauh lebih murah.
Sehingga dia berharap kenaikan BBM ini tidak sampai terjadi.
"Harapannya kalau bisa enggak ada kenaikan agar bisa tetap gantian ngisi Pertamax atau Pertalite," ucapnya.
Kabar terbaru datang dari perairan Timur Tengah terkait nasib empat kapal tanker milik PT Pertamina (Persero) yang sempat terjebak di tengah memanasnya konflik geopolitik sejak akhir Februari 2026 lalu.
Hingga pertengahan Maret 2026, dilaporkan dua kapal tanker di bawah manajemen PT Pertamina International Shipping (PIS) telah berhasil keluar dari zona merah, sementara dua unit lainnya masih dalam proses pemantauan ketat karena tertahan di area konflik.
Dua kapal yang telah dipastikan aman dan berhasil keluar dari perairan Timur Tengah adalah PIS Rinjani dan PIS Paragon.
Keduanya sempat terjebak saat ketegangan militer meletus pada 28 Februari 2026.
Meski merupakan aset milik Pertamina, pihak manajemen mengklarifikasi bahwa kedua tanker tersebut sedang tidak mengangkut pasokan minyak untuk kebutuhan dalam negeri (RI).
"Kedua kapal tersebut (PIS Rinjani dan PIS Paragon) sedang melayani kontrak untuk pihak ketiga ke negara lain, bukan untuk pasokan minyak nasional," tulis laporan terkait operasional PIS di pasar internasional.
Sementara itu, perhatian kini tertuju pada dua kapal tanker lainnya yang dilaporkan masih tertahan.
Pemerintah melalui instansi terkait terus menjalin komunikasi dengan otoritas di wilayah Selat Hormuz untuk memastikan keselamatan kru dan kargo yang dibawa.
Situasi di jalur distribusi energi paling strategis di dunia tersebut memang sedang berada dalam tekanan tinggi akibat konflik regional.
Hal ini memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi dunia, termasuk potensi dampaknya terhadap harga minyak mentah.
Indonesia adalah net importer minyak mentah dan hasil olahan (BBM). Sebagian besar pasokan minyak dari Timur Tengah (seperti Arab Saudi atau Kuwait) harus melewati Selat Hormuz.
Jika tanker tertahan atau jalur terganggu:
Ketegangan di Selat Hormuz hampir selalu memicu kenaikan harga minyak mentah dunia (Brent/WTI).
Kenaikan harga energi selalu diikuti oleh kenaikan biaya lainnya: