Jelajahi Sejarah Papua, 600 Pelajar Jayapura Masuk ke Museum Waktu di PYCH
Marius Frisson Yewun March 31, 2026 05:29 PM

 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita 

TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI - Komunitas Satu Mimpi bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Jayapura, Provinsi Papua, menyelenggarakan kegiatan sosial bertajuk Museum Waktu “Mimpi di Tanah Papua” di Papua Youth Creative Hub (PYCH), Kota Jayapura, Selasa (31/3/2026). 

Kegiatan ini bertujuan memberikan ruang edukasi sejarah yang interaktif bagi generasi muda di Papua. Program ini melibatkan sedikitnya 600 pelajar yang terbagi atas 200 siswa SD, 200 siswa SMP, dan 200 siswa SMA dari berbagai sekolah di wilayah Kota Jayapura.

​Founder Komunitas Satu Mimpi, Kevin Faza, menjelaskan bahwa Museum Waktu mengemas materi sejarah Papua ke dalam lima zona waktu yang disusun secara kronologis. Cakupan materi dimulai dari masa pra-kolonial, masa kolonial, era Perang Dunia, proses integrasi Papua ke Indonesia, hingga periode otonomi khusus dan pembangunan masa kini.

Baca juga: Pemerintah Pastikan Tak Ada Kenaikan Harga BBM, tapi Batasi Pembelian BBM Subsidi Mulai 1 April 2026

​"Melalui tur galeri foto yang dibagi dalam beberapa gelombang dan dukungan tampilan visual, para siswa dapat mengikuti alur perjalanan sejarah Papua dengan lebih mudah dan jelas," ujar Kevin Faza.

​Kevin menambahkan, kolaborasi dengan dinas pendidikan ini diharapkan mampu menciptakan model pembelajaran sejarah yang lebih menyenangkan, relevan, dan membangun karakter siswa.

​Selain pameran visual, kegiatan ini juga menghadirkan sesi diskusi bersama Koordinator Penghubung Komisi Yudisial RI Wilayah Papua, Dr. Methodius Kossay. 

Dalam arahannya, Dr. Kossay menekankan bahwa generasi muda Papua merupakan kunci masa depan bangsa yang keberhasilannya ditentukan oleh pola pikir dan kerja keras.

Baca juga: LBH Papua Tuding Polda Lakukan Pembiaran, Kasus Penembakan Mahasiswa Ebenius Tabuni Mandek

​"Keberhasilan anak muda Papua sangat ditentukan oleh perjuangan dan tindakan, bukan sekadar latar belakang kelahiran. Penting bagi mereka untuk mengubah pola pikir negatif dan mematahkan stigma melalui prestasi nyata," tegas Dr. Kossay.

​Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan karakter dan penanaman nilai nasionalisme sejak dini. Menurutnya, rasa cinta tanah air harus dibangun melalui kesadaran bahwa Indonesia adalah realitas yang harus dijaga melalui kontribusi nyata, termasuk oleh pemuda dari Papua.

​Kegiatan Museum Waktu ini diisi dengan pameran foto sejarah, pemutaran film edukasi, serta dialog interaktif yang diharapkan dapat memperkuat identitas dan semangat belajar para siswa di Kota Jayapura.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.