Tribunlampung.co.id, Bekasi - Seorang karyawan kios ayam geprek di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Abdul Hamid alias Bedul (39), menjadi korban pembunuhan dan mutilasi yang diduga dilakukan oleh dua rekan kerjanya, yakni S (27) dan ANC (23).
Peristiwa tragis ini dipicu rasa kesal kedua pelaku setelah korban menolak ajakan mereka untuk mencuri mobil milik sang bos, berinisial ES (32).
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin, menjelaskan bahwa korban dan para pelaku bekerja di tempat yang sama.
“Mereka sama-sama karyawan di sana. Korban sempat diajak melakukan kejahatan, namun menolak. Karena itu, kedua pelaku kemudian membunuh korban,” ujar Iman saat ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Iman menyampaikan, motif S dan ANC adalah ingin menguasai barang milik majikan mereka.
Mulanya, kata Iman, S dan ANC ingin mengambil mobil milik bos yang sedang berlibur.
Namun, karena tidak bisa, mereka akhirnya menggasak motornya.
"Ingin menguasai barang milik majikannya. Awalnya yang mau diambil itu adalah mobil. Tapi karena ada pengamanan yang cukup lumayan ketat sehingga yang rencananya awalnya mobil, bergeser ke motor," jelasnya.
"Namun si korban tetap tidak mau mengikuti kemauan para tersangka. Akhirnya si tersangka membunuh korban tersebut," imbuh Iman.
Sebelumnya, Bedul yang merupakan karyawan kios ayam goreng di Perum Mega Regency, Sukaragam, Serang Baru, Kabupaten Bekasi, menjadi korban pembunuhan disertai mutilasi oleh dua rekan kerjanya berinisial S (27) dan ANC (23).
Pria asal Palembang, Sumatera Selatan, itu ditemukan tewas termutilasi di dalam freezer kios ayam goreng tempatnya bekerja, Sabtu (28/3/2026). Jasadnya pertama kali ditemukan oleh pemilik usaha, ES (32).
Semasa hidup, Abdul Hamid dikenal sebagai sosok sederhana dan mudah bergaul dengan warga sekitar. Ia hidup sebatang kara di Bekasi dan kerap berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Salah satu warga, Aang Wijaya (38), mengatakan, korban telah bekerja di kios tersebut sekitar 2,5 tahun.
“Kesehariannya dia baik, enggak temperamen. Sama tetangga juga sering mengobrol, sering bantu istilahnya. Dia numpang hidup di sini. Kasihan, sudah sebatang kara,” ujar Aang saat ditemui Kompas.com di lokasi, Senin (30/3/2026).
Menurut Aang, korban dikenal sebagai pribadi yang apa adanya dan tidak pernah terlibat masalah.
Ia kerap menghabiskan waktu bersama warga sekitar dalam aktivitas sederhana, di antaranya minum kopi dan berbincang santai. “Dia enggak pernah macam-macam, apa adanya. Enggak pernah tangan panjang (mencuri),” ujar Aang.
sumber: Kompas.com