TRIBUNGORONTALO.COM -- Harga bensin di Amerika Serikat melonjak hingga Rp18 ribu per liter (setara $4,018 per galon) untuk pertama kalinya sejak 2022.
Adapun kenaikan ini dipicu oleh perang di Timur Tengah yang mengguncang pasokan minyak dunia.
Data AAA menunjukkan harga bensin naik lebih dari 30 persen sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari.
Wakil Presiden JD Vance memperingatkan konsumen akan menghadapi “jalan terjal” beberapa minggu ke depan, meski ia menegaskan lonjakan ini bersifat sementara.
Baca juga: Fix! Harga BBM tak Naik per April 2026, Pemerintah Hanya Batasi Pembelian
Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 50 % sejak perang dimulai.
Brent, patokan internasional, mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak kontrak berjangka diciptakan pada 1988.
Minyak mentah AS menuju lonjakan bulanan terbesar sejak 2020.
David Doyle dari Macquarie Group menyebut harga bensin Maret diperkirakan 25 % lebih tinggi dibanding Februari, terbesar sejak Oktober 1990.
Harga diesel menembus Rp22 ribu per liter ($5 per galon) pada 17 Maret, naik lebih dari 40 % dibanding sebelum konflik.
Dampaknya luas karena diesel digunakan truk dan kereta barang untuk distribusi logistik.
Andy Lipow menegaskan konsumen sudah merasakan kenaikan harga tiket pesawat akibat mahalnya bahan bakar jet, namun efek penuh dari diesel baru akan terasa dalam beberapa bulan ke depan.
Patrick De Haan dari GasBuddy memperingatkan inflasi tambahan akan segera menyala, terlihat dari harga supermarket dan pesanan online.
Menteri Energi Chris Wright menyatakan pemerintah berencana menambah pasokan diesel.
Penurunan drastis lalu lintas tanker di Selat Hormuz akibat serangan Iran menjadi penyebab utama lonjakan harga.
Selat ini adalah jalur laut terpenting dunia, dengan 20 % pasokan minyak global melewatinya sebelum perang.
Produsen minyak Teluk Arab mengurangi produksi karena kehabisan ruang penyimpanan, memicu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah menurut International Energy Agency.
Langkah Pemerintah Trump
Pemerintahan Trump melepas 172 juta barel minyak dari cadangan strategis, bagian dari koordinasi 30 negara yang menyalurkan 400 juta barel ke pasar.
Trump juga membebaskan aturan ketat Jones Act selama 60 hari, memungkinkan kapal asing mengirim minyak dan gas antar pelabuhan domestik.
EPA mengizinkan penjualan bensin E15 (campuran 15 % etanol) yang biasanya dilarang saat musim panas.
Kongres juga mempertimbangkan menangguhkan pajak bahan bakar federal, yang bisa menghemat sekitar Rp305 per liter bensin dan Rp407 per liter diesel.
Namun, para analis menilai harga bisa mencapai rekor Rp24 ribu per liter ($5,50 per galon) jika kemacetan di Selat Hormuz tidak segera teratasi. “Ini perlombaan melawan waktu,” ujar De Haan.
(*)