Majalah INTISARI tak hanya terkenal karena tulisan-tulisannya yang mencerahkan, tapi juga ilustrasinya yang menarik. Inilah kisah para kartunis dan ilustrator yang karyanya pernah mejeng di Majalah INTISARI 1963-1983.
Artikel ini pernah tayang di Majalah Intisari edisi Agustus 1983 dengan judul "Kartuis dan Ilustrator Intisari 1963-1983"
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Pembaca Intisari yang sudah mengikuti majalah ini sejak permulaan mungkin masih teringat gambar-gambar ilustrasi khas majalah mungil ini. Saat ulang tahunnya ke-20, Majalah Intisari pernah menuliskan kisah dan pengalaman mereka nggambar untuk majalah yang lahir pada Agustus 1963 itu.
Mari kita mulai dengan Bisono, waktu itu belum menjadi dokter ahli bedah plastik. Kalau melihat gambar dirinya sekarang, mungkin pembaca lama masih teringat goresan-goresannya. Keahlian dan kesediaannya membantu Intisari sangat berharga, karena waktu itu Intisari masih dicetak timah, sehingga belum dapat memuat foto.
Inilah ceritanya sendiri bagaimana dia bisa masuk Intisari.
Hubungan saya dengan Intisari dimulai dengan naik trem dari Pegangsaan ke Kota. Maksud perjalanan itu ialah untuk mencoba melamar pekerjaan seperti yang dilakukan "WJ". Rasa-rasanya saya juga bisa menirunya. Saya ditemui Pak Adisubrata dan Pak Jakob. Beruntung setelah memamerkan contoh-contoh coretan saya diberi order pertama.
Dari kecil saya memang senang mencoret-coret, mulai dari mencontoh gambar-gambar dari komik Amerika yang dimuat di koran-koran. Buku tulis saya jarang bersih, karena tangan yang iseng dan mencoba menggambar, terutama manusia.
Saya mencoba mengkomersialkan "keahlian" mulai dari SMA (1956-1959) dengan cara mengirim sketsa ke Mimbar Indonesia, di mana banyak dimuat karya-karya Tino S. Mungkin Pak Tino sekarang. Yang dimuat hanya satu dengan honorarium Rp10,00, tetapi saya sudah senang bukan main.
Selanjutnya saya membuat kartun lelucon yang laku di beberapa majalah: Siasat, Terang Bulan, Roman, dsb. Majalah-majalah hiburan ini banyak yang pura-pura lupa membayar honor. Memang paling correct dan paling besar jumlah pembayarannya ialah Intisari (dibandingkan dengan ukuran dan gampangnya menggambar). Pesanan selalu saya antar akhir bulan.
Saya beruntung karena sistem komunikasi terali jendela (mendahului sistem Pallapa) yang lancar. Maksudnya, pemberi order dan pelaksana tidak perlu ketemu. Order dan hasil kerja cukup ditaruh atau diambil lewat terali kamar asrama mahasiswa Pegangsaan Timur 17. Kuliah penuh, karnar kosong dan pintu selalu terkunci, tetapi jendela bisa dibuka.
Selesai pendidikan tahun 1965 saya masih sempat menyalurkan kesenangan coret-coret beberapa tahun. Komunikasi berlangsung lewat istri yang ada di rumah Utan Kayu. Sampai akhirnya Intisari ganti haluan, tidak menghargai lagi coretan tangan amatir, tetapi memakai foto.
Sekarang saya makin jarang menggunakan "keahlian" lama, tetapi dorongan tetap tersalur pada kesempatan mencoret-coret muka atau tubuh pasien dengan tinta dan kemudian digores dengan pisau bedah. Hasilnya pun ternyata lebih banyak.
Walaupun demikian, kenangan dan kesempatan bisa membantu membuat ilustrasi untuk Intisari tetap membekas dan saya berterima kasih untuk kesempatan itu. Ayo, siapa sekarang yang mau saya coret-coret mukanya dengan pisau, tetapi sekarang coretan profesional!

Tokoh lain yang karyanya juga pernah menghias Intisari adalah dokter F.X Suhardjo Wignyodarsono MPH. Curriculum Vitae-nya terlalu panjang untuk dimuat lengkap. Caranya dia membuat kartun pernah ditulis dalam Intisari bulan November tahun 1965.
Yang menarik dari para kartunis ialah bahwa mereka umumnya menggambarkan diri sendiri. Ketika Intisari tanyakan kepadanya apakah benar demikian, dia ketawa lebar. "Benar, tetapi mirip saya waktu masih muda." Tokoh kartunnya tetap ramping, biarpun bobot pelukisnya pernah 80 kg. Istrinya selalu digambarkan gemuk. Itulah kebebasan pelukis.
Keahliannya melukis dimanfaatkan juga ketika dia belajar di University of Hawaii tahun 1980-1981. Tidak heran bahwa dia menarik banyak perhatian dengan overheads dan posternya yang dihias dengan karikatur. Tanda pengenalannya F.X. Har.
Kartunis lain yang sering muncul di Intisari ialah Darminto M Sudarmo (Odios). Cerita guru SMP dari Tegal ini a.l. sbb.:
Saya tidak dapat mengingat secara tepat pertama kali saya mengenal Intisari. Hanya saja ketika saya masih bersekolah di SMP kurang lebih tahun 1970, saya temukan potongan majalah Intisari di atas meja belajar kakak saya. Sudah telanjang, tetapi halamannya masih lengkap.
Majalah yang "gemuk" itu mulanya saya sangka buku. Namun setelah saya balik-balik lalu saya menjumpai berbagai judul artikel. Barulah saya tahu bahwa sangkaan saya keliru.
Waktu itu cetakan Intisari masih sangat sederhana. Hurufnya sebagian ada yang sulit terbaca, kalau kebetulan tinta cetak terlalu tebal atau tipis. Namun majalah tersebut mempunyai satu ciri khas, yaitu tidak pernah memuat foto untuk ilustrasi, tetapi ilustrasi bergaya ekspresif garis. Diam-diam saya mengaguminya.
Ketika saya mengirim kartun saya ke Intisari pada tahun sekitar 75-an setelah lulus SMA, tak satu pun kartun saya bernasib mujur. Semuanya kembali. Biarpun demikian saya tidak pernah kenal istilah jera. Nampaknya kenekatan saya menghasilkan juga, sebab akhirnya redaksi toh bosan mengembalikannya. Satu dua atau lebih bisa muncul ikut menghiasi halaman.
Ashady juga sering mengirim kartun seperti Rosyid dan T. Nurdjito. Mengenai Nurdjito, Intisari mempunyai pengalaman lucu. Karena ada karyanya yang dimuat dalam majalah Belanda Nieuwe Revue. Kami menjadi bingung. Apakah itu karya contekan?
Untuk memberi kepastian Nurdjito mengirim fotokopi tanda pembayaran. Kelompok Rosyid, Ashady dan Nurdjito semua tinggal di Yogyakarta. Rupanya Kota Gudeg ini tempat subur untuk kartunis. Satu-satunya kartunis yang tinggalnya agak jauh dari Jakarta adalah Thomas A. Lionar. Kartun-kartunnya harus terbang jauh, karena penciptanya tinggal di Bangka.

Orang "dalam"
Ada juga kisah para “orang dalam”. Ternyata banyak jumlahnya. Dengan orang dalam kami maksud ilustrator dan kartunis yang bekerja di kelompok Gramedia/Kompas/Intisari.
Yang hampir dilupakan adalah Julius Pour, yang kemudian lebih terkenal sebagai koresponden Kompas di Yogyakarta yang tulisan-tulisannya lebih terkenal dari goresannya.
Sebelum masuk ke Gramedia Film, Rachmat juga sering membuat kartun dengan tanda pengenal Libra. Sebagai karyawan Gramedia dia kemudian juga membantu membuat ilustrasi. Tokoh dan ilustrasi yang serba bulat, adalah karya "si Tomat".
Anda juga mungkin masih teringat Setyanto, yang kemudian bekerja di bagian perwajahan percetakan Gramedia.
Kalau melihat gambarnya pembaca lama mungkin masih teringat kartun Setyanto yang kemudian bekerja di percetakan Gramedia. Tanda pengenalnya dulu ... Virgo.
Yahyono (Yono) bukan orang asing di Intisari. Dia sudah berhubungan dengan Intisari waktu majalah itu masih berkantor di Pintu Besar Selatan, sekitar tahun 1965-1966. Seperti Rachmat, bagi dia waktu itu Intisari merupakan tantangan, karena tidak mau memuat kartun dengan teks. Jadi semua karikatur harus bisu.
Mengapa karikatur di Intisari harus bisu itu ada sejarahnya tersendiri. Mula-mula Intisari memuat juga kartun dengan teks di bawah. Tetapi kemudian ternyata kadang-kadang teks tidak termuat atau tertukar, sehingga redaksi mengambil keputusan untuk tidak memuat karikatur dengan teks. Di kemudian hari itu malah menjadi ciri khas Intisari.
Yahyono kemudian bekerja di Majalah Bobo – meskipun masih juga rajin mengulurkan tangan untuk membuatkan ilustrasi untuk Intisari.
Dwi Koendoro tidak pernah membuat kartun untuk Intisari, tetapi di Kompas yang merupakan "adik" Intisari, Panji Koming-nya muncul setiap minggu. Di Intisari kadang-kadang dia membuatkan ilustrasi cerita kriminal. Namun untuk melengkapi parade tokoh kartun kami juga memuat tokohnya, si Pailul.

Sebagai penutup kami akan memuat pengalaman G.M. Sudarta, kartunis Kompas yang juga banyak membantu Intisari. Oom Pasikom-nya sebagai kartun tidak pernah muncul di Intisari, namun paling sedikit Anda bisa membandingkan dengan bapak penciptanya.
1 Maret 1967 saya mulai bekerja di Kompas. Sejak itu pula saya mulai membuat ilustrasi untuk Intisari. Ilustrasi pertama saya yang dimuat di Intisari adalah gambar suasana panik penumpang pesawat terbang yang sedang jatuh, sehubungan adanya peristiwa kecelakaan pesawat terbang di Mapanget, Sulawesi. Gambar tersebut semula adalah testing saya dari Pak Ojong sewaktu melamar kerja di Kompas.
Ciri khas Intisari pada waktu itu yang paling menarik bagi saya adalah ilustrasi foto wajah seseorang, yang digambar dengan teknik arsir. Memang untuk penerbitan yang belum dicetak offset, gambar dengan teknik arsir jadi lebih jelas daripada foto. Karena dengan klise timah untuk garis akan lebih timbul daripada raster.
Ilustrasi wajah seseorang yang saya bikin pertama kali untuk Intisari adalah wajah Pak Harto, presiden kita. Itu juga merupakan testing saya dari Pak Adisubrata sewaktu melamar di Kompas. Terus terang saya sangat mengagumi gambar-gambar wajah di Intisari karya Sdr. Bisono.
Saya banyak belajar dari goresan dia. Hemat garis tapi bisa merangkum wajah seseorang dengan persis. Sampai sekarang saya masih merasa bahwa alangkah baiknya kalau gambar wajah yang telah menjadi ciri khas Intisari tersebut masih dipertahankan.
Di samping itu saya juga membuat ilustrasi untuk cerita kriminal. Untuk itu saya memakai teknik seperti teknik solarisasi pada foto. Saya menyukai cara menggambar seperti ini untuk cerita kriminal, karena bagi saya teknik ini bisa mencerminkan cerita yang penuh misteri. Saya sebetulnya masih suka mengerjakan ilustrasi untuk cerita kriminal ini, tetapi karena sempitnya waktu dan banyaknya pekerjaan rutin di Kompas, saya tak sempat lagi.
Jauh sebelum saya kerja di Kompas, sewaktu masih duduk di bangku ASRI saya kerap mencoba mengirim kartun ke Intisari yang waktu itu menjanjikan honor yang menggiurkan, tapi sialnya tak pernah ada yang dimuat.
Begitulah cerita para ilustrator yang gambarnya pernah nongol di Majalah INTISARI.