SURYA.CO.ID, SURABAYA – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan, bahwa child grooming bukan sekadar perkenalan biasa, melainkan proses manipulasi emosional yang berbahaya bagi anak.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), menjelaskan bahwa grooming sering kali tidak terlihat atau bersifat silent.
“Sebetulnya itu manipulasi psikologis yang secara tertata sistematis membangun kedekatan emosi, kedekatan kepercayaan, yang nantinya dijadikan korban eksploitasi seksual,” ujar dr Piprim, Selasa (31/3/2026).
Ia menambahkan, proses ini terjadi perlahan sehingga anak tidak menyadari dirinya sedang menjadi target.
Menurut dr Piprim, pelaku biasanya membangun hubungan emosional hingga anak merasa nyaman dan percaya. Bahkan, tidak jarang anak menganggap pelaku sebagai sosok yang perhatian.
“Bagaimana perhatian di keluarga harus diberikan kepada anak-anak, jadikan mereka teman, sahabat, apalagi saat remaja. Jangan sampai anak-anak haus kasih sayang, sehingga mudah termanipulasi orang yang pura-pura mendukung,” jelasnya.
Sementara itu, anggota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI, Dr dr Ariani, SpA, Subsp TKPS(K), mengingatkan bahwa kasus grooming semakin rawan terjadi di era digital.
Anak-anak yang aktif menggunakan gadget menjadi lebih rentan, karena interaksi dengan orang asing semakin mudah.
“Berbeda dengan ancaman fisik yang cenderung jelas, grooming justru terjadi secara halus, terencana, dan melalui tahapan tertentu,” ujarnya.
Dokter Ariani menegaskan, tujuan akhir dari grooming adalah eksploitasi seksual.
“Sebenarnya ujung-ujungnya untuk manipulatif kekerasan seksual,” sebutnya.
Dokter Ariani juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam mencegah grooming. Kurangnya perhatian dan pengawasan bisa dimanfaatkan pelaku.
“Pada child grooming ini sering kali memanfaatkan ketidaktahuan korban, maupun kelalaian lingkungan. Prosesnya bertahap, tidak serta merta dalam satu waktu atau satu jam,” jelasnya.
“Pelaku perlahan mendekati dan memanipulasi psikologis. Tujuannya agar anak tidak tahu batasan normal, yang tidak boleh diperbolehkan, dan akhirnya menciptakan peluang eksploitasi,” tutup dr Ariani.