SURYA.CO.ID - Prajurit TNI anggota Pasukan Perdamaian PBB, Praka Farizal Romadhon, sempat menceritakan detik-detik mencekam sebelum gugur dalam serangan Israel ke Lebanon Selatan, Minggu (29/3/2026).
Kondisi mencekam itu diceritakan Praka Farizal saat berkomunikasi lewat telepon dengan ibunya, Supinah.
Diceritakan Supinah, sang putra sempat bercerita bahwa situasi darurat tengah terjadi di Lebanon karena setiap saat berbunyi sirene peringatan.
Akibatnya, Praka Farizal dan rekannya sesama prajurit harus mengamankan diri ke dalam bunker.
"Akhir-akhir ini agak darurat, setiap saat masuk ke bunker berapa jam, terus kalau aman keluar. Kalau ada sirine itu harus masuk, itu setiap saat itu," cerita Supinah mengenang sang anak.
Baca juga: Ternyata Praka Farizal Gugur saat Shalat Isya, Artileri Menghantam Tempat Ibadah Pos PBB di Lebanon
Supinah juga menyebut almarhum selalu memberikan kabar ketika pindah tugas.
"Dia rajin komunikasi, setiap pindah tugas pasti mengabari saya dan ayahnya," ujar Supinah.
Pada kesempatan yang sama, ayah Praka Farizal, Senam mengenang momen terakhir ketika berkomunikasi dengan sang anak melalui panggilan video atau video call.
Dia mengatakan komunikasi itu dilakukan sehari sejelang Praka Farizal gugur. Ia mengaku terguncang ketika anak bungsunya itu wafat.
"Saya ingin Farizal dimakamkan di sini," kata Senam.
Ternyata Praka Faizal gugur saat menjalankan shala Isya di fasilitas ibadah, sekitar pos pasukan misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon Selatan.
Komandan Brigade Infanteri (Danbrigif) 25/Siwah, Kolonel Infanteri Dimar Bahtera mengungkapkan, saat Praka Farizal sedang melaksanakan shalat Isya itu lah, ada artileri yang jatuh di samping masjid.
Serangan artileri itu menghantam area sekitar tempat ibadah.
Dalam kondisi tersebut, almarhum yang tengah beribadah tidak sempat menyelamatkan diri dan dinyatakan gugur di lokasi akibat dampak serangan tersebut.
Baca juga: Rekam Jejak Praka Farizal Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon Akibat Serangan Israel, Keluarga Syok
Berdasarkan informasi yang ia himpun, saat ini jenazah almarhum sudah tidak berada di lokasi kejadian perkara, melainkan telah dievakuasi ke markas besar (headquarter) pasukan di area penugasan.
“Jenazah sudah berada di headquarter dan telah dilakukan penanganan awal oleh rekan-rekan di sana, termasuk proses penyemayaman sementara,” katanya.
Menurut dia, situasi di sekitar TKP masih belum sepenuhnya kondusif karena konflik masih berlangsung.
Oleh sebab itu, proses lanjutan masih menunggu kondisi yang memungkinkan.
Ternyata, Praka Farizal sudah merencanakan kepulangannya ke tanah air pada Mei 2026 mendatang.
Bahkan untuk rencana ini, Praka Farizal yang hampir setahun bertugas di Lebanon sudah mengirimkan jadwal penerbangan ke tanah air kepada orangtuanya.
Hal ini diakui, Supinah, ibu Praka Farizal saat ditemui wartawan di rumahnya di Padukuhan Ledok, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah, Kulonprogo, Yogyakarta, pada Selasa (31/3/2026).
"Sudah ada jadwal penerbangan juga buat pulang Mei besok. Saya sudah dikirimin, jadwale (jadwalnya)," katanya dikutip dari Tribun Jogja.
Damar menjelaskan, tahapan berikutnya adalah evakuasi jenazah ke rumah sakit di Beirut, Lebanon, untuk dilakukan proses otopsi sesuai standar internasional.
Tahapan ini kemungkinan baru bisa dilaksanakan jika situasi sudah kondusif.
Setelah proses tersebut selesai, jenazah akan dipulangkan ke Indonesia melalui mekanisme repatriasi yang dikoordinasikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui misi UNIFIL.
Dimar mengatakan, proses repatriasi memiliki sejumlah tahapan administratif dan teknis, termasuk pengurusan dokumen serta penentuan rute penerbangan.
“Penerbangan kemungkinan melalui negara sekitar seperti Mesir atau Yordania, mengingat kondisi penerbangan sipil di Lebanon saat ini close (terbatas),” ujarnya.
Ia menambahkan, proses pemulangan jenazah juga telah dikoordinasikan oleh Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan.
Setibanya di Indonesia, jenazah akan mendapatkan penghormatan militer sebelum dimakamkan sesuai permintaan keluarga.
“Rencananya akan ada upacara penghormatan di Mabes TNI atau fasilitas militer lainnya sebelum jenazah dibawa ke sini,” kata Dimar.
Dimar belum dapat memastikan waktu pasti kedatangan jenazah di Indonesia karena proses yang masih dinamis.
Namun ia memastikan seluruh pihak terkait, termasuk pemerintah, terus berupaya agar proses pemulangan dapat berjalan lancar.