TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Memanasnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini mulai berdampak langsung pada jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu urat nadi utama perdagangan minyak dunia.
Baca juga: Menteri ESDM Pastikan Harga Pertalite dan Pertamax Tidak Naik Pada 1 April 2026
Penutupan jalur strategis tersebut oleh Iran tidak hanya memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi internasional, tetapi juga berimbas pada operasional kapal-kapal Indonesia, termasuk milik PT Pertamina (Persero) yang hingga kini masih tertahan di kawasan Teluk Persia dan belum dapat melintasi perairan tersebut.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengungkapkan bahwa hingga saat ini dua kapal milik Pertamina masih menunggu giliran untuk dapat melintas dari Selat Hormuz.
“Baik sampai dengan saat ini kapal yang berada di Teluk Persia belum dapat melintas di Selat Hormuz,” ujar Baron kepada awak media di Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Berdasarkan data, terdapat empat kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang beroperasi di kawasan Timur Tengah di tengah meningkatnya eskalasi konflik. Dari jumlah tersebut, dua kapal telah berhasil keluar dari wilayah terdampak, yakni PIS Rinjani dan PIS Paragon.
Sementara itu, dua kapal lainnya, yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih tertahan di kawasan Selat Hormuz karena sebelumnya berada di Teluk Arab saat situasi memanas.
Meski menghadapi kendala pelayaran, Pertamina memastikan bahwa kondisi kapal maupun seluruh awak kapal dalam keadaan aman. Pemantauan terus dilakukan secara intensif, disertai komunikasi aktif dengan pemerintah dan pihak terkait.
“Dalam proses yang kami lakukan, kami terus memonitor awak kapal dan kapal dalam kondisi aman. Komunikasi kami melalui Kementerian Luar Negeri dengan pemerintah Iran maupun pihak yang berwenang dilakukan,” jelas Baron.
Ia menegaskan, Pertamina akan terus memberikan pembaruan informasi kepada publik seiring perkembangan situasi di lapangan, termasuk apabila kapal telah memperoleh izin dan berhasil melintasi Selat Hormuz.
Baca juga: Trump Minta Negara yang Terancam Krisis Segera Rebut Selat Hormuz
Di sisi lain, pemerintah Indonesia juga terus bergerak untuk memastikan keselamatan kapal dan kelancaran distribusi energi nasional. Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia, menyatakan bahwa koordinasi intensif terus dilakukan bersama Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan pihak-pihak terkait.
Menurutnya, upaya tersebut tidak hanya difokuskan pada kelancaran pelintasan kapal, tetapi juga memastikan keselamatan awak kapal sebagai prioritas utama pemerintah.
“Kementerian ESDM terus berkomunikasi dan berkoordinasi secara intensif dengan Kementerian Luar Negeri untuk memastikan proses pelintasan kapal Indonesia di Selat Hormuz dapat berjalan aman dan lancar,” ujar Anggia.
Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, menyampaikan bahwa pihaknya telah memperoleh respons positif dari pemerintah Iran terkait izin pelintasan kapal Indonesia.
Ia menjelaskan, komunikasi intensif telah dilakukan sejak awal oleh pemerintah Indonesia, termasuk melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia di Teheran, guna memastikan keamanan kapal dan awaknya.
“Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran. Saat ini hal tersebut tengah ditindaklanjuti pada aspek teknis dan operasional,” kata Nabyl.
Baca juga: 2 Kapal Kontainer China Berhasil Lewati Selat Hormuz, Manfaat Punya Hubungan Baik dengan Iran
Situasi ini menjadi pengingat bahwa dinamika geopolitik global dapat berdampak langsung terhadap sektor energi nasional, sekaligus menuntut kesiapsiagaan pemerintah dan pelaku industri dalam menjaga stabilitas pasokan di tengah ketidakpastian kawasan.