TRIBUNBATAM.id, BATAM - Kota Batam hingga kini masih sepenuhnya bergantung pada waduk sebagai satu-satunya sumber air baku bagi kebutuhan masyarakat dan industri. Ketergantungan pada air hujan pun menjadi tantangan serius, terutama saat musim kemarau.
Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, mengungkapkan terdapat delapan waduk yang menopang pasokan air bersih di Batam.
Namun, seluruhnya hanya mengandalkan tampungan air hujan tanpa sumber alternatif lain.
“Di Batam ada delapan waduk sebagai sumber air baku, dan semuanya bergantung pada hujan. Saat ini belum ada solusi lain selain memaksimalkan yang ada,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).
Dari delapan waduk tersebut, tiga menjadi tulang punggung utama suplai air, yakni Waduk Sei Harapan, Waduk Sei Ladi, dan Waduk Muka Kuning.
Sementara waduk lainnya berfungsi sebagai penyangga dengan kapasitas yang bervariasi.
Meski sebagian besar waduk masih mampu memenuhi kebutuhan hingga akhir tahun, Amsakar mengakui ada beberapa yang mulai menunjukkan penurunan debit air.
“Sebagian masih cukup hingga akhir tahun, tetapi ada sekitar dua waduk yang cadangannya mulai berkurang,” katanya.
Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat Batam tidak memiliki sumber air alami seperti sungai besar maupun mata air pegunungan.
Untuk menjaga ketersediaan air, BP Batam meminta masyarakat menghentikan aktivitas perambahan hutan di kawasan tangkapan air waduk.
Kerusakan daerah resapan dinilai dapat mempercepat penurunan cadangan air dan memperparah risiko krisis saat kemarau.
Selain itu, pengawasan terhadap aktivitas ilegal di sekitar waduk juga terus diperketat.
Amsakar menegaskan, menjaga keberlanjutan air bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat.
“Kalau hanya pemerintah saja tidak akan cukup. Yang paling penting adalah kesadaran bersama menjaga kawasan waduk,” tegasnya.
Saat ini, BP Batam telah menyiagakan ratusan personel untuk mengawasi kawasan waduk. Namun luasnya wilayah tangkapan air menjadi tantangan tersendiri dalam pengawasan di lapangan. (ian)