Kenapa 2 Kapal Tanker Pertamina Belum Bisa Melintasi Selat Hormuz? Padahal Malaysia Bisa Tanpa Tarif
Musahadah March 31, 2026 11:32 PM

 

SURYA.CO.ID - Hingga saat ini, dua kapal tanker milik Pertamina belum bisa melintasi SElat Hormuz, akibat terus memanaskan konflik Iran dan Amerika Serikat. 

Padahal kapal milik sejumlah negara termasuk Malaysia sudah berhasil melintasi Selat Hormuz tanpa dikenakan biaya. 

Hingga kini dua kapal tanker Pertamina masih tertahan di kawasan Teluk Persia dan belum dapat melintasi perairan tersebut.

Kabar ini diakui Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron. 

“Baik sampai dengan saat ini kapal yang berada di Teluk Persia belum dapat melintas di Selat Hormuz,” ujar Baron kepada awak media di Jakarta, Selasa (31/3/2026).

Berdasarkan data, terdapat empat kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang beroperasi di kawasan Timur Tengah di tengah meningkatnya eskalasi konflik.

Dari jumlah tersebut, dua kapal telah berhasil keluar dari wilayah terdampak, yakni PIS Rinjani dan PIS Paragon.

Sementara itu, dua kapal lainnya, yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih tertahan di kawasan Selat Hormuz karena sebelumnya berada di Teluk Arab saat situasi memanas.

Meski menghadapi kendala pelayaran, Pertamina memastikan bahwa kondisi kapal maupun seluruh awak kapal dalam keadaan aman.

Pemantauan terus dilakukan secara intensif, disertai komunikasi aktif dengan pemerintah dan pihak terkait.

“Dalam proses yang kami lakukan, kami terus memonitor awak kapal dan kapal dalam kondisi aman. Komunikasi kami melalui Kementerian Luar Negeri dengan pemerintah Iran maupun pihak yang berwenang dilakukan,” jelas Baron.

Ia menegaskan, Pertamina akan terus memberikan pembaruan informasi kepada publik seiring perkembangan situasi di lapangan, termasuk apabila kapal telah memperoleh izin dan berhasil melintasi Selat Hormuz.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia juga terus bergerak untuk memastikan keselamatan kapal dan kelancaran distribusi energi nasional. Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia, menyatakan bahwa koordinasi intensif terus dilakukan bersama Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan pihak-pihak terkait.

Menurutnya, upaya tersebut tidak hanya difokuskan pada kelancaran pelintasan kapal, tetapi juga memastikan keselamatan awak kapal sebagai prioritas utama pemerintah.

“Kementerian ESDM terus berkomunikasi dan berkoordinasi secara intensif dengan Kementerian Luar Negeri untuk memastikan proses pelintasan kapal Indonesia di Selat Hormuz dapat berjalan aman dan lancar,” ujar Anggia.

Respons Positif dari Pemerintah Iran 

SELAT HORMUZ - Ilustrasi Selat Hormuz. Iran menerapkan aturan ketat untuk kapal yang boleh lewat Selat Hormuz dan yang tidak.
SELAT HORMUZ - Ilustrasi Selat Hormuz. Iran menerapkan aturan ketat untuk kapal yang boleh lewat Selat Hormuz dan yang tidak. (Wikimedia Commons)

Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, menyampaikan bahwa pihaknya telah memperoleh respons positif dari pemerintah Iran terkait izin pelintasan kapal Indonesia.

Ia menjelaskan, komunikasi intensif telah dilakukan sejak awal oleh pemerintah Indonesia, termasuk melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia di Teheran, guna memastikan keamanan kapal dan awaknya.

“Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran. Saat ini hal tersebut tengah ditindaklanjuti pada aspek teknis dan operasional,” kata Nabyl.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa dinamika geopolitik global dapat berdampak langsung terhadap sektor energi nasional, sekaligus menuntut kesiapsiagaan pemerintah dan pelaku industri dalam menjaga stabilitas pasokan di tengah ketidakpastian kawasan.

Kapal Malaysia Bisa Melintas

Di bagian lain, Malaysia telah memperoleh jaminan dari Iran bahwa kapal-kapalnya akan diberikan izin untuk melewati Selat Hormuz dengan aman dan tanpa biaya.

Menteri Transportasi Malaysia, Anthony Loke mengatakan, kapal tanker Malaysia yang diizinkan melewati Selat Hormuz akan dibebaskan dari tarif yang mungkin dikenakan oleh Iran.

"Tidak, ini sama sekali tidak, Duta Besar Iran (untuk Malaysia) telah menyebutkan hal ini, tidak ada pungutan tol yang dikenakan pada kapal-kapal Malaysia," kata Loke kepada wartawan pada hari Selasa (31/3/2026), dikutip dari AFP.

"Kami adalah partai yang bersahabat. Kami memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan pemerintah Iran," sambungnya.

Kendati demikian, dibutuhkan waktu bagi kapal-kapal Malaysia untuk melewati Selat Hormuz karena ada banyak kapal yang terdampar dan berlabuh di sana.

"Namun, saya pikir pemerintah Iran telah memberikan komitmen mereka dan kami yakin kapal-kapal kami akan dapat melewati perbatasan," jelas dia.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, dalam pengumuman yang disiarkan televisi pekan lalu, mengucapkan terima kasih kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian atas izin yang diberikan kepada kapal dari negaranya.

Media pemerintah Iran pada Senin (30/3/2026) melaporkan, komisi parlemen telah menyetujui rencana untuk mengenakan tarif pada kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Sementara, Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan sebelumnya menuturkan, kapal tanker yang dimiliki oleh raksasa minyak Petronas, Sapura Energy, dan perusahaan maritim MISC sedang menunggu izin untuk berlayar dengan aman melalui selat tersebut.

Iran telah mengindikasikan bahwa mereka akan mengizinkan kapal-kapal dari negara-negara yang dianggap bersahabat untuk melewati selat tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.