TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Warga di Kabupaten Sleman yang mengidap Diabetes Melitus (DM) terbilang cukup tinggi.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman mencatat sepanjang 2025, kasus metabolik kronis yang ditandai tingginya kadar gula darah ini menembus 17.259 orang.
Mayoritas adalah lansia. Namun pengidap di kalangan usia muda juga mulai mengalami trend peningkatan seiring pergeseran gaya hidup.
"Bisa jadi (anak muda ada trend peningkatan) jika gaya hidup atau pola hidup tetap tidak berubah. Tapi memang sudah mulai ada kasus-kasus yang terjadi pada usia yang lebih muda," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Sleman, dr Khamidah Yuliati, Selasa (31/3/2026).
Ia mengungkapkan, Diabetes Melitus merupakan penyakit yang tidak menular.
Adapun faktor risikonya antara lain karena faktor keturunan, gaya hidup maupun pola makan dan kurangnya aktivitas fisik.
Baca juga: Pembangunan Jalan Tol Jogja-Solo Seksi 2.2 Dikebut, Gerbang Tol Segera Dibangun di Ringroad Sleman
Sejauh ini upaya penanganan terus dilakukan.
Dinas Kesehatan Sleman menjalankan penanganan melalui pendekatan yang komprehensif.
Langkah promotif dan preventif dilakukan melalui sosialisasi serta edukasi kepada pasien, keluarga, dan komunitas, baik secara tatap muka maupun media sosial.
Sementara itu, upaya kuratif diwujudkan melalui pengobatan rutin, pemantauan konsumsi obat, serta pemeriksaan kadar gula darah secara berkala di Puskesmas atau Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) tempat pasien terdaftar, termasuk melalui optimalisasi kelompok Prolanis bagi peserta BPJS maupun non-BPJS.
Kasus DM yang tercatat ini, menurut Yuli, berdasarkan data Standar Pelayanan Minimal (SPM) yaitu pasien yang dipantau sesuai dengan pedoman oleh puskesmas secara rutin dalam setiap bulan.
Sedangkan data pasien DM dengan komplikasi tidak masuk dalam laporan, tetapi tercatat di masing masing puskesmas.
Sejauh ini pengidap terbanyak masih didominasi pasien lanjut usia. Adapun terkait data kasus tahun 2026, Dinkes belum bisa menghadirkan karena akan divalidasi terlebih dahulu.
"Untuk data (penyakit DM) tahun 2026 baru akan divalidasi per April, data triwulan 1," katanya.(*)