Panic Buying di Tangsel: Antrean SPBU BP Bintaro Meluber ke Jalan Boulevard Akibat Isu BBM Naik
Budi Sam Law Malau April 01, 2026 12:15 AM

 

WARTAKOTALIVE.COM, TANGERANG SELATAN – Suasana Jalan Boulevard Bintaro Jaya, Pondok Aren, mendadak mencekam pada Selasa (31/3/2026) malam.

Antrean kendaraan di SPBU British Petroleum (BP) Bintaro meluber hingga ke badan jalan utama, menciptakan pemandangan kontras di tengah hiruk-pikuk kota. 

Meski pemerintah telah memberikan sinyal pembatalan kenaikan harga BBM, 'hantu' ketidakpastian kadung menyebar, memicu gelombang warga untuk memenuhi tangki kendaraan mereka.

Baca juga: Pertamina Hentikan Penyaluran BBM ke SPBU Juanda Bekasi Buntut Temuan Pertalite Campur Air

Pantauan di lokasi menunjukkan barisan mobil dan motor yang mengular panjang, memadati setiap sudut area pengisian SPBU.

Para petugas berseragam hijau tampak bekerja ekstra keras melayani arus kendaraan yang tak kunjung surut sejak matahari baru saja meninggi hingga malam ini.

PANIC BUYING BBM - Antrean kendaraan di SPBU British Petroleum (BP) Bintaro meluber hingga ke badan jalan utama di Jalan Boulevard Bintaro Raya, menciptakan pemandangan kontras di tengah hiruk-pikuk kota, Selasa (31/3/2026) malam. Meski pemerintah telah memberikan sinyal pembatalan kenaikan harga BBM, 'hantu' ketidakpastian kadung menyebar, memicu gelombang warga untuk memenuhi tangki kendaraan mereka, penanda bentuk panic buying.
PANIC BUYING BBM - Antrean kendaraan di SPBU British Petroleum (BP) Bintaro meluber hingga ke badan jalan utama di Jalan Boulevard Bintaro Raya, menciptakan pemandangan kontras di tengah hiruk-pikuk kota, Selasa (31/3/2026) malam. Meski pemerintah telah memberikan sinyal pembatalan kenaikan harga BBM, 'hantu' ketidakpastian kadung menyebar, memicu gelombang warga untuk memenuhi tangki kendaraan mereka, penanda bentuk panic buying. (Warta Kota/Ikhwana Mutuah Mico)

Ketidakpercayaan Publik di Balik Antrean Panjang

Fenomena ini bukan sekadar urusan mengisi bensin.

Di balik deru mesin kendaraan yang mengantre, terselip keraguan mendalam terhadap pernyataan resmi pemerintah.

Andi (nama samaran), salah satu petugas SPBU, mengungkapkan bahwa lonjakan drastis pelanggan sudah terjadi sejak pukul 09.00 WIB pagi.

"Ramai sekali dari jam 9 pagi, dan ini masih bertahan sampai mau tutup jam 10 malam," ujarnya di tengah kesibukan melayani pelanggan.

Sentimen ketidakpercayaan ini dikonfirmasi oleh Willy (44), seorang warga yang ikut terjebak dalam antrean.

Baca juga: Khawatir Harga BBM akan Naik, Pom Bensin di Harapan Baru Bekasi Diserbu Warga

Meski ia mengaku sudah membaca klarifikasi pemerintah bahwa harga BBM tidak jadi naik melalui media daring, ia memilih untuk tetap mengantre.

"Saya sudah dengar katanya enggak jadi naik, tapi jujur kita agak ragu. Kadang pemerintah bilang A, nanti jadinya B. Jadi kita bingung harus pegang informasi yang mana," tutur Willy dengan nada getir.

Efek Domino Grup WhatsApp dan Komunikasi Publik

Willy menceritakan bahwa isu kenaikan harga ini justru pertama kali ia dapatkan melalui pesan berantai di grup WhatsApp warga.

Kecepatan informasi non-resmi yang menyebar liar ini jauh melampaui efektivitas klarifikasi pemerintah, sehingga memicu kepanikan (panic buying).

Ia menyoroti pola komunikasi kebijakan pemerintah yang dinilai tidak konsisten dan mendadak.

Menurutnya, kegaduhan di SPBU seperti malam ini adalah dampak nyata dari minimnya transparansi dan kepastian informasi yang bisa dipegang oleh rakyat kecil.

Baca juga: Pelaku Penganiayaan 3 Karyawan SPBU Cipinang Muara Jaktim Pinjam Pelat Palsu untuk Isi Pertalite

"Kalau memang mau ada perubahan, bilang dari awal secara terbuka. Kepastian itu jauh lebih penting daripada penegasan sesaat agar masyarakat tidak panik seperti sekarang," pungkasnya.

Hingga menjelang tengah malam, antrean di SPBU BP Bintaro masih terlihat padat.

Kondisi ini menjadi alarm keras bagi pengambil kebijakan bahwa tanpa kepercayaan publik yang kuat, klarifikasi sesering apa pun tidak akan mampu meredam kekhawatiran di akar rumput.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.