WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Selama bertahun-tahun, sistem backup sering dianggap sekadar langkah berjaga-jaga.
Banyak perusahaan mengandalkannya untuk memulihkan file yang terhapus tanpa sengaja
atau hilang karena kerusakan perangkat.
Namun situasinya kini berbeda. Seiring meningkatnya serangan ransomware, backup menjadi bagian penting dari strategi cyber resilience.
Sistem ini dapat menentukan apakah sebuah organisasi mampu pulih dengan cepat setelah insiden, atau justru harus menghadapi gangguan operasional yang berkepanjangan.
Baca juga: Firmware Usang dan Password Default Jadi Pintu Masuk Favorit Ransomware ke Kamera Pengawas IP
Menurut perusahaan keamanan siber Astra Security, serangan ransomware terjadi di dunia
setiap sekitar 40 detik.
Selama ini, perusahaan besar memang sering menjadi sorotan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, pelaku kejahatan siber semakin sering menargetkan usaha kecil dan menengah.
Organisasi-organisasi ini sering menyimpan data operasional yang penting, tetapi belum tentu memiliki sistem keamanan siber yang kuat.
Hal ini menunjukkan satu kenyataan penting: ancaman siber tidak melihat ukuran perusahaan. Selama sebuah organisasi bergantung pada data digital, maka potensi menjadi target serangan selalu ada.
Ketika Kehilangan Data Menjadi Krisis Bisnis
Ransomware bekerja dengan cara mengenkripsi data perusahaan dan meminta tebusan agar akses dapat dipulihkan. Tanpa backup yang memadai, organisasi sering kali berada dalam posisi yang sulit.
Membayar tebusan tidak selalu menjamin data akan kembali. Namun jika menolak membayar, perusahaan juga berisiko kehilangan data penting secara permanen.
Dampaknya pun bisa meluas dengan cepat. Operasional bisnis dapat terhenti, layanan pelanggan terganggu, dan karyawan tidak dapat menjalankan pekerjaan mereka.
Bahkan gangguan yang berlangsung singkat pun dapat menimbulkan kerugian finansial dan
merusak reputasi perusahaan.
Baca juga: Hadapi Gelombang Serangan Ransomware, Empat Langkah Ini Bantu Perlindungan Data yang Efektif
Karena itu, backup kini tidak lagi sekadar alat pemulihan file yang terhapus. Ia menjadi bagian penting dari strategi ketahanan siber atau cyber resilience.
Dari Pencegahan ke Ketahanan
Selama ini banyak organisasi fokus pada pencegahan serangan. Namun dengan ancaman siber yang semakin kompleks, pendekatan tersebut saja tidak lagi cukup.
Cyber resilience menekankan kemampuan organisasi untuk tetap beroperasi dan pulih dengan cepat setelah insiden terjadi. Salah satu fondasinya adalah memastikan data selalu dapat dipulihkan.
Salah satu pendekatan yang banyak direkomendasikan adalah strategi backup 3-2-1-1-0. Strategi ini menyarankan agar organisasi menyimpan tiga salinan data pada dua jenis media yang berbeda, dengan satu salinan disimpan di lokasi terpisah.
Selain itu, satu salinan sebaiknya bersifat immutable atau terisolasi dari jaringan utama agar tidak dapat diubah oleh ransomware.
Terakhir, backup perlu diverifikasi untuk memastikan proses pemulihan dapat berjalan tanpa kesalahan.
Pendekatan ini membantu mengurangi risiko kegagalan dari satu titik sekaligus meningkatkan peluang pemulihan data setelah serangan.
Tantangan Backup di Lingkungan Bisnis Modern
Meski penting, implementasi backup tidak selalu mudah. Banyak perusahaan memiliki sumber daya IT yang terbatas tetapi sangat bergantung pada data digital untuk operasional sehari-hari.
Di sisi lain, organisasi modern sering memiliki banyak lokasi kerja, seperti kantor cabang, toko ritel, atau lokasi proyek, yang di mana data terus dihasilkan tetapi tidak selalu dilindungi dengan kebijakan yang sama.
Baca juga: Hadapi Ransomware, BSSN Gelar National Cyber Exercise 2024
Akibatnya, sistem backup dapat menjadi terfragmentasi. Berbagai sistem menggunakan alat dan jadwal backup yang berbeda, sementara pengelolaan manual meningkatkan risiko kesalahan konfigurasi. Masalah seperti ini sering baru disadari ketika insiden sudah terjadi.
Menyederhanakan Strategi Backup
Karena itu, banyak organisasi mulai mencari cara untuk menyederhanakan perlindungan
data tanpa mengurangi standar keamanan.
Platform backup terintegrasi kini semakin banyak digunakan karena menggabungkan
manajemen backup, penyimpanan, dan pemulihan data dalam satu sistem.
Pendekatan ini dapat membantu tim IT menjaga perlindungan data tetap konsisten sekaligus mengurangi kompleksitas operasional.