POS-KUPANG.COM, JAKARTA - Jakarta, 31 Maret 2026 - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali beroperasi pasca Lebaran dengan penguatan pengawasan keamanan pangan di seluruh tahapan produksi dan distribusi. Pada hari pertama operasional, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Harapan Mulia I Kemayoran mendistribusikan sebanyak 3.298 porsi MBG melalui sistem yang telah dievaluasi secara menyeluruh.
Kepala SPPG Harapan Mulia I Kemayoran, Fakhri Irfan Pribadi, menjelaskan sebelum operasional kembali berjalan, dilakukan evaluasi bersama berbagai pihak untuk memastikan kualitas layanan tetap terjaga.
“Untuk persiapan dibukanya MBG kembali pasca Lebaran atau pasca Ramadan, tentunya teman-teman relawan merasa senang karena mulai bekerja kembali. Persiapannya sama seperti sebelumnya, yaitu kami melakukan evaluasi terlebih dahulu sebelum tahapan operasional,” kata Fakhri di SPPG Harapan Mulia, Selasa (31/3).
“Evaluasi dilakukan secara internal bersama BGN, mitra yayasan, dan relawan. Secara eksternal, kami juga berkoordinasi dengan instansi yang menangani keamanan pangan, seperti BPOM dan Kementerian Kesehatan,” imbuhnya.
Baca juga: Jelang MBG Kembali Beroperasi, Relawan SPPG Jakbar Gotong Royong Bersihkan Dapur
Distribusi MBG pada hari pertama menjangkau 7 sekolah dan 1 posyandu, dengan sistem pembagian waktu yang terstruktur.
“SD pukul 07.00, SMP pukul 09.30, SMA/SMK pukul 11.00–12.00, dan posyandu pukul 09.00,” jelas Fakhri.
Dalam operasionalnya, pengawasan kualitas makanan dilakukan secara ketat sebelum didistribusikan. “Kami melakukan uji organoleptik bersama KSPG dan ahli gizi sebelum distribusi. Jika terdapat aroma, tekstur, atau kualitas yang tidak sesuai, makanan ditarik dan tidak didistribusikan,” ungkapnya.
Selain itu, sistem keamanan pangan juga diterapkan secara menyeluruh dari hulu ke hilir. SPPG menerapkan personal hygiene ketat dan sistem HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) dari penerimaan bahan baku hingga distribusi. “Jika bahan baku tidak sesuai dari segi aroma atau tekstur, kami kembalikan ke supplier,” tegasnya.
Berbagai aspek operasional turut menjadi bagian dari evaluasi berkelanjutan. “Evaluasi meliputi kualitas makanan, personal hygiene relawan, keamanan pangan, kemampuan SDM terkait keamanan pangan, edukasi gizi, pengolahan limbah, serta kebersihan lingkungan dan sanitasi,” katanya.
SPPG juga melakukan langkah antisipatif terhadap potensi risiko pada penerima manfaat, termasuk alergi makanan. “Kami bekerja sama dengan sekolah untuk mendata alergi siswa. Jika ada alergi, menu diganti, misalnya dari ikan menjadi ayam,” ujarnya.
Dari sisi sumber daya manusia, pelibatan masyarakat sekitar menjadi bagian penting dalam operasional program.
“Sesuai juknis, 70 persen SDM berasal dari warga sekitar,” kata Fakhri.
Ia menambahkan, peningkatan kapasitas relawan juga dilakukan secara berkala untuk menjaga konsistensi pelaksanaan standar operasional.
“Kami melakukan evaluasi berkala setiap satu hingga dua minggu. Evaluasi meliputi edukasi gizi, pelatihan relawan, dan kemampuan SDM,” kata Fakhri.
Dengan penguatan pengawasan dan evaluasi berkelanjutan, program MBG diharapkan dapat terus berjalan dengan standar keamanan pangan yang terjaga serta memberikan manfaat optimal bagi para penerima. (*)