Renungan Malam Kejadian 3:1-10, Seharusnya Anda Malu
Alpen Martinus April 01, 2026 12:22 AM

TRIBUNMANADO.CO.ID- Membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari adalah hal penting untuk kehidupan rohani kita.

Lantaran Alkitab adalah sumber kehidupan bagi kehidupan kita.

Berikut renungan harian Krisen berjudul seharusnya anda malu.

Baca juga: Renungan Malam Markus 15:6-7, Penjahat Dibebaskan dan Yang Benar Dihukum

Ditulis oleh Boy Borang dalam moment of inspiration LPMI.

Firman Tuhan diambil dalam Kejadian 3:1-10

“Ketika aku mendengar bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut karena aku telanjang, sebab itu aku bersembunyi.” (Kej. 3:10).

Ada satu lagu klasik, lirik awalnya berbunyi: “Indah sebagai di Eden pada permulaan. Hutan dan rimba berbunga tampak sedap senang...” Memang taman itu seharusnya indah, tetapi akhirnya terasa mencekam dan menakutkan.

 Kehadiran Tuhan seharusnya membawa damai sejahtera dan sukacita, malah menjadi bayangan yang menggelisahkan hati.

Mengapa? Hati manusia menjadi bermasalah dengan Allah. 

Seharusnya mereka menikmati dengan ketenangan hati, malah dibebani dengan tekanan batin yang sangat berat. 

Bukan saja malu di hadapan Tuhan tetapi juga di hadapan manusia. 

Ini paralel dengan ungkapan dalam Mazmur 32, yang memang sangat terlihat, bahwa kalau dosa sudah bercokol dalam hati orang, seperti pengalaman pemazmur, maka suasana hidup menjadi penuh tekanan (stressful).

Kehadiran Tuhan di taman itu, bukannya dinikmati, malah ditakuti. Bukannya dinanti-nanti malah dihindari. 

Suasana yang tadinya penuh kekudusan dan kemuliaan, tiba-tiba berubah drastis, tatkala dosa masuk dan mencabik-cabik hati manusia itu. 

Ketika dosa masuk ke taman itu, terlebih ke dalam hati dan pikiran manusia, perasaan malu dan takut pun menjadi campur aduk. 

Damai sejahtera dan persekutuan yang harmonis dengan Allah pun, sirna. 

Padahal Yesus sendiri berjanji memberi damai sejahtera-Nya bagi manusia (Yoh.14:27). 

Namun kasih Allah dan damai sejahtera itu pun terasa menjauh, sementara bayangan akan penghukuman-Nya terasa mendekat. 

Hati terasa kering dan gersang, karena tertutup oleh tirai gelap dosa ketidaktaatan. 

Mereka bersembunyi, tetapi mata Tuhan melihat mereka dengan terang benderang. Seperti kata Dr. R.C. Sproul, “Dosa telah didefinisikan sebagai “pelanggaran terhadap hukum Allah yang diberikan kepada manusia yang berakal budi. 

Dosa merupakan ketidakmauan terhadap Hukum Allah. 

Dosa ini adalah dosa tidak melakukan yang diperintahkan oleh Allah.” 

Lalu bagaimana dengan dunia masa kini? 

Ada yang berkata, “orang zaman sekarang, setelah terbukti bersalah, katakanlah korupsi kelas kakap, seharusnya malu, malah menjadi tidak tahu malu. 

Meskipun wajahnya viral kemana-mana, dia masih bisa tersenyum di depan camera.

Itu baru soal korupsi. 

Belum lagi dosa-dosa lainnya, nyaris dianggap biasa saja, Manusia bisa berperilaku manipulatif, menyembunyikan cacat cela di dalam hatinya, namun mata Tuhan yang Mahahadir dan Mahatahu, menembusi lubuk hati yang paling dalam. 

Seperti kata pemazmur, “Kemana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu? 

Kemana aku dapat lari dari hadapan-Mu? (Mazm. 139:7).

Kita juga rentan untuk jatuh ke dalam dosa. 

Namun kita semua tahu, bahwa tatkala kita setia pada kekudusan-Nya, dan memuliakan nama-Nya, tidak ada yang perlu membuat kita malu. 

Kalau tidak, jangan sampai Tuhan bertanya pada kita, “Di manakah engkau?”

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.