WARTAKOTALIVE.COM – Di tengah kesunyian yang mencekam pasca-penunjukan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, keberadaan Ayatollah Mojtaba Khamenei masih menjadi misteri dan sampai kini belum menunjukkan diri ke depan publik.
Duta Besar Rusia untuk Iran, Alexey Dedov, secara resmi membantah rumor liar yang menyebut sang pemimpin yakni Mojtaba Khamenei telah dievakuasi ke Moskow, Rusia, demi alasan keamanan.
Baca juga: Mojtaba Khamenei Bersumpah Balas Dendam: Pembunuh Larijani Akan Segera Bayar Nyawa
Namun, absennya Mojtaba dari hadapan publik selama lebih dari tiga pekan, diakuinya terus memicu spekulasi global mengenai kondisi fisiknya.
Hal itu sesunguhnya kata dia sangat bisa dipahami.
Alasan di Balik 'Heningnya' Sang Pemimpin
Pernyataan diplomat Rusia ini seolah menjadi jawaban atas teka-teki yang menghantui Teheran sejak penunjukan Mojtaba.
Dedov mengakui bahwa ada alasan kuat mengapa Mojtaba belum menampakkan diri di depan rakyatnya.
"Sebagaimana yang telah berulang kali dinyatakan oleh kepemimpinan Iran, pemimpin baru berada di Iran. Namun, untuk alasan yang jelas dan bisa dipahami, beliau menahan diri dari penampilan publik," ujar Dedov, Selasa (31/3/2026).
Baca juga: CIA Beberkan Mojtaba Khamenei Gay, Donald Trump: Saya Dapat Suara Luar Biasa dari Kaum Gay
Meskipun mengaku belum berkomunikasi langsung, Dedov mengingatkan bahwa Presiden Vladimir Putin adalah salah satu pemimpin dunia pertama yang mengirimkan ucapan selamat kepada Mojtaba saat terpilih menjadi pemimpin tertinggi baru Iran.
Moskow menegaskan dukungan tak tergoyahkan dan solidaritas penuh terhadap 'sahabat-sahabat Iran' di masa transisi yang kritis ini.
"Presiden Rusia Vladimir Putin adalah salah satu yang pertama mengirimkan telegram ucapan selamat kepada Mojtaba Khamenei, di mana ia menyatakan dukungan yang teguh untuk Teheran dan solidaritas dengan teman-teman Iran," kata Dedov.
Meski memastikan keberadaan Mojtaba Khamenei di Iran, Dedov enggan menyebutkan lokasi pastinya.
Luka Fisik dan Klaim "Cacat" dari Gedung Putih
Narasi menyedihkan menyelimuti suksesi ini.
Laporan dari sumber internal yang dikutip CNN menyebutkan bahwa Mojtaba turut menjadi korban dalam serangan udara mematikan yang menewaskan ayah serta jajaran komandan tertinggi militer Iran pada akhir Februari lalu.
Mojtaba dikabarkan menderita patah tulang kaki, luka memar pada mata kiri, serta luka sayatan ringan di wajahnya.
Kondisi traumatis inilah yang diduga menjadi penghalang utama bagi sang Ayatollah untuk tampil memimpin doa atau memberikan pidato kenegaraan.
Di sisi lain, nada provokatif muncul dari Washington.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, sempat melontarkan klaim tanpa bukti bahwa Mojtaba kemungkinan besar mengalami cacat wajah (disfigured) akibat ledakan rudal yang menyerangnya tersebut.
Pernyataan ini kian memanaskan tensi diplomatik, mengingat citra fisik seorang pemimpin tertinggi memiliki nilai simbolis yang sangat sakral dalam struktur kekuasaan di Teheran.
Dituding Gay oleh Trump Berdasar Laporan CIA
Narasi memojokkan dan provokatif lainnya juga diungkapkan Presiden AS Donald Trump.
Dalam wawancara eksklusif di acara "The Five" Fox News, Kamis (26/3/2026), Trump mengonfirmasi laporan intelijen tingkat tinggi CIA yang menyebut bahwa Pemimpin Tertinggi Iran yang baru saja naik takhta, Mojtaba Khamenei, kemungkinan besar adalah seorang gay.
Saat ditanya oleh pembawa acara Jesse Watters apakah benar intelijen menyebut "Ayatollah Jr." adalah gay, Trump menjawab tanpa ragu.
“Yah, mereka (CIA) memang mengatakan itu. Saya pikir banyak orang juga mengatakannya. Hal ini membuatnya memulai posisi (sebagai pemimpin) dengan sangat buruk di negara tersebut,” ujar Trump merujuk bahwa Iran menerapkan hukum syariah ketat dan tidak memperkenankan seorang gay menjadi pemimpin.
Trump menjelaskan intelijen AS menunjukkan bahwa Mojtaba Khamenei diduga terlibat dalam hubungan jangka panjang dengan tutor laki-lakinya sejak masa muda.
Spekulasi ini pula yang disebut-sebut sempat digunakan oleh lawan-lawan politik Mojtaba untuk menjegal kenaikannya sebagai pemimpin tertinggi pada 8 Maret lalu.
Baca juga: Perintah Perdana Mojtaba Khamenei Untuk Rakyat Iran: Serukan Balas Dendam ke AS–Israel
Mojtaba, diyakini terluka dalam serangan udara 28 Februari, dimana di saat yang sama menewaskan ayahnya dan anggota keluarganya yang lain.
Atas tudingan orientasi seksual Mojtaba, Badan intelijen AS tidak memiliki bukti foto atau apapun seputar hal itu.
Dunia kini menanti momen ketika Mojtaba Khamenei akhirnya muncul di balkon atau layar televisi nasional.
Kehadirannya bukan sekadar formalitas protokoler, melainkan sinyal krusial untuk menstabilkan kondisi internal Iran yang tengah dirundung duka dan bahaya agresi militer asing.
Kecepatan pemulihan sang pemimpin kini menjadi faktor penentu dalam menjaga moralitas bangsa Iran.
Apalagi kini Iran sedang berada di ambang perang darat besar-besaran melawan aliansi Amerika Serikat-Israel.