Umat Katolik Larantuka Gelar Tikam Turo,  Penanda Memasuki Tri Hari Suci
OMDSMY Novemy Leo April 01, 2026 10:44 AM

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Arnold Welianto

POS-KUPANG.COM, LARANTUKA - Jelang perayaan Tri Hari Suci atau Semana Santa, umat Katolik di Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur kembali menghidupkan tradisi leluhur yang sarat makna religius, yaitu Tikam Turo. Tradisi ini menjadi penanda dimulainya masa tenang sebelum memasuki Tri Hari Suci atau Hari Bae Nagi.

Sejak Selasa (31/3) kemarin, warga Kota Larantuka berbondong-bondong menuju jalan-jalan utama, membawa kayu dan belahan bambu yang akan digunakan dalam tradisi Tikam Turo.

Tikam Turo berarti menancapkan kayu kukung ke tanah, sementara potongan bambu yang dibawa dipasang berjajar sebagai pagar pembatas jalur prosesi Jumat Agung, yang dilalui umat Katolik devosan Tuan Ma dan Tuan Ana.

Nantinya, bambu-bambu ini juga akan digunakan sebagai tempat lilin pada saat prosesi malam Jumat Agung. 
Tradisi ini biasanya dilakukan dua hingga tiga hari sebelum Tri Hari Suci, yang juga dikenal dengan nama Semana Santa. 

Kegiatan ini melibatkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari orang tua, muda, remaja, hingga anak-anak, sebagai bentuk kebersamaan dan cinta terhadap tradisi serta iman Katolik.

Bagi mereka, Tikam Turo adalah warisan dari leluhur yang telah dijaga dan dilestarikan selama ratusan tahun.
Matinus De Rosary, warga Kelurahan Lokea mengatakan, Tikam Turo merupakan peristiwa tradisi yang dibuat Tuan Mardomu seperti yang terjadi di Lingkungan Salvator. 

Diketahui, Tuan Mardomu adalah umat yang menyiapkan perlengkapan saat perayaan Tri Hari Suci atau Semana Santa, mulai dari saat tikam turo hingga prosesi.  Tuan Mardomu ini biasanya melamar satu tahun sebelumnya untuk menyiapkan perlengkapan saat perayaan Tri Hari Suci atau Semana Santa. 

"Turo ini sendiri adalah peristiwa tradisi, yang mana dibuat Tuan Mardomu, tuan-tuan mardomu itu adalah biasanya melamar setelah  paskah tahun kemarin dan ada yang melamar untuk paskah tahun ini, " ujarnya. 

Dijelaskan, manfaat Turo yang dipasang seperti pagar, kemudian diikat dengan bambu dan akan diikat dengan lilin pada Prosesi Jumat Agung. 

"Manfaat Turo, Turo itu dari kayu kukung, itu dipasang seperti pagar,kemudian diikat dengan bambu, dia atas bambu itu akan diikat lilin. Lilin itu akan dinyalakan pada malam jumat Agung saat prosesi,"  ujarnya.

Kerahkan 3.227 Personel 

Polda NTT menyiapkan pengamanan besar-besaran untuk memastikan perayaan Paskah 2026 di seluruh wilayah NTT berlangsung aman, tertib, dan kondusif. Sebanyak 3.227 personel gabungan dikerahkan dalam Operasi Semana Santa Turangga 2026 yang akan berlangsung selama 15 hari, mulai 1 hingga 15 April 2026.

Operasi kewilayahan tersebut diawali dengan Apel Gelar Pasukan di Lapangan Mapolda NTT, Kupang, Selasa (31/3) yang dipimpin Wakapolda NTT, Brigjen Pol Baskoro Tri Prabowo.

Dalam operasi ini, Polda NTT bersama seluruh Polres jajaran mendirikan 85 pos pengamanan yang tersebar di berbagai wilayah. Pos tersebut terdiri dari 38 Pos Pengamanan, 26 Pos Pelayanan, dan 21 Pos Terpadu guna mendukung kelancaran pengamanan sekaligus memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Total 3.227 personel yang dilibatkan terdiri dari 1.319 personel Polri dan 1.908 personel dari TNI serta instansi terkait. Ribuan personel tersebut akan difokuskan untuk mengamankan 1.113 gereja di seluruh NTT, termasuk 432 gereja prioritas yang memiliki jumlah jemaat besar dan tingkat kerawanan lebih tinggi.

Dalam amanat Kapolda yang dibacakan Wakapolda, seluruh personel diminta mampu memetakan potensi kerawanan sejak dini, sehingga langkah-langkah pencegahan dapat dilakukan secara maksimal.

“Lakukan mapping kerawanan di setiap wilayah sehingga setiap potensi gangguan dapat diantisipasi sedini mungkin. Kehadiran personel harus mampu memberikan rasa aman bagi masyarakat yang menjalankan ibadah,” tegas Baskoro Tri Prabowo.

Baskoro Tri Prabowo menjelaskan, pengamanan akan difokuskan pada dua agenda utama perayaan Paskah, yakni pelaksanaan misa di gereja serta kegiatan perarakan atau pawai keagamaan di luar gereja yang biasanya melibatkan banyak umat.

Baskoro Tri Prabowo juga meminta seluruh personel meningkatkan patroli di wilayah rawan dan pada jam-jam tertentu yang berpotensi menimbulkan gangguan keamanan.

Selain itu, sinergi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pengamanan swakarsa dinilai sangat penting untuk menjaga situasi tetap kondusif selama rangkaian perayaan Paskah.

Berbagai potensi gangguan juga menjadi perhatian dalam operasi tahun ini, mulai dari konflik sosial, tindak kejahatan konvensional, hingga ancaman bencana alam. Karena itu, seluruh personel diminta tetap siaga dan responsif terhadap setiap perkembangan situasi.

Pengamanan juga tidak hanya difokuskan di darat. Di sejumlah wilayah NTT yang memiliki tradisi perarakan laut, aparat diminta memastikan aspek keselamatan menjadi prioritas utama.

“Hindari terjadinya kecelakaan laut saat perarakan. Pastikan seluruh kapal memenuhi SOP kelayakan dan tidak melebihi kapasitas muatan,” tegas Baskoro Tri Prabowo.

Baskoro Tri Prabowo juga mengingatkan seluruh personel agar menjalankan tugas secara profesional, humanis, dan penuh tanggung jawab, serta terus memperkuat sinergi antara TNI, Polri, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan.

Apel gelar pasukan tersebut ditutup dengan penyematan pita tanda operasi kepada perwakilan TNI, Polri, dan instansi terkait sebagai simbol dimulainya Operasi Semana Santa Turangga 2026 di wilayah NTT. (awk/uge)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.