TRIBUNTRENDS.COM - Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus bergejolak, kekhawatiran terhadap kondisi keuangan negara kerap mencuat.
Namun pemerintah menegaskan bahwa fondasi fiskal Indonesia masih kokoh. Di balik tekanan harga energi dan dinamika geopolitik, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) disebut tetap berada dalam jalur yang aman dan terkendali.
Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa kondisi APBN tetap terjaga dengan baik. Ia menegaskan bahwa defisit fiskal masih berada dalam batas yang aman dan pengelolaan anggaran dilakukan secara disiplin.
“Defisitnya terkendali dan anggarannya tidak morat marit. Kita kendalikan dengan baik semuanya,” ujarnya dalam konferensi pers terkait kebijakan pemerintah menghadapi situasi geopolitik global.
Baca juga: Purbaya Setuju MBG Dipangkas Jadi 5 Hari, BGN: Kecuali Daerah 3T, Tingginya Stunting Jadi Alasan
Pemerintah tidak tinggal diam menghadapi potensi tekanan eksternal. Berbagai skenario telah dihitung, termasuk kemungkinan harga minyak dunia mencapai rata-rata 100 dolar AS per barel hingga akhir tahun.
Meski demikian, Purbaya menegaskan bahwa kondisi fiskal tetap dalam kendali.
“Hitungan kita sekarang sampai 100 dollar rata-rata sampai akhir tahun pun anggaran kita tetap berkesinambungan dan defisitnya masih terkendali,” kata dia.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan Republik Indonesia, defisit APBN hingga akhir Februari 2026 mencapai Rp135,7 triliun atau sekitar 0,5 persen dari PDB.
Angka ini memang meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya Rp30,7 triliun atau 0,13 persen dari PDB. Namun pemerintah menilai peningkatan tersebut masih dalam batas yang dapat dikendalikan.
Dari sisi penerimaan, kinerja APBN menunjukkan tren positif. Hingga Februari 2026, pendapatan negara mencapai Rp358 triliun atau 11,4 persen dari target tahunan.
Rinciannya:
Angka tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Pengumpulan pajak di dua bulan pertama 2026 ini tumbuh 30 persen. Kita akan pastikan itu akan stabil terus ke depan,” ujar Purbaya.
Baca juga: Purbaya Bongkar Aksi Oknum Nakal yang Sengaja Bikin Coretax Error: Ada Pengkhianat di Kemenkeu!
Di sisi lain, realisasi belanja negara juga mengalami lonjakan. Hingga Februari 2026, belanja mencapai Rp493,8 triliun atau sekitar 12,8 persen dari total pagu APBN.
Angka ini meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp348,1 triliun. Kenaikan ini mencerminkan upaya pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan sekaligus merespons kebutuhan ekonomi domestik.
Pemerintah menegaskan bahwa pengelolaan APBN dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, namun tetap fleksibel untuk merespons dinamika global.
Di satu sisi, disiplin fiskal dijaga agar defisit tidak melebar terlalu jauh. Di sisi lain, ruang anggaran tetap disiapkan untuk menghadapi potensi krisis, termasuk gejolak harga energi dan tekanan eksternal lainnya.
Melalui berbagai indikator tersebut, pemerintah mencoba memberikan sinyal optimisme kepada masyarakat. Meski tantangan global masih besar, kondisi keuangan negara dinilai tetap stabil dan terkendali.
Dengan perencanaan yang matang hingga akhir tahun, pemerintah berharap APBN tetap mampu menjadi penopang utama stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian dunia.
***
(TribunTrends/Kompas)