Dipicu Kenaikan Harga Cabai Rawit Sulsel Inflasi 0,59 Persen Maret 2026
Alfian April 01, 2026 04:21 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mencatat inflasi Sulsel secara bulan ke bulan (month-to-month) pada Maret 2026 sebesar 0,59 persen.

Inflasi Maret 2026 ini didorong oleh lonjakan harga sejumlah komoditas pangan, terutama cabai rawit.

Kepala BPS Sulsel, Aryanto, menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi. 

Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 1,95 persen dengan andil mencapai 0,61 persen terhadap inflasi bulanan.

“Komoditas penyumbang utama inflasi kelompok ini adalah cabai rawit sebesar 0,10 persen,” kata Aryanto, dalam konferensi pers yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube BPS Sulsel, Rabu (1/4/2026).

Baca juga: Timur Tengah Memanas, Pemprov Sulsel Siaga Jaga Stok Pangan dan Inflasi

Selain kelompok pangan, inflasi juga didorong oleh kelompok transportasi yang mengalami kenaikan sebesar 0,25 persen dengan andil 0,03 persen. 

Kelompok pakaian dan alas kaki mencatat inflasi 0,17 persen dengan andil 0,01 persen, sementara kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami inflasi 0,12 persen dengan andil 0,01 persen.

Di sisi lain, Aryanto mengungkapkan terdapat beberapa kelompok yang justru mengalami penurunan harga. 

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya tercatat mengalami deflasi sebesar 0,66 persen dengan andil minus 0,06 persen. 

Sementara itu, kelompok kesehatan juga mengalami deflasi sebesar 0,33 persen dengan andil minus 0,01 persen.

Secara komoditas, kenaikan harga cabai rawit menjadi faktor utama yang mendorong inflasi pada Maret 2026. 

Komoditas ini mengalami kenaikan harga sebesar 25,01 persen dan memberikan andil sebesar 0,10 persen terhadap inflasi. 

Selain itu, harga tomat juga melonjak hingga 34,60 persen dengan andil 0,08 persen.

Aryanto menambahkan, sejumlah komoditas lain seperti telur ayam ras dan daging ayam ras juga turut memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi, masing-masing dengan kenaikan harga sebesar 5,73 persen dan 5,46 persen. 

Kenaikan harga juga terjadi pada jagung manis, pepaya, dan ikan bandeng, serta beberapa komoditas lain seperti bensin, asam, dan ikan layang meski dengan andil yang relatif lebih kecil.

Namun demikian, tekanan inflasi sedikit tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas. 

Emas perhiasan tercatat mengalami deflasi sebesar 1,85 persen dengan andil minus 0,05 persen. 

Penurunan harga juga terjadi pada angkutan udara sebesar 2,33 persen, mobil sebesar 0,77 persen, serta wortel yang turun cukup dalam sebesar 10,65 persen. 

Beberapa komoditas lain seperti ikan cakalang, sampo, obat gosok, ikan teri, dan pengharum cucian juga mengalami penurunan harga dengan kontribusi kecil terhadap deflasi.

Inflasi Tahun ke Tahun 4,50 Persen

Secara tahunan (year-on-year), inflasi di Sulsel pada Maret 2026 tercatat sebesar 4,50 persen dibandingkan Maret 2025. 

Aryanto menyebut, inflasi tahunan ini terutama dipengaruhi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 5,65 persen dengan andil 1,78 persen.

Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi cukup tinggi sebesar 16,55 persen dengan andil 1,32 persen. 

Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga memberikan kontribusi besar dengan inflasi 8,92 persen dan andil 1,21 persen.

Di tengah tekanan tersebut, beberapa kelompok pengeluaran justru menahan laju inflasi tahunan. 

Kelompok pakaian dan alas kaki mengalami deflasi sebesar 0,9 persen dengan andil minus 0,07 persen. 

Sementara itu, perlengkapan rumah tangga serta informasi dan komunikasi juga mengalami deflasi dalam setahun terakhir, meski dengan kontribusi yang relatif kecil.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.