Perang Iran Mencekik Warga Amerika Serikat, Harga BBM Tembus Rp 68 Ribu, Masyarakat Jadi Korban
Galuh Palupi April 01, 2026 02:38 PM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Konflik di Timur Tengah di mana Amerika Serikat ikut aktif ambil peran ternyata mencekik leher warganya sendiri.

Warga Amerika Serikat mulai merasakan dampak nyata akibat melonjaknya harga BBM di negara mereka.

Harga BBM di AS per Senin (30/3/2026) sudah tembus hingga ke angka tertinggi sejak 2022, mencapai US$4 atau sekitar Rp 68 ribu per galon.

Kondisi ini mengingatkan pada situasi serupa yang terjadi ketika Rusia menginvansi Ukraina pada 2022 silam.

DEMO BESAR AMERIKA - Aksi warga Amerika mengejek Trump dalam aksi No King pada Sabtu (28/3/2026) (Youtube/CNBC TV)

"Perang yang pecah tiba-tiba ini langsung memukul harga bensin."

"Situasinya hampir sama dengan tahun 2022, di mana harga minyak dunia meroket dan cadangan darurat harus mulai dikerahkan," ungkap Pavel Molchanov, analis dari Raymond James, mengutip Reuters.

Baca juga: Prabowo dan PM Jepang Siap Turun Tangan Mediasi Perang Iran vs Amerika: Kami Siap Jadi Penengah!

Bagi warga Amerika, melonjaknya harga BBM ini adalah beban nyata terhadap finansial rumah tangga mereka.

Survei menunjukkan sekitar 55 persen dari responden mulai merasakan perubahan yang signifikan dari keuangan keluarga.

Bahkan, 21 persen di antaranya mengaku sangat terpukul.

Ekonom Jeremy Siegel dari WisdomTree menyebutkan bahwa bensin adalah indikator ekonomi yang paling terlihat oleh konsumen.

Begitu harganya melonjak, psikologi pasar akan langsung bereaksi negatif.

Untuk menghadapi tekanan ini, pemerintahan Trump tidak tinggal diam.

Pemerintah AS telah mengeluarkan kebijakan darurat berupa penangguhan Jones Act selama 60 hari.

Langkah ini mengizinkan kapal asing untuk mengangkut bahan bakar antarpelabuhan di AS demi memperlancar distribusi.

Namun, banyak pihak meragukan efektivitas kebijakan tersebut.

Selama ketegangan di Selat Hormuz belum mereda, harga minyak mentah dunia diprediksi akan tetap fluktuatif.

Pada Senin kemarin, harga minyak AS ditutup pada level US$102,88 per barel, naik signifikan menyusul laporan adanya serangan terhadap kapal tanker di pelabuhan Dubai.

Baca juga: Amerika Serikat Tambah Musuh! Langit Spanyol Bergemuruh Hadang Jet Tempur AS yang Mau ke Iran

Peringatan dari IMF

Pidato Pelantikan Donald Trump sebagai Presiden AS
Pidato Pelantikan Donald Trump sebagai Presiden AS (Tangkapan Layar Video X/Twitter)

Dana Moneter Internasional (IMF) baru saja merilis peringatan keras tentang memanasnya konflik di Timur Tengah.

IMF menyebut jika ketegangan di wilayah Teluk tidak segera mereda, ekonomi dunia bakal kena hantam dua arah: harga barang-barang melonjak drastis dan pertumbuhan ekonomi yang melambat alias "loyo".

"Semua jalan mengarah pada harga yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat di seluruh dunia," tulis laporan terbaru IMF, Senin (30/3/2026), mengutip The Guardian.

Konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran, ditambah ancaman serangan terhadap infrastruktur energi, diprediksi akan menyumbat jalur perdagangan utama.

Jika pasokan minyak, gas, hingga pupuk dari Teluk terhambat, dampaknya bakal terasa sampai ke dapur masyarakat di seluruh dunia.

Bukan cuma soal bensin yang mahal, harga pangan pun diprediksi akan ikut terbang karena mahalnya biaya pupuk dan transportasi.

Bagi negara-negara dengan utang tinggi, kondisi ini bakal makin mencekik karena pemerintah tidak punya cukup dana "cadangan" untuk memberikan subsidi atau bantuan sosial. (Tribun Trends/Tribunnews/Whiesa)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.