TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA - Dampak konflik di Timur Tengah terhadap harga minyak dunia mulai dirasakan di berbagai sektor, termasuk pendidikan.
Sejumlah wacana pun muncul untuk menghemat energi. Salah satunya ialah kemungkinan pembelajaran daring (online) di sekolah.
Diketahui, langkah ini dilakukan untuk mengurangi mobilitas masyarakat, terutama penggunaan kendaraan yang berkontribusi pada konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
Namun, pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menegaskan, sekolah tetap akan berjalan secara tatap muka.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah, M. Reza Prabowo, menyampaikan sikap resmi pemerintah terkait isu ini.
“Tidak, jadi Pak Gubernur memberikan penegasan lagi, bahwa untuk sekolah tidak ada pengurangan jam belajar,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).
Lebih lanjut, Reza menekankan pentingnya kegiatan ekstrakurikuler dalam pembelajaran tatap muka.
"Justru malah harus kita tingkatkan dengan adanya kegiatan ekstrakurikuler yang harus kita lebih masifkan lagi, dan tentunya setiap warga sekolah harus menaati itu,” tambahnya.
Ia juga menegaskan hak-hak siswa tetap dipenuhi meski ada tekanan global terhadap energi.
“Kemampuan daerah kita cukup untuk mendukung alokasi di sekolah. Jadi, tidak ada yang berkurang,” jelas Reza.
Mengenai kebijakan efisiensi energi di instansi lain, Reza menjelaskan perbedaannya dengan pendidikan.
Baca juga: Harga BBM Tak Naik 1 April 2026, Driver Ojol di Sampit Kotim: Kalau Naik, Saya Bisa Berhenti Narik
Baca juga: Disdik Kalteng Bersiap Melaksanakan TKA Perdana, Minimalisir Kekhawatiran Peserta Didik
“Tapi untuk satuan-satuan lain seperti mungkin dinas-dinas lain yang tertentu, nah itu kebijakan dari Bapak Gubernur. Tapi kebijakan di dunia pendidikan tidak ada pengurangan hari atau misalnya di online kan tidak, tidak ada,” katanya.
Ia menegaskan, kesiapan untuk pembelajaran daring memang ada, tapi gubernur memilih mempertahankan tatap muka.
“Kalau bicara siap, sebenarnya kita siap untuk online. Tapi Bapak Gubernur tidak menginginkan itu. Beliau ingin pembelajaran tetap muka sehingga pembentukan karakter itu bisa lebih tertanam lagi, tertancap lagi kepada anak-anak kita,” pungkasnya.