TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Gunungan sampah dengan tinggi sekitar 6 meter di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur tidak hanya dikeluhkan pedagang, pembeli, dan warga sekitar.
Para sopir truk angkut sayur mayur yang setiap harinya mengantarkan muatan ke Pasar Induk Kramat Jati turut mengeluhkan gunungan sampah dengan tinggi sekitar 6 meter.
Sopir truk di Pasar Induk Kramat Jati, Aden (27) mengatakan akibat gunungan sampah waktu proses bongkar muat dan biaya parkir yang harus dibayarkan membengkak.
"Normalnya bongkar itu dua jam, sekarang masuk jam 05.00 WIB saja jam 10.00 WIB belum selesai. Kita rugi karena bayar parkir makin mahal," kata Aden di Jakarta Timur, Rabu (1/4/2026).
Lama waktu bongkar muat tersebut akibat para sopir truk harus antre menunggu proses pengangkutan sampah dari tempat pembuangan sementara (TPS) ke truk angkut Dinas Lingkungan Hidup DKI.
Penyempitan kondisi akses jalan akibat tumpukan sampah juga menjadi kendala, karena tumpukan sampah meluber hingga menyerobot satu lajur akses jalan di Pasar Induk Kramat Jati.
Hal ini yang membuat waktu proses bongkar muat menjadi lama dan biaya parkir melonjak, sementara setiap harinya para sopir truk harus mengangkut muatan ke lapak-lapak pedagang.
"Jadi lama, harus antre sama truk sampah. Biasa kita bayar parkir di bawah Rp20 ribu sekarang karena proses bongkar muat lama jadi sekarang bayar parkir bisa sampai Rp30 ribu lebih," ujarnya.
Aden menuturkan nahalnya tarif parkir yang harus dibayarkan para sopir truk di Pasar Induk Kramat Jati, karena mereka harus merogoh kantong pribadi untuk membayar tarif parkir.
Untuk mensiasati membengkaknya biaya parkir, sejumlah sopir truk sayur mayur terpaksa harus meminta uang tambahan kepada para pedagang di Pasar Induk Kramat Jati.
"Kalau dikasih atau enggaknya ya tergantung orangnya. Kadang kita juga minta sama pedagang, ya mau enggak mau. Karena buat bayar parkir sekarang jadi mahal," tuturnya.