TRIBUNNEWS.COM - Irak menjadi tim terakhir yang memastikan diri lolos ke putaran final Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Kelolosan Irak tak lepas dari kemenangan yang mereka raih saat menghadapi Bolivia di babak playoff, Rabu (1/4/2026).
Irak mengalahkan Bolivia dengan skor tipis 2-1 lewat gol dari Ali Al Hamadi dan Ayman Hussein.
Tim berjuluk Singa Mesopotamia ini akan menempati Grup I di putaran final Piala Dunia mendatang.
Baca juga: Pemain Persib Frans Putros Antarkan Timnas Irak Lolos Piala Dunia 2026
Mereka akan satu grup bersama Prancis, Norwegia, dan Senegal yang menjadi lawan selanjutnya.
Kelolosan Irak tentu saja menambah kuota negara Asia yang berhak tampil di ajang sepak bola termegah sejagad tersebut.
Nantinya, Asia akan memiliki 8 wakil yang tampil di putaran final.
Jika Australia ikut dihitung sebagai wakil Asia juga, maka jumlahnya akan bertambah menjadi 9 wakil.
Standar yang luar biasa bagi Benua Kuning untuk menyambut event ini.
Negara-negara di Asia setidaknya memiliki peluang untuk melaju jauh di turnamen empat tahunan ini.
Namun, kelolosan Irak ke Piala Dunia tak menghentikan masalah yang saat ini masih menyelimuti event itu.
Masalah yang dimaksud adalah soal kepastian nasib Iran untuk tampil di Piala Dunia 2026 mendatang.
Baru-baru ini, Presiden FIFA, Gianni Infantino, menghadiri sebuah laga persahabatan yang digelar Iran dan Kosta Rika.
Infantino mengatakan Iran pasti akan bermain di Piala Dunia 2026 nantinya.
Tak cuma itu, Iran juga akan bermain di venue yang sesuai dengan hasil drawing mereka.
"Iran akan bermain di Piala Dunia," kata Infantino dikutop dari RTHK.
"Itulah mengapa kami (FIFA) di sini. Kami bangga karena Iran adalah tim yang sangat, sangat kuat. Saya senang."
"Saya sudah melihat mereka bertanding. Saya juga sudah berbicara dengan para pemain dan pelatih, semuanya baik-baik saja," sambungnya.
Pada putaran final nanti, Iran akan berada di Grup G.
Mereka akan bermain menghadapi Belgia, Mesir, dan Selandia Baru sebagai pesaing di fase grup.
Sejauh ini, hasil drawing pertandingan-pertandingan mereka membuat mereka akan bermain di Amerika Serikat.
Padahal situasi Iran dan Amerika Serikat secara geopolitik sedang tidak baik-baik saja.
Pada Rabu (11/3/2026) Menteri Olahraga Iran, Ahmad Donyamali menekankan ketidakmungkinan bagi tim nasional putra untuk bermain di Amerika Serikat.
Iran sejatinya akan memulai langkah di Piala Dunia 2026 melawan Selandia Baru (16/6), dan kemudian Belgia (22/3) di venue yang sama, yakni SoFi Stadium, bagian barat kota Los Angeles, Amerika Serikat.
Empat hari kemudian, Iran akan menghadapi Mesir di Seattle, Washington.
Alasan pengunduran diri Iran tak lepas dari ketegangan perang yang terjadi saat ini antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
"Karena pemerintah korup ini telah membunuh pemimpin kami, kami tidak berniat untuk berpartisipasi dalam Piala Dunia (2026)," ucap Donyamali dikutip dari Goal Internasional.
Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei dinyatakan meninggal dunia pada 28 Februari lalu, dan kemudian digantikan oleh putranya, Mojtaba dalam pemerintahan saat ini.
"Dua perang telah menimpa kami dalam delapan atau sembilan bulan dan beberapa ribu warga negara kami telah tewas."
"Oleh karena itu, kami tidak memiliki peluang untuk berpartisipasi dengan cara ini," tegas Ahmad Donyamali.
Setelah itu, Presiden FIFA mencoba melakukan lobi kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Menurut Infantino, Trump bakal menjamin Iran bisa mengikuti Piala Dunia.
Namun pada pernyataan yang ia keluarkan juga, Trump lebih menekankan Iran tak ke Amerika Serikat demi keselamatan mereka sendiri.
Hingga kini, belum ada kepastian dari nasib Iran soal mengikuti Piala Dunia atau tidak.
(Tribunnews.com/Guruh, Sina)