SURYA.CO.ID, LAMONGAN - Informasi mengenai pembatasan pembelian BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Solar mulai memicu keresahan bagi warga di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur (Jatim). Kebijakan yang membatasi pembelian BBM bersubsidi maksimal 50 liter per hari ini, menjadi perbincangan hangat di berbagai tempat, Rabu (1/4/2026).
Meskipun aktivitas di sejumlah SPBU terpantau masih berjalan normal hingga 1 April 2026, keresahan warga terhadap pembatasan mobilitas tidak dapat dihindarkan. Masyarakat kini mulai berhitung ulang mengenai pengeluaran dan frekuensi perjalanan mereka akibat aturan baru tersebut.
Kebijakan baru ini didasari oleh alasan efisiensi energi nasional di tengah fluktuasi harga minyak mentah dunia. Berikut adalah poin-poin utama kebijakan tersebut:
Shofiyah (35), warga Lamongan, mengaku sangat khawatir aturan ini akan menghambat mobilitasnya. Ia merasa pembatasan transaksi BBM secara tidak langsung memaksa masyarakat membatasi aktivitas ekonomi dan sosial mereka, karena harus berhitung ekstra sebelum bepergian.
Di sisi lain, petugas SPBU di Kota Lamongan menyatakan belum menerima instruksi teknis secara resmi. Kepala Shift SPBU Jetis, Andre Sujanto, menegaskan bahwa hingga saat ini pelayanan pengisian BBM masih berjalan normal tanpa kendala.
Pihak SPBU masih menunggu surat edaran resmi sebagai landasan hukum untuk menerapkan pembatasan di lapangan.
Meski demikian, Andre memastikan bahwa stok BBM di wilayah Lamongan saat ini dalam kondisi aman dan tidak terjadi kelangkaan.
Langkah BPH Migas membatasi kuota harian BBM subsidi, merupakan bagian dari transformasi subsidi tepat sasaran yang telah diinisiasi sejak beberapa tahun lalu. Sebelumnya, pemerintah telah memperkenalkan sistem pendaftaran melalui QR Code MyPertamina untuk memantau konsumsi BBM bersubsidi.
Kenaikan tensi konflik di Timur Tengah pada tahun 2026 ini, memberikan tekanan besar pada harga minyak global, sehingga pemerintah merasa perlu mengambil langkah preventif melalui Keputusan Kepala BPH Migas terbaru. Hal ini dilakukan, guna mencegah jebolnya anggaran subsidi energi dan memastikan distribusi BBM hanya digunakan untuk kebutuhan yang mendesak.
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan panic buying BBM, karena ketersediaan stok di SPBU dipastikan aman. Sebaiknya, pemilik kendaraan mulai membiasakan penggunaan aplikasi resmi yang ditunjuk pemerintah untuk memudahkan proses verifikasi saat pengisian. Selain itu, mulailah menerapkan pola berkendara hemat energi (eco-driving) untuk mengoptimalkan penggunaan kuota 50 liter per hari tersebut.