Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Tumpukan adonan kue soes berjejer rapi di atas loyang, membentuk barisan kecil bersiap masuk ke dalam oven. Lalu mengembang sempurna setelah menjadi hidangan lezat.
Suasana hangat rumah produksi Bakes Sist di Jalan Kopi Arabika, Gedong Meneng, Kota Bandar Lampung pada Rabu (1/4/2026).
Di balik rumah produksi tersebut ada sosok wanita muda yang bernama Qintara Faiza Rangkuti (23), selaku owner dari Bakes Sist.
Dia membangun bisnisnya itu berawal dari hobi. Kini kegemarannya membuat kue malah mendatangkan bisnis dengan omzet jutaan rupiah per bulan.
Padahal awalnya Tara, sapaan akrab Qintara Rangkuti, hanya membantu sang tante membuat kue yang kemudian tumbuh jadi hobi. Lantas, dia memberanikan diri jualan kue sendiri setelah lulus dari jenjang perguruan tinggi.
Baca juga: Berawal dari Garasi Rumah, Idew Bakery Kini Jual Ribuan Toples Kue Lebaran
Nama “Bakes Sist” bukan tanpa makna. Brand ini lahir dari bisnis antara dirinya sendiri dan dua sepupunya. “Makanya ‘sist’ dari sister, karena ini bisnis bareng sepupu,” ungkap Tara Rabu (1/4/2026).
Saat ini Tara hanya fokus menjual dagangannya di carfreeday dan by order dari rumah.
Produk kue soes milik Tara hanya bertahan selama satu hari saja di suhu ruangan. Jadi dia menyarankan untuk langsung dimakan.
“Kalau sudah pakai fla, awetnya cuma sehari. Jadi memang harus langsung dimakan biar dapat sensasi terbaiknya,” ujar Tara.
Di tengah persaingan ketat jajanan di Car Free Day, Tara menyadari bahwa produk “biasa” tidak cukup. Ia sempat menjual bolu, namun kurang diminati karena terlalu umum. Dari situ, ia memutar arah.
“Ini sebenarnya produk biasa, yaitu kue soes. Tapi aku bikin beda di krimnya, pakai fla yang rasanya lebih ‘mahal’. Dari situ orang mulai notice dan beli,” jelasnya.
Strategi ini terbukti efektif. Dalam 3-4 jam Car Free Day, dirinya bisa menjual lebih dari 300 produk, bahkan mendekati 500 item termasuk pastry.
All item ia jual dengan harga Rp.5.000, harga yang masih cukup terjangkau dengan kualitas produk yang premium.
Menariknya, perjalanan Tara di dunia bakery tidak dimulai dari mimpi besar, melainkan dari kebiasaan kecil yang “terpaksa”.
“Dulu setiap pulang sekolah aku ke rumah tante. Dia hobi baking, jadi aku disuruh bantu. Dari situ malah jadi penasaran dan akhirnya nemu passion,” kenangnya.
Sejak usia 15 tahun, ia sudah mulai membuat kue. Namun baru satu tahun terakhir ia serius menekuni bisnis ini setelah lulus.
Meski terlihat manis, dunia baking punya tantangan teknis tinggi. Salah satunya saat membuat sourdough.“Ini yang paling susah. Timing harus pas, suhu harus pas. Salah sedikit bisa gagal semua,” ujarnya.
Namun tantangan terbesar justru bukan di dapur, melainkan di konsistensi pemasaran. “Minus kami sebenarnya di marketing. Kadang malas. Padahal permintaan ada terus,” tuturnya.
Dalam sebulan, Tara mengaku bisa meraih keuntungan bersih sekitar Rp 4,5–5 juta hanya dari 4 kali Car Free Day yang digelar seminggu sekali.
“Sekali jualan bisa nyentuh Rp 2 juta. Jadi sebulan bisa sampai segitu bersihnya,” jelasnya.
Angka ini belum termasuk pesanan by order yang terus berdatangan, bahkan saat ia sedang menutup order. Tak berhenti di penjualan, Tara juga membuka kelas baking bersama tantenya.
Mulai dari sus, jajanan pasar, sourdough, hingga dessert modern seperti burnt cheesecake. Baginya, bisnis ini bukan hanya soal keuntungan, tapi juga membuka peluang bagi orang lain.
“Kalau usaha berkembang, kita bisa tambah karyawan. Itu jadi kebahagiaan sendiri karena bisa bantu orang lain,” katanya.
Ke depan, Tara ingin Bakes Sist lebih dikenal luas dan memperbaiki strategi marketing agar bisnisnya bisa naik level.
“Semoga kami bisa lebih konsisten, terutama di marketing, dan bisa dikenal banyak orang,” tutupnya.
(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)