(Penulis: Yunima Hasan, Mahasiswa Magang Jurnalistik UNG)
TRIBUNGORONTALO.COM – Mahasiswi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menyuguhkan penampilan memukau Tarian Tidi Lo Ayabu untuk menyambut kedatangan Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) RI, Natalius Pigai, di Auditorium Kampus I, Rabu (1/4/2026).
Penyambutan sakral ini dilakukan sesaat sebelum Natalius Pigai memberikan kuliah umum di hadapan ratusan mahasiswa dan tamu undangan di kampus yang dikenal dengan julukan "Kampus Merah Maron" tersebut.
Pantauan TribunGorontalo.com di lokasi, lima penari tampil penuh percaya diri di atas panggung beralas biru. Mereka membentuk formasi setengah lingkaran yang apik, sembari memainkan kipas warna-warni mulai dari merah, kuning, hijau, hingga ungu.
Perpaduan gerakan yang anggun serta kostum tradisional yang mencolok nan elegan membuat suasana auditorium terasa begitu sakral namun meriah. Rok panjang yang mengembang dan hiasan kepala khas daerah semakin mempertegas nuansa budaya Gorontalo yang kental.
Tak hanya tamu undangan yang duduk di sofa barisan depan, ratusan mahasiswa yang memadati ruangan pun tampak terhipnotis. Banyak dari mereka yang spontan merogoh saku dan mengangkat ponsel untuk mengabadikan momen estetik tersebut.
"Bagus sekali kostum dan gerakannya ya," ujar salah seorang mahsiswa yang hadir di lokasi.
Ayunan tangan yang lembut serta suara bukaan kipas yang ritmis menciptakan harmoni yang menenangkan di tengah padatnya jadwal kegiatan akademik pagi tadi.
Baca juga: UNG Jadi Tuan Rumah Penguatan Kapasitas HAM, Eduart Wolok: Momentum Seperti Ini Jangan Disia-siakan
Sebagai informasi, Tidi Lo Ayabu bukan sekadar tarian biasa. Tari ini merupakan warisan leluhur Gorontalo yang biasanya dibawakan oleh kaum perempuan sebagai simbol penghormatan kepada tamu agung yang datang ke Bumi Serambi Madinah.
Gerakan yang anggun dalam tarian ini mencerminkan kelembutan, kesopanan, serta keramahan masyarakat Gorontalo dalam menjamu tamu.
Penampilan mahasiswi UNG ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa tidak hanya fokus pada urusan akademik semata, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menjaga dan melestarikan budaya daerah di tingkat nasional.
Usai penampilan berakhir, gemuruh tepuk tangan panjang menggema di seluruh penjuru auditorium sebagai bentuk apresiasi luar biasa bagi para penari yang telah tampil memukau sebelum agenda kuliah umum dimulai. (***)